Selasa, 26 Maret 2019


Beleid Baru Pupuk Organik

12 Mar 2019, 14:00 WIBEditor : Yul

Infografis

TABLOIDSINARTANI.COM, JAKARTA -- Ketergantungan petani terhadap pupuk anorganik ternyata sudah pada tahap mengkhawatirkan. Dampaknya pun mulai dirasakan petani karena kesuburan tanah makin menurun. Salah satu cara ‘menyehatkan’ kembali lahan pertanian adalah dengan menggunakan pupuk organik.

Nampak terlihat dari Sensus Pertanian Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2013, petani yang menggunakan pupuk anorganik mencapai 86,41%. Sementara, penggunaan pupuk berimbang (organik dan anorganik) hanya 13,5% dan organik 0,07%. Ini menunjukkan petani di Indonesia lebih tertarik menggunakan pupuk anorganik. Padahal di balik itu, ancaman terhadap pertanian Indonesia sangat besar.

Direktur Teknik dan Pengembangan PT Petrokimia Gresik, Arif Fauzan mengatakan, persoalannya bukan hanya masalah kesuburan tanah, penggunaan pupuk anorganik terutama N (Nitrogen) yang berlebihan juga menyebabkan perubahan iklim. Pada dasarnya N yang diserap tanah hanya 50%, sisanya menguap ke udara.

Arif menjelaskan, penggunaan pupuk anorganik yang berlebih tentu mempengaruhi kesuburan fisik, kesuburan biologi dan kesuburan kimia. Padahal idealnya kadar bahan organik di dalam tanah harus lebih dari 5%, populasi mikroba di dalamnya lebih dari 105 cfu/g bk, serta tersedianya unsur hara makro dan mikro. Dengan demikian akan didapat kesuburan tanah yang ideal.

“Sudah terbukti bahwa penggunaan pupuk anorganik terus-menerus dan berlebihan, kesuburan tanah menjadi berkurang karena C-Organik di dalam tanah rendah,” katanya. Mantan Menteri Pertanian, Bungaran Saragih juga menilai, penggunaan pupuk anorganik hanya bermanfaat jangka pendek.

Apalagi bahan baku pupuk tersebut berasal dari sumberdaya yang tidak dapat diperbaharui. “Karena itu pengembangan pupuk organik sangat strategis dan mendesak baik dalam jangka pendek, menengah dan panjang,” katanya.

Reporter : Clara
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018