
Drs Muzakir Abdullah MA (Dosen FISIP Universitas Teuku Umar) bersama dua narasumber, Dr Fadjri Alihar MS (mantan peneliti senior LIPI) dan Yarmen Dinamika (Redaktur Harian Serambi Indonesia) di Kopi Oen
TABLOIDSINARTANI.COM, Banda Aceh --- Cafe edukasi BPTP Aceh disambangi 42 mahasiswa Program Studi (Prodi) Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik-Universitas Teuku Umar (FISIP-UTU) Meulaboh. Kehadiran mahasiswa tersebut didampingi dosen pembimbing FISIP UTU, Drs Muzakir Abdullah MA.
Kunjungan mahasiswa untuk mendapatkan pendalaman materi mata kuliah Praktik Jurnalistik oleh praktisi jurnalistik Aceh, Yarmen Dinamika (Redaktur Harian Serambi Indonesia), Minggu (7/3). Sebelumnya kepada para mahasiswa diperkenalkan sistem pengelolaan media yang terintegrasi di Newsroom dan Unit Percetakan Harian Serambi Indonesia oleh Yarmen.
"Kalau mahasiswa ilmu komunikasi ingin berkembang maju, maka berbagai keterampilan harus ditingkatkan agar menjadi insan komunikasi yang multitalenta. Tidak hanya mampu membuat berita koran dan online, tetapi juga harus bisa menjadi pelapor atau reporter radio dan televisi, bisa menjadi fotografer, bahkan menjadi editor untuk naskah cetak maupun video," tuturnya.
Selama di newsroom, mahasiswa didampingi untuk mengetahui seluk-beluk penerbitan penerbitan koran (Serambi Indonesia dan Prohaba), portal online Serambinews.com, Radio Serambi FM, Serambi on TV, Kompas TV Aceh, dan percetakan komersial maupun percetakan koran milik PT Aceh Media Grafika.
Kuliah lapangan yang diberi tema “Membentuk Generasi Muda yang Kritis dan Inovatif serta Peka terhadap Perkembangan Teknologi Informasi” itu, selain diisi oleh Yarmen juga oleh Prof. Dr. Fadjri Alihar MS, manta peneliti senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).
Fadjri Alihar yang jebolan Jerman menyajikan materi tentang teknik mengembangkan ide dalam penulisan artikel opini.Ia juga membeberkan kiat-kiat agar artikel yang ditulis berhasil dimuat di media nasional, bahkan internasional.
Penyampaian materi tentang perkembangan jurnalistik di era digital oleh Yarmen diikuti penuh antusias oleh peserta dan dilanjutkan dengan diskusi/tanya jawab dengan kedua pemateri. Salah satunya mengenai penguasaan bahasa asing, minimal 1-2 bahasa asing.
Yarmen menceritakan, dulu saat ia masuk menjadi wartawan di Serambi tahun 1990, tidak harus mengerti bahasa asing, tetapi sekarang menjadi syarat wajib. "Pascatsunami 2004, untuk menjadi wartawan di Harian Serambi Indonesia dipersyaratkan menguasai satu bahkan dua bahasa asing (Inggris-Arab atau Inggris-Mandarin). Kalau Anda tidak bisa memenuhi persyaratan seperti itu, jangan pikir bisa menjadi wartawan Kompas atau menjadi wartawan Tempo, untuk Harian Serambi Indonesia saja belum tentu diterima, walaupun Serambi Indonedia itu media lokal," ujar Yarmen memotivasi mahasiswa.
Jurnalisme Kian Menantang
Oleh karena itu, dalam tatanan dunia modern, menurut Yarmen, praktik jurnalisme itu semakin menantang. Makin hari makin tinggi kualifikasi yang dibutuhkan. "Untuk itu, adik-adik mahasiswa ilmu komunikasi perlu membekali diri untuk menambah pengetahuan ekstra dari sekadar yang diajarkan di kampus," kata dosen luar biasa di Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry ini.
Dia ingatkan bahwa dunia pers sekarang makin berkembang. Maka, teruslah belajar, perdalam ilmu di dalam maupun di luar kampus. Yarmen mengutip pernyataan Alvin Tofler, penulis dan futurolog terkemuka di Amerika Serikat tentang orang-orang yang buta huruf pada abad 21. Mereka yang digolongkan buta huruf pada abad ini adalah orang-orang yang tidak sempat belajar, tidak mau belajar, dan tidak mau belajar kembali atau mengulang kaji.
"Karenanya, semua teori jurnalistik yang telah diajarkan di kampus oleh para dosen, hari ini kita duduk kembali mereview-nya apakah sudah sesuai atau tidak dengan kebutuhan dunia kerja. Jangan berkutat dengan teori saja. Tiap tahun melamar kerja tetapi tidak diterima, itu karena tidak ada relevansi antara dunia kampus dengan kebutuhan dunia kerja.”
Sementara itu, Fadjri Alihar mengatakan untuk menghasilkan tulisan yang disukai pembaca, dia sarankan kepada mahasiswa untuk mengangkat tema tulisan dari isu-isu aktual atau yang sedang menjadi trending topic. "Jangan menunda-nunda untuk menulis. Nanti, tulisan Anda bakal 'out of date' dan kehilangan daya tarik. Mulailah menulis dan bikin kerangka tulisan jika masih pemula. Baca ulang tulisan, edit, dan pastikan karya Anda bukan plagiat dan terbebas dari delik hukum," kata mantan kepala Regional V BRR NAD-Nias itu.