Kamis, 18 Juli 2019


Tambah Omset Petani Rp 25 juta/bulan dengan Lada Bubuk

26 Mar 2019, 13:38 WIBEditor : Gesha

Lada bubuk yang bisa menjadi peluang usaha yang menjanjikan bagi petani | Sumber Foto:ISTIMEWA

Nantinya, lada bubuk ini akan kami kemas dengan plastik yang bisa dijual langsung ke kios-kios atau pedagang keliling dengan harga Rp 1.000/5 gram. Ya bentuknya nanti lada bubuk yang dikemas dalam saset

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Bangka Belitung --- Untuk menambahkan keuntungan petani lada diharapkan menggarap hilirisasi, salah satunya dengan membuat lada bubuk.

Seperti yang dilakukan oleh petani lada dalam Poktan Berkah Tani yang dikomandani Alfeddy Hernandy sudah mampu maraup omzet penjualan (kotor) Rp 25 juta/bulan.

"Hilirisasi yang kami lakukan ini bisa mendatangkan nilai tambah bagi petani. Artinya, harga lada di tingkat petani yang saat ini Rp 50 ribu/kg, kalau sudah kami olah menjadi lada bubuk harganya meningkat menjadi Rp 150 ribu/kg,” papar Ketua Kelompok Tani (Poktan) Berkah Tani, Alfeddy Hernandy, di Jakarta.

Mengapa demikian?  Menurut Alfeddy, manajemen Poktan berkah Tani bisa membeli lada dari petani  anggota kelompok dengan harga Rp 80 ribu-Rp 100 ribu/kg.
“Sehingga, petani pun sejahtera dan kami manajemen Poktan Berkah Tani masih mendapat selisih harga yang wajar. Artinya, anggota poktan dan manajemen poktan sama-sama utung,” jelas Alfeddy.

Alfeddy mengaku, untuk memulai usaha mengolah biji lada menjadi lada bubuk akhir Desember 2018 lalu, manajemen Poktan Berkah Tani hanya mengeluarkan modal awal Rp 5 juta.  “Modal awal ini dari kantong pribadi sendiri untuk membeli peralatan hilirisasi seperti mesin pembubuk,” ujar Alfeddy.

Lada yang sudah dihaluskan dengan mesin pembubuk kemudian dimasukkan dalam botol dan dikemas dengan rapi. Tiap botol berisi lada bubuk 60 gram. Lada yang sudah dihaluskan tersebut dijual langsung ke konsumen (pasar) dengan harga Rp 15 ribu/botol/60 gram. “Kami juga menjualnya melalui reseller atau distributor dengan harga Rp 25 ribu/botol/60 gram,” ujarnya.

Dari penjualan lada bubuk tersebut, lanjut Alfeddy, Poktan  Berkah Tani mampu meraup untung bersih sekitar Rp 15 juta/bulan. “Kalau kami lihat dari modal awal yang hanya Rp 5 juta, cash flow Poktan Berkah Tani rata-rata mencapai Rp 15 juta/bulan,” ujarnya.

Sesuai rencana manajemen Poktan Berkah Tani akan mengemas lada bubuk khusus untuk kalangan menengah ke bawah. “Nantinya, lada bubuk ini akan kami kemas dengan plastik yang bisa dijual langsung ke kios-kios atau pedagang keliling dengan harga Rp 1.000/5 gram. Ya bentuknya nanti lada bubuk yang dikemas dalam saset,” jelas Alfeddy.

Dijual Online

Meski hasilnya belum kelihatan, manajemen Poktan Berkah Tani juga melakukan penjualan secara online. Lada bubuk tersebut dijual dengan harga Rp 25 ribu/60 gram.

“Lada bubuk yang dikemas dalam botol dan dijual secara online tersebut pasarnya untuk restoran dan hotel,”  ujar Alfeddy.

Penjualan secara online yang dilakukan sampai saat ini belum maksimal, meskipun sudah ada beberapa orang di luar Babel yang ingin menjadi distributor dan Poktan Berkah Tani sampai saat ini masih melakukan proses perizinan di BPOM dan MUI.

Sejumlah pihak seperti Pemprov dan Pemda Babel pun terus membantu akses pasar lada bubuk yang dibuat Poktan Berkah Tani. “Kalau ada pameran di luar kota kami diikutsertakan. Tujuannya adalah untuk memperluas jangkauan pasar dan branding produk,” ujar Alfeddy.

Bahkan, Dinas Pekebunan Kabupaten/Provinsi Babel terus mendorong Poktan Berkah Tani melakukan hilirasi. “Kami juga diberi bantuan alat penggiling lada dan bak perendaman lada ukuran 7 x 5 meter. Dengan alat tersebut kami bisa melakukan perendeman lada selama 7-10 hari kemudian membuang kulit luarnya dan bisa langsung  menjemurnya di bawah terik matahari selama 2 hari,” papar Alfeddy.

Reporter : Indarto
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018