
Sekretaris Jendral Kementerian Pertanian Kasdi Subagyono, dalam Webinar Rancang Bangun Pengelolaan Kinerja Pegawai membangun Human Capital dalam Organisasi, Jumat (08/10).
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Kementerian Pertanian terus berlari menuju Pertanian yang Maju, Mandiri dan Modern, salah satunya melalui peningkatan efektivitas dan efisiensi pegawai Aparatur Sipil Negara (ASN) lingkup Kementerian Pertanian (Kementan) yang kian terintegrasi dalam SINERGI.
"Dalam mencapai tujuan/sasaran, perlu ada Pengelolaan Kinerja Pegawai untuk membangun Human Capital dalam Organisasi, " ungkap Sekretaris Jendral Kementerian Pertanian Kasdi Subagyono, dalam Webinar Rancang Bangun Pengelolaan Kinerja Pegawai membangun Human Capital dalam Organisasi, Jumat (08/10).
Lebih lanjut Kasdi menyebutkan di sektor pertanian selain infrastruktur, aspek sumberdaya manusia (human capital) menjadi fokus utama menuju target pembangunan pertanian. Termasuk, ASN lingkup Kementan yang harus lebih agresif namun lebih efektif dan efisien.
"Kuncinya manajemen dan pengelolaannya. Terkait kinerja, reward punishment agar ASN lebih agresif dan inovatif. Dalam menyiapkan pengelolaan itu, memang harus ada rancang bangun pengelolaan kinerjanya, " tambahnya.
Karena itu, Kementan melalui Biro Organisasi dan Kepegawaian bersama Ikatan Profesi Analis Kepegawaian Republik Indonesia cabang Kementan, mempersiapkan Aplikasi Sistem Informasi Kinerja Pegawai Terintegrasi (SINERGI).
Aplikasi ini menjadi bentuk Implementasi PP Nomor 30/2019 tentang Penilaian Kinerja PNS dan Permen PAN RB Nomor 08/2021 tentang Sistem Manajemen Kinerja PNS. Dimana, Sistem Manajemen Kinerja PNS adalah suatu proses sistematis yang terdiri dari perencanaan Kinerja; pelaksanaan, pemantauan dan pembinaan Kinerja; penilaian Kinerja; tindak lanjut; dan sistem informasi Kinerja.
Dalam persepsi perubahan kebijakan nasional tersebut, melalui penyederhanaan organisasi dan penyetaraan jabatan administrasi ke dalam jabatan fungsional, pengelolaan kinerja pegawai terintegrasi dengan kinerja organisasi menjadi mutlak dilaksanakan.
Sehingga, Kementan menekankan adanya penyelarasan antara kinerja individu/pegawai dengan kinerja organisasi. Integrasi sistem yang digunakan dalam pengelolaan kinerja individu/pegawai dengan kinerja organisasi menjadi penting untuk dilaksanakan sebagai dasar dari rangkaian tahapan pencapaian membangun SDM sebagai Human Capital dalam organisasi, guna mendukung percepatan terwujudnya pembangunan pertanian yang maju, mandiri dan modern.
"Membangun human capital berbasis kajian dan telaah serta evaluasi termasuk perubahan mindset agar lebih adaptif isu strategis pembangunan pertanian, " jelasnya.
Lebih Luas
Kasdi menegaskan upaya ini tidak sekedar perspektif kepegawaian, namun lebih luas dalam bentuk human resources development untuk digarap lebih kuat lagi dalam melaksanakan pembangunan pertanian.
"Misalnya dulu pelatihan ya beres pelatihan sudah. Tapi sekarang selesai dilatih ada akses pembiayaan targetnya KUR dengan jaminan pemerintah. Sehingga kongkrit, saat peserta pelatihan sudah paham dan langsung bisa berusaha, " tuturnya.
Seperti diketahui, Kementan kini semakin fokus dengan SDM milenial yang dibekali pengetahuan untuk pembangunan pertanian. Tak hanya di hulu produksi pangan pertanian tapi sampai ke pemasaran.
Setidaknya ada lima strategi melalui Cara Bertindak. Mulai dari peningkatan kapasitas produksi melalui lumbung pangan baru berupa food estate di luar Jawa, diversifikasi pangan lokal melalui pemetaan pangan lokal dan penguatannya di daerah sumber, penguatan cadangan dan logistik pangan, termasuk pembangunan pertanian modern melalui tenaga milenial dalam perspektif pertanian presisi dan smart farming, sehingga pertanian mampu terdongkrak ekspor tiga kali lipat selain pemenuhan pangan di dalam negeri.