Jumat, 14 Juni 2024


Serangan OPT Meledak, Ini Rekomendasi dari Jatisari

31 Jul 2023, 08:18 WIBEditor : Yulianto

Pengamatan hama secara dini hindari serangan OPT meledak | Sumber Foto:Dok. Sinta

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Pengendalian hama yang tidak optimal, terutama akibat penggunaan pestisida berlebihan dan tidak selektif, menyebabkan munculnya resistensi pada organisme pengganggu tanaman (OPT). Namun, harapan akan solusi efektif muncul dengan inovasi terbaru dari Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tanaman (BBPOPT) Jatisari, Karawang.

Hama dan penyakit ibarat tamu petani yang datang tiap musim tanam tiba. Bahkan dengan adanya perubahan iklim yang terjadi saat ini, ancaman serangan OPT kian serius. Kepala BBPOPT, Yuris Tiyanto melihat di masa kini terjadi ledakan hama di mana-mana, karena pengendalian hama yang tidak dilakukan optimal.

“Selama ini yang saya amati di lapangan, terjadi ledakan (hama) dimana-mana karena tanaman tidak serempak, dari waktu tanam hingga indeks pertanaman yang tidak merata,” katanya saat Bimtek: Cegah Resistensi, Bijak Gunakan Pestisida yang diselenggarakan Tabloid Sinar Tani bersama BASF di Jakarta, Rabu (26/7).

Menurutnya, keefektifan dari pestisida dalam menekan OPT juga menentukan ledakan hama tersebut juga harus diperhatikan. Selama ini petani banyak menggunakan pestisida kimia karena mempunyai kelebihan dapat diaplikasikan dengan mudah dan hasilnya dapat dirasakan dalam waktu yang relatif singkat, serta dapat diaplikasikan dalam areal yang luas.

Namun dalam penggunaannya, Yuris mengungkapkan, petani sering menyalahi aturan. Misalnya, menggunakan pestisida kimia dalam dosis yang melebihi takaran, bahkan mencampur beberapa jenis pestisida kimia dengan alasan untuk meningkatkan daya racun pada hama dan penyakit tanaman. “Dosis yang digunakan pun seolah tidak diperdulikan lagi dengan asumsi agar OPT bisa dikendalikan,” tambahnya.

Idealnya menurut Yuris, pestisida kimia dapat membunuh serangga pembawa penyakit dan hama pada tanaman, tetapi tidak beracun bagi manusia dan makhluk hidup lainnya yang bukan merupakan target. Tapi, kenyataannya justru penggunaan pestisida kimia yang berlebihan berdampak negatif. Diantaranya, terjadi peracunan terhadap musuh alami dan organisme bukan target, serta resistensi OPT terhadap pestisida.

“Resistensi adalah sifat kebal terhadap bahan tertentu yang diperoleh OPT dari kemampuan adaptasi dan evolusi untuk mempertahankan hidup dari paparan zat kimia,” urainya. Dengan adanya resistensi terhadap pestisida ini, petani harus mengeluarkan biaya lebih lagi untuk meningkatkan upaya untuk mengendalikan hama.  

“Penggunaan pestisida seharusnya secara selektif agar musuh alami dan OPT lain bukan sasaran tidak hilang. Informasi kontra indikatif terhadap musuh alami tanaman seperti ini yang jarang sekali ada di label kemasan dari pestisida yang dijual bebas dan dipakai petani,” tuturnya.

BACA JUGA: Cegah Resistensi, Bijak Gunakan Pestisida

Penggunaan pestisida berlebihan juga berdampak pada lingkungan dan kesehatan masyarakat. Seperti diketahui, pestisida adalah racun yang sangat berbahaya bagi manusia. Tubuh yang sudah terpapar pestisida kimia berdampak pada komponen yang ada dalam tubuh manusia, salah satunya darah. “Penggunaan pestisida kimia tidak haram, tetapi harus selektif dan tepat agar tidak menimbulkan dampak negatif,” katanya.

Strategi Pengendalian

BBPOPT telah membuat strategi pencegahan dan pengendalian yang efektif agar resistensi hama di lapangan dapat diminimalisir, bahkan dihindari sepenuhnya. Petani pun bisa menerapkan. Mulai dari memanfaatkan angka ramalan OPT sebagai persiapan dan panduan untuk menentukan kebijakan dalam pengendalian OPT.

Kemudian, melakukan pengendalian OPT berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, sehingga dapat mengambil tindakan yang tepat dan akurat. Jika OPT dibawah ambang pengendalian, maka petani bisa menggunakan Agensia Hayati dan Pestisida Nabati untuk mengurangi dampak terhadap lingkungan dan ekosistem.

Ditambah dengan penggunaan pestisida yang memenuhi 6 Tepat yaitu Tepat Sasaran, Tepat Mutu, Tepat Jenis, Tepat Waktu, Tepat Dosis dan Tepat Cara. “Dengan menggabungkan langkah-langkah ini, kita dapat menciptakan strategi pengendalian hama yang lebih efisien dan berkelanjutan untuk mendukung pertanian yang berkelanjutan dan lingkungan yang sehat,” pesannya.

Reporter : Gesha
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018