Kamis, 18 Juli 2024


Benih Unggul, Kunci Pengungkit Produksi

27 Jun 2024, 09:47 WIBEditor : Yulianto

Panen padi Pak Tiwi | Sumber Foto:dok. Sinta

TABLOIDSINARTANI.COM, Karawang---Di tengah ancaman perubahan iklim, pemerintah terus berupaya mempertahankan produksi pangan, khususnya padi. Salah satu faktor peningkatan produksi adalah benih unggul. Untuk menghasilkan benih varietas unggul, peran swasta sangat penting.

Salah satu swasta yang kini bermain menghasilkan benih padi inbrida adalah PT. Agri Makmur Pertiwi. Benih padi bermerek dagang Pak Tiwi tersebut sempat dilakukan uji tanam di Desa Jayamakmur, Kecamatan Jayakerta, Kabupaten Karawang. Dari hasil ubinan, produktivitas padi Pak Tiwi sebanyak 8,14 ton/ha.

Varietas ini merupakan perbaikan dari varietas sebelumnya Pak Tiwi 1. Perbedaan utama varietas Padi Pak Tiwi 2 adalah bulir padinya lebih besar dibandingkan Pak Tiwi 1. Benih Padi Sawah Pak Tiwi 2 telah dilepas berdasarkan Kepmentan No. 2435/Kpts/SR.120/7/2012.

Padi Pak Tiwi 2 merupakan benih unggul padi sawah dengan jumlah anakan lebih banyak, malai panjang, tahan rebah dan potensi hasilnya mencapai  10,3 ton/ha gabah kering giling (GKG). Kelebihan lain Pak Tiwi 2 ini bisa dipanen mulai 105-122 hari setelah semai. Nasinya juga pulen dan rasanya enak.

“Kelebihan Pak Tiwi 2 antara lain ketahanan terhadap penyakit, padinya bernas, bersih, produksinya tinggi, umurnya juga genjah, berasnya sangat pulen. Walaupun kami katakan baik, tentunya petani sendiri yang akan memilih.  Produktivitas rata-rata di atas 8 ton/ha,” tutur Menurut Direktur Utama PT. Agri Makmur Pertiwi, Junaidi Sungkono saat panen padi Pak Tiwi, Kamis (13/6).

Kelebihan Pak Tiwi 2

Mulyono Machmur, pemilik lahan di lokasi varietas padi Pak Tiwi 2 diuji tanam mengaku, varietas padi Pak Tiwi 2 membuktikan berbagai kelebihan yang dimiliki. Bukan hanya toleran terhadap serangan hama penyakit, tapi hasil produksi yang tinggi, bulir beras yang besar dan rasa nasi yang enak.

“Dengan input yang sama, tapi bisa memberikan hasil maksimal. Biasanya dengan varietas lain dapat 6 ton, tapi sekarang  dapat 8 ton lebih. Itu yang membuat saya gembira dan membuat teman-teman petani yang lain sekarang mengikuti untuk menanam Pak Tiwi 2,” ungkap Mulyono.

Berada di areal irigasi, Mulyono mengaku, di tengah ancaman El Nino para petani di Desa Jayamakmur tidak kekurangan air. Namun masalah terbesar yang dihadapi petani adalah serangan hama penyakit yang sangat luar biasa.

Selain serangan hama tikus, sebelumnya banyak pertanaman padi juga terserang hama sundep dan beluk. Serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) tersebut membuat petani harus ekstra melakukan pengendalian.

Kendala lain yang kini dihadapi petani menurut Mulyono, alokasi pupuk subsidi yang masih kurang. Petani hanya mendapatkan sekitar 1/3 dari alokasi yang diminta.. Namun petani berusaha mengatasi dengan memberikan pupuk organik.

Salah satunya Nutrizim yang merupakan pupuk organik kaya dengan mikroba. “Agar padi tidak hampa, saya tambah KNO3 dan MKP dan hasilnya berisi sampai punduk dan bernas,” tambahnya. 

Selain petani, panen padi Pak Tiwi 2 di Desa Jayamakmur juga diapreasiai penyuluh pertanian.  Hal tersebut diungkapkan Kepala UPTD Pertanian  Kecamatan Jayakerta, Trisna Gunawan disela kegiatan panen Padi Pak Tiwi 2.

“Kami sangat mengapresiasi adanya demplot padi Pak Tiwi 2 yang diadakan di Desa Jayamakmur, Kecamatan Jayakerta. Dari hasil demplot, kami dapat mengetahui bahwa Pak Tiwi 2 cocok dibudidayakan di Karawang,” ungkapnya.

Lebih lanjut menurut Trina, padi Pak Tiwi 2 ini adalah perbaikan dari pendahulunya Pak Tiwi 1. Padi Pak Tiwi 2 fisik yang lebih besar, tahan terhadap serangan hama penyakit dibanding varietas lain, rasa nasi yang pulen, dan pastinya produktivitas yang tinggi.

Trisna mengaku, timnya telah melakukan ubinan di lokasi pertanaman terhadap dua varietas yakni Pak Tiwi 2 dan varietas lainnya. Didapat, jumlah dapuran Pak Tiwi 2 sebanyak 56 dapur, anakan rata-rata 27, dan hasil ubinan 5,1 kg gabah atau sekitar 8,1 ton/ha.

Sedangkan ubinan untuk varietas lain didapat hasil dapuran 57, dengan anakan lebih sedikit hanya 19.  Meski varietas lain tersebut jumlah bulir lebih banyak, tapi banyak yang hampa, sehingga produktivitasnya kurang lebih 4 kg atau sekitar 6 ton/ha.

Menurut Trisna, sebetulnya tidak banyak kriteria benih yang diinginkan petani. Pertama benih tahan terhadap hama penyakit dan lebih berkualitas. Artinya dari segi fisik lebih bagus, bernas, biji lebih besar dan tidak ada perut atau putih di tengah biji. Selain itu, disukai petani dan tengkulak, karena harga gabah yang sama dengan umumnya.

Trisna berharap industri perbenihan bisa menjawab apa yang diinginkan petani, dan perbenihan bisa berkemabng sesuai dengan harapan petani. “Seperti Pak Tiwi 2 ini cukup memuaskan. Semoga dengan danya varietas baru ini bisa terus berkembang. Karena salah satu modal dalam pertanian adalah di perbenihan. Jika memiliki benih yang bagus dan berkualitas Insyallah hasilnya akan  berkualitas,” kata Trisna.

Direktur Perbenihan Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian, Gunawan menilai, produktivitas padi Pak Tiwi 2 sebesar 8,1 ton/ha sudah berada diatas produktivitas nasional. Hal tersebut membuktikan peran industri perbenihan dalam memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan produktivita.

“Harapannya juga petani bisa mendapatkan akses perbenihan bermutu berkualitas, sehingga bisa meningkatkan produksi dan pendapatan,” katanya kepada Tabloid Sinar Tani.

Reporter : Tim Sinta
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018