Sunday, 12 July 2026


Setelah Negeri Kangguru, Kini Giliran Negeri Bolywood Lirik Pupuk Indonesia

17 Apr 2026, 15:44 WIBEditor : Yulianto

Wamentan Sudaryono menerima Duta Besar India untuk Indonesia, Sandeep Chakravorty dan jajaran Pupuk Indonesia Holding Company (PIHC) di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, Kamis (16/4).

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Di tengah jalur perdagangan di Selat Hormuz tertutup, banyak negara di dunia kini kalang kabut. Termasuk, perdagangan sarana produksi pertanian, seperti pupuk. Kondisi tersebut justru membawa berkah, karena pupuk Urea Indonesia kini banyak dicari beberapa negara.

Setelah Rabu (15/4) Pemerintah Australia berkunjung ke Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono. Kamis (16/4) giliran Duta Besar India untuk Indonesia, Sandeep Chakravorty menemui Sudaryono yang juga Komisaris PT. Pupuk Indonesia Holding Company (PIHC) di Kantor Kementerian Pertanian.

Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono memastikan ketersediaan pupuk Indonesia aman di tengah ketegangan geopolitik yang menyebabkan terganggunya rantai pasok dunia. Bahkan, stok pupuk nasional mengalami surplus, sehingga membuka peluang ekspor ke sejumlah negara mitra, termasuk India.

“Inikan membuktikan bahwa kita punya ketahanan pupuk di tengah situasi perang ini, ketahanan pupuk kita kuat. Saya ingin menyampaikan kepada seluruh petani di Indonesia bahwa pupuk kita cukup dan tidak terpengaruh oleh kondisi perang, bahkan berlebih,” kata Wamentan Sudaryono.

Sudaryono mengungkapkan, ketahanan tersebut didukung oleh kapasitas produksi nasional yang besar. Saat ini total kapasitas produksi PT Pupuk Indonesia (Persero) mencapai 14,65 juta ton per tahun, yang terdiri dari urea sebesar 9,36 juta ton, NPK 4,52 juta ton, ZA 750 ribu ton, dan ZK 20 ribu ton per tahun. 

Namun, hasil perhitungan menunjukkan adanya potensi kelebihan pasokan yang dapat dimanfaatkan untuk ekspor secara terukur. Meski demikian, Wamentan Sudaryono menegaskan, pemerintah tetap memprioritaskan kebutuhan petani dalam negeri terlebih dahulu sebelum melakukan ekspor.

“Kita Indonesia akan mengutamakan kebutuhan pupuk dalam negeri. Setelah kita hitung, ada ekses atau kelebihan sekitar 1,5 juta ton yang bisa kita ekspor ke luar negeri,” jelasnya.

Lebih lanjut, Sudaryono menyampaikan, salah satu negara yang menunjukkan minat adalah India. Peluang ini dinilai selaras karena adanya perbedaan musim tanam antara kedua negara, sehingga tidak mengganggu distribusi pupuk dalam negeri.

“Pada prinsipnya, pemerintah Indonesia siap untuk kita bisa ekspor urea ke India, karena perbedaan musim tanam membuat pasokan tetap aman di dalam negeri,” katanya.

Duta Besar India untuk Indonesia, Sandeep Chakravorty, menyambut positif peluang kerja sama tersebut dan menegaskan kesiapan India untuk mengimpor pupuk dari Indonesia melalui skema antar pemerintah.

“Ada permintaan dari India untuk mengimpor pupuk dari Indonesia. Bapak Wamentan telah menyampaikan dengan sangat jelas bahwa ekspor hanya akan dilakukan setelah kebutuhan dalam negeri terpenuhi. Jika terdapat surplus, maka kami akan sangat senang untuk membelinya dari Indonesia melalui skema kerja sama antar pemerintah (G2G),” tuturnya.

 

Reporter : Indri
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018