Wednesday, 21 October 2026


Salurkan KUR Alsintan, Bank Sumsel Babel Kecil tapi Pioneer

09 Dec 2022, 06:55 WIBEditor : Yulianto

Pemerintah dorong penyerapan KUR alsintan

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Dibandingkan dengan bank anggota Himbara, Bank Sumsel Babel terbilang kecil. Dari namanya saja, bank milik pemerintah daerah tersebut lebih banyak memberikan pelayanan untuk masyarakat di daerah tersebut. Namun jangan sangka, justru bank tersebut menjadi pioner dalam pengembangan Kredit Usaha Rakyat (KUR) pertanian, khususnya alat mesin pertanian (alsintan).

Direktur Bisnis Bank Sumsel Babel, Antonius Prabowo Argo mengatakan, Bank Sumsel Babel adalah bank daerah yang dimiliki pemerintahan provinsi dan kota/kabupaten se Sumatera Selatan dan Bangka Belitung. “Jadi memang berbeda dengan Bank BNI, Bank Mandiri yang jangkaunya nasional. Tapi walaupun bank daerah, kami tidak mau kalah sama bank-bank yang lebih besar, bank Himbara,” katanya.

Dalam penyaluran KUR, Bank Sumsel Babel ini cukup tinggi. Jika pada tahun 2018 penyerapan KUR hanya Rp 100 miliar, pada tahun 2022 sudah mencapai Rp 1,7-1,8 triliun dari target sebanyak Rp 1,5 triliun. Menariknya, dari total penyaluran tersebut justru hampir 52 persen untuk usaha pertanian dan perburuan kehutanan sebanyak Rp 876,4 miliar. Sedangkan usaha perikanan Rp 50,8 miliar (3 persen). “Peningkatannya cukup baik. Apalagi kami baru menyalurkan KUR ini memasuki tahun ke-4,” ujarnya.

Tingginya penyaluran KUR pertanian menurut Antonius, sesuai Misi Bank Sumsel Babel yaitu membantu mengembangkan potensi dan meningkatkan pertumbuhan perekonomian daerah dan ekonomi petani. Apalagi Pemerintah Daerah Sumsel juga telah menargetkan pada musim tanam 2021/2022 luas pertanaman padi bisa mencapai 150 ribu hektar (ha).

Saat ini kata Antonius, Sumsel menjadi penyumbang  beras kelima. Namun Gubernur Sumsel menargetkan Sumsel bisa menempati posis keempat atau ketiga sebagai penyumbang beras nasional. Karena itu, bukan hanya produktivitas yang dinaikkan, tapi juga penambahan luas areal tanam. “Jadi bagaimana kita bisa mencapai 150.000 hektar pada waktu tanam ini. Semua itu perlu dukungan KUR,” ujarnya.

Cicilan Suka-suka

Bank Sumsel Babel juga telah penyaluran KUR untuk alat mesin pertanian (Alsintan). Bank terbilang menjadi pioneer dalam pengembangan pinjaman pelaku bisnis mekanisasi tersebut. “Motivasi kami dengan KUR alsintan ini mendorong penyerapan KUR Bank Sumsel Babel dan mendukung mekanisasi pertanian,” katanya.

Untuk KUR alsintan, Antonius menjelaskan, plafond kredit maksimal sebesar Rp 500 juta atau maksimum 80 persen dari harga alsintan per debitur. Perhitungan Plafond kredit disesuaikan dengan harga alsintan dan analisa pemberian kredit yang dilakukan bank. Sedangkan uang muka minimal sebesar 20 persen dari harga alsintan.

“Kami memberikan jangka waktu kredit maksimal 60 bulan. Bahkan kami tidak mengenakan biaya administrasi dan biaya provisi. Selain itu, kami juga memberikan asuransi kredit. Ini menjadi kelebihan kami dibandingkan yang lain,” tuturnya.

Untuk cicilan, Bank Sumsel Babel menerapkan metode pembayaran bisa setelah atau reguler setiap bulan. Pihaknya juga punya sistem, debitur bisa membayar cicilan suka-suka. Misalnya, jika sedang ada dana Rp 10 juta, maka bisa mencicil Rp 10 juta. “Jika bulan depan mungkin ada dana Rp 20 juta, bisa bayar Rp 20 juta. Jadi kami menggunakan pola fleksibel sesuai seberapa besar pendapatan yang dimiliki para petani atau pengelola alsintan,” tambahnya.

Antonius berharap, ke depan pemerintah segera mengeluarkan Peraturan Menteri sebagai pedoman. Untuk saat ini, Bank Sumsel Babel masih menggunakan plafon KUR kecil untuk pinjaman kredit alsintan dengan alokasi plafon maksimal Rp 500 juta dan uang muka 10-20 persen.

Selain itu, Bank Sumsel Babel juga mengembangkan KUR klaster. Di dalam klaster tersebut ada penyedia sarana dan prasarana untuk kebutuhan petani. Mekanisme KUR klaster ini, kata Antonius, pihaknya juga melibatkan BUMDes. “Kami anggap pola ini adalah yang terbaik untuk penyerapan KUR,” katanya.

Antonius mencontohkan, jika tiap petani hanya meminjam Rp 10 juta, maka dengan jumlah calon debitur yang banyak, bank akan kesulitan. Namun dengan mengelola dalam klaster dan ada koordinatornya akan lebih mudah menanganinya. “Dalam pola klaster kami sekarang mengajak penyuluh pertanian. Tahun ini kami sudah mengajak sebanyak 2 ribu penyuluh yang mengelola kelompok tani untuk membantu mengajukan KUR,” ujarnya.

Reporter : Echa
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018