Saturday, 19 September 2020


Impor Gula: Murah Harganya, Mahal Dampaknya 1)

08 Aug 2020, 10:13 WIBEditor : Ahmad Soim

Gula putih | Sumber Foto:Dok. Indarto

Oleh: Agus Pakpahan Anggota Kehormatan Asosiasi Gula Indonesia

 

TABLOIDSINARTANI.COM -  Dalam rangka memperingati 75 Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 2020 akan sangat baik apabila kita mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan kritis di seputar kemerdekaan, pemerdekaan dan tujuan memerdekakan diri dari penjajahan.  Secara khusus lagi, sekarang ini, pada zaman normal baru akibat Covid-19 yang melanda dunia dan kita menjadi satu bagian dari proses tersebut, sangatlah penting untuk melihat satu aspek dimensi kehidupan manusia yaitu pangan. 

Dalam pemikiran Presiden Soekarno yang dikemukakan pada saat peletakkan batu pertama peresmian pembangunan kampus Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB)  tahun 1952, 68 tahun yang lalu, persoalan pangan rakyat adalah persoalan hidup atau mati, to be or not to be.  Tanpa memiliki pangan yang cukup, Presiden Soekarno juga mengibaratkan kita ini sedang berada di bawah todongan pistol!

Artikel singkat ini ditujukan untuk menyampaikan pengetahuan sebagai hasil analisis berdasarkan Tabel Input-Output karya Badan Pusat Statistik.  Satu aspek penting saja yang akan dikemukakan yaitu dampak dari impor gula yang selama 20 tahun terakhir yang kecenderungannya terus meningkat. Dari Thailand saja pada tahun 2018 kita mengimpor gula gula kristal putih dan gula rafinasi sebanyak  105 ribu ton lebih, tetapi yang jauh lebih besar adalah mengimpor gula mentahnya yaitu mencapai 4.2 juta ton (USDA, 2020). Tingginya impor gula ini adalah dampak dari hasil kalkulasi dagang bahwa mengimpor gula biayanya lebih murah mengingat harga gula di pasar dunia sangat rendah.  Harga gula di pasar dunia yang sangat rendah tersebut tanpa dipahami sebagai harga yang terdistorsi akibat berbagai intervensi negara terhadap industri pergulaanya.  Harga gula eceran di Thailand sekali pun, di mana Thailand berstatus sebagai negara pengekspor terbesar gula ke dua di dunia, jauh lebih tinggi daripada harga gula di pasar dunia. Uraian mengenai hal ini dapat dilihat pada artikel Bias Kebijakan Pergulaan Akibat Salah Melihat Harga https://tabloidsinartani.com/detail/industri-perdagangan/olahan-pasar/13923-Bias-Kebijakan-Pergulaan-Akibat-Salah-Melihat-Harga.

Perspektif suatu kebijakan Negara perlu melihat permasalahan dalam konteks yang lebih luas.  Alat bantu untuk mendapatkan pengetahuan sebagai landasan pengambilan kebijakan dalam perspektif yang cukup luas sudah tersedia cukup lama, antara lain, yaitu Model Input Output ciptaan Wassily Leontief, pemenang hadiah Nobel ilmu ekonomi pada 1973.  Model ini dapat digunakan untuk melihat dampak kebijakan impor gula terhadap tiga hal utama yaitu output, pendapatan petani  tebu dan tenaga kerja.

Hasil analisis Input-Output menunjukkan bahwa setiap Indonesia mengimpor gula setara dengan produk gula rafinasi 3 juta ton maka akan menghasilkan dampak berupa pengurangan potensi nilai output industri gula dalam negeri sebesar Rp 87.7 triliun di mana Rp 18.5 triliun merupakan nilai output petani; penurunan total pendapatan industri gula dalam negeri sebesar Rp 37.8 triliun, dimana di dalamnya terjadi penurunan pendapatan petani tebu sekitar Rp 12.8 triliun; dan terkait dengan hal tersebut adalah penurunan kesempatan kerja sebanyak 2.3 juta orang pada kegiatan pertanian dan 800 ribu orang pada kegiatan non-pertanian.  Dengan perkataan lain adalah apabila potensi pasar Indonesia ini diisi oleh produksi gula nasional yang dibuat dari tebu yang ditanam di dalam negeri maka akan dipanen manfaat dampak positif seperti bilangan-bilangan tersebut. 

Penyediaan lapangan pekerjaan yang layak bagi kemanusiaan adalah kewajiban konstitusional Negara sebagaimana yang diamanahkan oleh Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945).  Kebijakan impor gula untuk mencukupi kebutuhan nasional, andaikan ini merupakan hal yang benar, berhadapan dengan kewajiban Negara yaitu kewajiban untuk menyediakan lapangan pekerjaan.  Dalam konteks mencerdaskan kehidupan bangsa dan kesejahteraan masyarakat, sesuai dengan amamah UUD 1945, apakah kiranya pilihan kebijakan impor gula atau penyediaan lapangan pekerjaan yang layak dipilih?

Tentunya jawaban akan pertanyaan semacam ini haruslah menjadi landasan dalam memilih dan menetapkan kebijakan pergulaan nasional.  Jawaban tersebut tentunya harus juga didasari oleh hasil analisis yang mendalam dengan menggunakan metoda analisis yang bisa dipertanggung jawabkan. 

Sekarang, apakah gula berkaitan kuat dengan kenaikan inflasi? Kami membuat simulasi untuk mendapatkan gambaran dampak kenaikan harga gula.  Hasilnya dapat dilihat pada Gambar berikut:

Hasil simulasi menunjukkan bahwa dampak kenaikan harga gula terhadap biaya produksi seluruh sektor ekonomi dari 6 sektor yang dipilih, yaitu BBM, Listrik Gas dan Air, Minyak dan Lemak, Beras, Gula dan Tepung segala jenis, ternyata dampak kenaikan harga gula merupakan yang terendah. Adapun dampak kenaikan harga BBM terhadap biaya ekonomi keseluruhan merupakan yang tertinggi diikuti oleh kenaikan harga listrik, gas dan air, tepung segala jenis, minyak dan lemak, beras dan baru gula.  Jadi, apabila kenaikan harga gula dijadikan alasan untuk mendorong impor gula, juga data belum cukup untuk mendukungnya.

Argumen lain untuk mendukung impor gula ini adalah bahwa industri makanan dan minuman merupakan industri strategis.  Kata strategis ini saya coba kaitkan dengan sumbangan industri makanan dan minuman dalam konstribusinya terhadap perbaikan neraca pembayaran internasional (Balance of Payment, BOP), yang mana kita menderita defisit cukup besar.  Hasil analisis ternyata fakta tidak mendukung hal tersebut, mengingat status industri makanan dan minuman pun masih berstatus net-importer.

Menarik juga untuk disimak bahwa promotor di balik proses masuknya gula ke dalam negeri banyak dilakukan oleh pihak asing atau pihak luar.  Hal ini sangat wajar mengingat dunia kelebihan gula. Setiap negara yang kelebihan gula akan mencoba mencari pasar untuk memasukkan gulanya ke negara lain.  Bahkan banyak negara yang telah masuk pada fase biaya produksi lebih tinggi daripada harga gula di pasar dunia.  Alasan yang digunakan untuk merekomendasikan lebih baik Indonesia mengimpor gula untuk memenuhi kebutuhannya adalah tidak efisiennya produksi gula Indonesia dengan ukuran jauhnya selisih harga gula domestik dengan harga gula di pasar dunia.  Sebagaimana telah diuraikan pada tulisan Bias Kebijakan Pergulaan Akibat Salah Melihat Harga (lihat referensi di atas), argumen tersebut juga kurang didukung oleh data di negara-negara lain, yaitu harga pasar retail domestik lebih tinggi daripada harga pasar dunia.  Artinya, banyak negara memproteksi industri pergulaannya dengan variasi tingkat proteksi yang beragam.

Jadi, apa yang bisa disimpulkan? Gula menempati tempat khusus dalam diri suatu negara.  Namun demikian terdapat pola umum bahwa banyak negara memberikan perlindungan bagi industri pergulaannya hingga produksi dunia hampir selalu berada pada posisi surplus walaupun harga gula di pasar dunia relatif sangat rendah dibanding harga gula di pasar dunia pada tahun 1970-an, misalnya, dan juga tren harga gula yang relatif terus menurun.  Berdasarkan analisis yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa Indonesia dengan mengimpor gula mendapatkan harga gula yang murah tetapi harus dibayar oleh biaya riil yang diakibatkan oleh dampaknya terhadap penurunan kesempatan kerja, penerimaan pendapatan dan peningkatan output ekonomi nasional. Mengingat konstitusi kita mengamanatkan bahwa Negara berkewajiban menyediakan pekerjaan yang layak bagi warganya dan pembangunan nasional juga mentargetkan pencapaian peningkatan lapangan pekerjaan dan pendapatan, maka akan sangat bijaksana apabila kebijakan impor gula ini dapat ditinjau ulang.  Tentu saja,   peningkatan efisiensi, produktifitas dan keberlanjutan industri pergulaan nasional memang harus terus ditingkatkan, termasuk mencari sumberdaya penghasil gula selain tebu, satu di antaranya adalah memanen nira kelapa sawit tua dalam kerangka peremajaan perkebunan kelapa sawit (lihat: https://tabloidsinartani.com/detail//indeks/kebun/13918-Potensi-Kelapa-Sawit-Mengatasi-Kebutuhan-Gula-Nasional).

 

[1] Kami ucapkan terima kasih kepada Dr. Ir. Nizwar Sjafaat yang telah menyelesaikan pengolahan Tabel Input-Output BPS. Hasilnya telah disampaikan pada Semiloka Kebijakan Pergulaan di LPP Yogyakarta, 31 Agustus 2016. 

 

 

Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018