Thursday, 23 September 2021


Menengok Desa Tulungrejo, Kampung Anggrek di Kota Apel

30 Aug 2021, 16:17 WIBEditor : Yulianto

Kampung anggrek di Kota Batu | Sumber Foto:Soleman

TABLOIDSINARTANI.COM, Batu Malang ---Agrowisata kini berkembang diberbagai wilayah Tanah Air dengan memanfaatkan keunggulan lokal. Misalnya, kampung cokelat di Blitar, kampung labu madu di Kediri dan masih banyak destinasi wisata yang dibangun warga secara mandiri.

Begitu juga yang dilakukan warga RW 17, Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji yang membangun destinasi wisata baru Kampung Anggrek Mandiri. Petani anggrek yang tergabung dalam Kelompok Tani Anggrek Mitra Alam, tidak hanya membudidayakan anggrek, tapi menghias kampung dengan berbagai jenis anggrek.

Setidaknya ada 25 jenis anggrek yang tumbuh di Indonesia dipasang sedemikian rupa, hingga membuat kampung ini terlihat begitu indah dan asri. Fariska, pengelola Kampung Anggrek Mandiri bercerita, ide awal pembuatan Kampung Anggrek Mandiri ini sudah muncul sejak tahun 2015. 

Ada tiga warga yang mulai membudidayakan anggrek, yakni Suarjo, Suryanto dan Supeno. Namun tahun 2021 ini dikembangkan lagi. “Kalau sebelumnya hanya RT 2, sekarang kita kembangkan satu RW, yakni RW 17,” ujarnya.

Selain itu Fariska juga mengakui, dirinya tertarik melihat potensi hutan anggrek di wilayah Kota Batu yang cukup banyak. Selain itu, jenis anggrek cukup beragam dan bagus-bagus. Akhirnya anggrek tersebut dikumpulkan dan dibudiayakan.

“Tujuan awalnya adalah untuk kesejahteraan masyarakat yang rata-rata adalah petani sayur. Saya rangkul mereka untuk menanam anggrek di depan rumah, di pekarangan rumah. Kemudian kita teruskan untuk desa wisata kampung anggrek mandiri,” paparnya.

Pengembangan dimulai dari menghimpun warga yang menjadi petani anggrek. Ada tiga puluh petani yang tinggal ditempat ini kemudian membentuk Kelompok Tani Anggrek Mitra Alam. Selanjutnya menata anggrek dalam kampung.

Fariska berharap, kedepannya warga RW 17 diberikan tanggungjawab untuk budidaya anggrek untuk dikembangbiakkan. Nantinya jika sudah berkembang, maka mereka akan mendapat gaji dari kelompok.

Eduwisata Anggrek

Pengembangan wisata Kampung Anggreka Mandiri ini selanjutnya adalah akan ada edukasi penanaman anggrek. Jadi wisatawan nanti bisa belajar menanam dan pengenalan lebih jauh jenis anggrek yang ada di Kampung Anggrek Mandiri ini.

“Kita ingin jadikan wisata edukasi. Wisatawan bisa melihat langsung, mulai proses pembibitan, penyemaian, penyebaran biji anggrek, pemindahan bibit, pembuatan media tanam hingga perawatan,” ujarnya.

Untuk menjaga kelestarian anggrek langka yang ada di Indonesia, Fariksa mengatakan, akan mencoba melakukan pembibitan. Namun dirinya mengakui, perlu perizinan karena anggrek langka yang dilindungi biasanya ada cara tersendiri untuk pelestarian.

“Kita disupport dari kota dari desa, kemarin ada dinas pariwisata juga melihat potensi yang ada di kampung anggrek dan sangat mendukung. Kita butuh sumber daya professional yang bisa menangani pelatihan-pelatihan, harapan dukungan seperti itu benar-benar dibutuhkan,” harapnya. Apalagi Fariska mengakui, pendanaan memang menjadi kendala tersendiri.

Fariska juga mengakui, upaya membangun Kampung Anggrek Mandiri ini tidak mudah. Apalagi harus menanam anggrek di tengah jalan. Bahkan sempat terjadi pro dan kontra.

“Tapi kita berusaha menanam anggrek tidak mengganggu aktifitas lalu lintas jalan yang ada. Sekarang kita sudah didukung kepala desa. Awalnya memang ada pro dan kontra, sekarang sudah banyak yang minta jalannya ditanami anggrek,” tuturnya.

Bagi wisatawan bisa melihat koleksi tanaman anggrek. Setidaknya ada 25 jenis anggrek. Seperti Anggrek Vanda, Anggrek Eria, Anggrek Bulbo phylum, Anggrek Dendrobium, hingga Anggrek Collagen. Juga beberapa Anggrek spesies Jawa, seperti Anggrek Collagen Asperata, Anggrek Pandura.

Ada juga anggrek yang dilindungi, seperti Anggrek Selop atau Paphiopedilum Glaucophyllum. Wisatawan bisa mendapatkan anggrek paling murah Rp 20 ribu hingga anggrek koleksi yang harganya ratusan ribu rupiah.

Dengan adanya Kampung Anggrek, Fariska dan warga berharap bisa mengangkat ekonomi masyarakat. Bukan hanya dari kunjungan wisatawan, namun juga menjadi barometer harga anggrek di Kota Batu.

Reporter : Soleman
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018