Wednesday, 21 October 2026


Brigade Alsintan, Penggerak Laju Roda Alsintan di Lahan Rawa

27 May 2019, 06:02 WIBEditor : Yulianto

Mentan Amran Sulaiman saat kunjungan ke Batola

Saat berkunjungan ke Kabupaten Barito Kuala (Batola), Kalimantan Selatan, Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, sabtu (25/5) menegaskan, bantuan ekskaavator yang diberikan untuk mengoptimasi lahan rawa harus digunakan secara berkelompok seperti bri

TABLOIDSINARTANI.COM, Batola—Istilah brigade kini tak selalu identik dengan militer. Di dunia pertanian sekarang juga mengenal istilah tersebut. Namanya, Brigade Alsintan. Brigade tersebut dibentuk untuk memacu optimasi penggunaan alat mesin pertanian (alsintan). Apalagi dalam empat tahun terakhir, pemerintah menggelontorkan ratusan ribu unit alsintan ke petani. Diantarannya bantuan ekskavator di lahan rawa.

Data Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) jumlah ekskavator yang telah diterjunkan ke provinsi pengembangan lahan rawa yakni Sumatera Selatan sebanyak 71 unit, Kalimantan Selatan 67 unit ekskavator besar dan 16 unit ekskavator kecil, dan di Sulawesi Selatan sebanyak 25 unit ekskavator.

Saat berkunjungan ke Kabupaten Barito Kuala (Batola), Kalimantan Selatan, Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, sabtu (25/5) menegaskan, bantuan ekskaavator yang diberikan untuk mengoptimasi lahan rawa harus digunakan secara berkelompok seperti brigade. “Hanya dengan cara ini penggunaan eskskavator dapat lebih maksimal dengan biaya yang lebih hemat,” ujarnya.

Amran menginginkan, ada 5-6 ekskavator yang mengerjakan satu lokasi sekaligus. Dengan bergerak dalam tim, pengawasannya akan mudah dan murah. Sedangkan jika bekerja sendiri-sendiri, biayanya akan mahal karena butuh pengawas yang banyak.

“Mau yang mudah dan murah atau yang susah dan mahal? Tolong ikuti prosedur. Satu lokasi kerjakan dengan 5 eksavator sekaligus, sehinggga cepat bergerak nya. Beda kalau 1 lokasi hanya 1 mesin. Beda spiritnya. Dalam 1 brigade lebih cepat,” tegas Amran.

Untuk optimasi lahan rawa, pemerintah menurunkan puluhan ekskavator yang nilainya bisa mencapai Rp 3 miliar per unit. Alsintan itu untuk menyiapkan jaringan irigasi. Sehingga penggunaan bibit Inpari unggul yang cocok untuk lahan rawa bisa optimal meningkatkan produktivitas.

“Dulu produksi hanya 2-3 ton per/ha/tahun. Bagaimana bisa sejahtera?
Sekarang kita punya varietas baru namanya Inpara 2, bisa maksimal 6 ton
/ha. Bisa nggak?,” tanya Amran pada seorang petani yang ditemuinya di posko program Serasi Desa Kokida.

Kepala Dinas Pertanian Kab. Batola menjelaskan, di Desa Kokida, Kecamatan Barambai yang menjadi lokasi tinjauan Mentan, cara ini sudah dilakukan. Pola Brigade memang sejak awal menjadi instruksi agar pengerjaan lahan sawah rawa lebih optimal.

Seperti diketahui program Serasi dirintis bertahap sejak dua tahun lalu diawali dengan melakukan penelitian dan pengamatan terkait persoalan di lahan rawa. Benih yang ditanam awalnya tidak cocok hingga ditemukan Inpara 2. Dengan kondisi Ph yang rendah, varietas bibit ini bisa menyesuaikan produksi hingga 6 ton.

Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan, Sarwo Edhy menjelaskan, di Kalsel potensi lahan rawa ada sekitar 257.300 ha. Dari jumlah tersebut yang sudah ada CP/CL (Calon Petani/Calon Lahan) seluas 160.481 ha. Sudah disurvei seluas 43.188 ha dan sudah didesain seluas 38.121 ha. Sementara yang dalam proses pekerjaan fisik kontruksi seluas 2.143 ha.

Meski dalam optimasi lahan rawa tak semudah membalikkan telapak tangan, namun Sarwo optimis program Serasi bisa berhasil. “Dengan hasil itu kita optimis target pengembangan lahan rawa seluas 500 ribu ha bisa tercapai. Apalagi ekskavator sudah diterjunkan dengan jumlah yang cukup di masing-masing provinsi,” tuturnya.

 

Reporter : kontributor
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018