Tuesday, 03 August 2021


Budidaya Lele Bioflok, Percepat Pertumbuhan Ekonomi Masyarakat

14 Dec 2020, 11:08 WIBEditor : Indarto

Lele bioflok | Sumber Foto:Dok. Humas DJPB

KKP mendorong upaya pemenuhan kebutuhan konsumsi ikan dalam negeri dalam rangka ketahanan pangan melalui program pengembangan budidaya lele sistem bioflok.

 

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta—Masyarakat yang tak memiliki lahan luas dan minim air tak usah kawatir untuk melakukan budidaya ikan. Kini, dengan sistem bioflok, masyarakat bisa melakukan budidaya lele di pekarangan rumah. Bahkan, budidaya lele sistem bioflok mampu mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat di tengah pandemi covid 19.

 

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto  mengatakan, budidaya lele sistem bioflok memiliki banyak keunggulan. Karena lele yang dibudidaya menggunakan pakan cukup efektif dan efisien, daging lele yang dikonsumsi lebih enak.

 

“ Budidayanya tak memerlukan lahan luas. Kemudian tahan penyakit dan cepat besar. Dan yang paling penting menguntungkan. Disamping itu juga komoditas lele menjadi salah satu komoditas utama perikanan Indonesia untuk program ketahanan pangan, makanya para pembudidaya di seluruh Indonesia banyak yang mengadopsi budidaya lele sistem bioflok ini," kata  Slamet, di Jakarta, Senin (14/12).

 

Lantaran sudah familiar di masyarakat, KKP mendorong upaya pemenuhan kebutuhan konsumsi ikan dalam negeri dalam rangka ketahanan pangan melalui program pengembangan budidaya lele sistem bioflok di berbagai daerah di Indonesia.

 

Menurut Slamet, pada tahun 2020 ini sebanyak 421 paket budidaya lele atau nila sistem bioflok sudah disalurkan ke masyarakat di 34 provinsi. Khususnya,  di Kabupaten Pemalang , Jawa Tengah (Jateng) mendapatkan 9 paket budidaya ikan lele sistem bioflok.

 

Diharapkan, program ini terus ditingkatkan dengan memberikan program bantuan langsung kepada pembudidaya di seluruh Indonesia. Bantuan kegiatan bioflok merupakan suatu inovasi teknologi yang dilakukan melalui rekayasa lingkungan dengan mengandalkan suplai oksigen dan pemanfaatan mikroorganisme.

 

“ Inovasi yang dikembangkan ini diyakini dapat menggenjot produktivitas budidaya hingga tiga kali lipat dibandingkan dengan budidaya sistem konvensional,” ujar Slamet.

 

Slamet mengatakan, budidaya lele sistem bioflok bisa menekan konsumsi pakan, sehingga penggunaan pakan lebih efisien yang berimbas pada peningkatan margin keuntungan usaha berkisar Rp 2.000- Rp 3.000 per kg ikan jika dibandingkan dengan budidaya lele sistem konvensional.

 

“  Sementara di Pemalang  malah bisa diperoleh margin Rp 4.000- Rp 5.000 per kg ikan dari efisiensi pakan tersebut,” kata Slamet.

 

 

Menurut Slamet, bantuan budidaya lele bioflok yang telah diberikan seperti di Kabupaten Pemalang ini dapat meningkatkan animo masyarakat lokal untuk melakukan usaha budidaya. Dengan budidaya ini,  telah mendorong terjadi peningkatan tingkat konsumsi makan ikan per kapita, utamanya untuk peningkatan gizi masyarakat sekitar.

 

“ Selain itu sistem bioflok di pemalang ini dapat di scale up oleh masyarakat yang lain," tambah Slamet.

 

Kepala Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya (BLUPPB) Karawang, Ikhsan Kamil mengatakan, budidaya lele dengan sistem bioflok adalah sebuah sistem pemeliharaan ikan lele dengan metode menumbuhkan mikroorganisme yang berfungsi sebagai pengolah limbah di media pemeliharan budidaya lele. Sistem bioflok ini dapat membantu proses pencernaan sehingga metabolisme ikan lele dapat berjalan secara optimal. 

 

Menurut Ikhsan, untuk menumbuhkan mikroorganisme tersebut dapat dipacu dengan mengkultur bakteri non patogen atau probiotik, serta menggunakan aerator dalam kolam untuk menyuplai oksigen sekaligus sebagai pengaduk air di dalam kolam. Bahkan, budidaya sistem bioflok ini sangat menguntungkan dibandingkan teknologi konvensional, produktivitas bioflok bisa mencapai 5 hingga 6 kali lebih besar.

 

“ Sehingga teknologi ini punya keunggulannya yaitu hemat lahan dan hemat air. Dimana dengan padat tebar benih ikan lele sebanyak 500 ekor/m3 di bak pemeliharan bulat diameter 3 meter, diharapkan produktivitas 250 kg/kolam/siklus, per siklus panen kurang lebih 3 bulan," ujar Ikhsan.

 

Hal senada juga diungkapkan, Ketua Kelompok Pembudidaya Lele Sistem Bioflok Tani Lele Mutiara, Pemalang, Jateng,  Sukiswo. Menurutnya, keuntungan budidaya lele dengan bioflok, mudah perawatannya, bisa menghemat pakan pabrikan hingga 30 persen melalui pengelolaan mikroba yang menguntungkan selama masa pemeliharaan.  Pokdakan yang mulai membudidayakan ikan lele secara tradisional sejak tahun 2015 ini juga mentargetkan hasil panen minimal 2 kwintal per kolam bioflok.

 

“Saya sangat berterima kasih kepada KKP, bisa diberikan kesempatan dapat bantuan dan belajar budidaya lele sistem bioflok ini. Karena budidaya lele sistem bioflok ini lebih menguntungkan dari pola konvensional. Sehingga memperbaiki ekonomi saya dan anggota kelompok kami serta yang lainnya," kata Kiswo.

 

Akselerasi Ekonomi Kerakyatan

 

Beberapa waktu lalu, Menteri Kelautan dan Perikanan Ad Interim yang juga Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo mengunjungi kolam lele milik Pokdakan Mutiara. Menurut Syahrul, budidaya lele sistem bioflok bisa menjadi akselerasi ekonomi kerakyatan di tengah Pandemi. 

 

Pasalnya, lanjut Menteri Syahrul, budidaya sistem bioflok mampu memberikan keuntungan lebih bagi para pembudidaya. Terutama pembudidaya ikan skala kecil dan menengah. 

 

Dengan ukuran lahan 1.000 m2 saja sudah ada harapan untuk meraih keuntungan tinggi selama mampu menguasai teknologinya. “Hari ini saya melihat sendiri salah satu program Kementerian Kelautan dan Perikanan, yaitu budidaya lele sistem bioflok ternyata memang menguntungkan dan tidak harus memakan lahan dan biaya yang besar. Makanya budidaya lele sistem bioflok bisa jadi akslerasi ekonomi kerakyatan di daerah seluruh Indonesia,"  pungkas Syahrul.

 

Reporter : Dimas
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018