Sunday, 28 February 2021


Cuaca Ekstrim dan Rusaknya Ekosistem Laut, Pemicu Paus Terdampar

21 Feb 2021, 22:53 WIBEditor : Gesha

Evakuasi paus pilot Sirip pendek | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor --  Peristiwa 40 ekor paus pilot terdampar di Selat Madura membuat tercengang semua pihak. Bagaimana bisa sebanyak itu terdampar?

"Dilihat dari lokasi yang sama dari terdamparnya paus pilot sirip pendek sebelumnya di Juni 2016 yaitu di selat Madura dan terjadi saat cuaca ekstrim, seharusnya jadi perhatian bersama. Meskipun paus adalah mamalia laut yang sudah berevolusi jutaan tahun, namun kebutuhan berlindung di ekosistem yang sehat harus disediakan bersama manusia," ungkap Dosen Hidrobiologi Laut, Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan (ITK), Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Institut Pertanian Bogor (IPB University), Adriani Sunuddin S.Pi, M.Si dalam kegiatan The Ocean Voice, Minggu (21/2).

Diakui Nani (panggilan akrab Adriani), Selat Madura bukan wilayah migrasi dari paus pilot sirip pendek ini, tetapi menjadi wilayah istrahat untuk melanjutkan perjalanan ke selatan Jawa dengan melintasi celah antara Banyuwangi dan pulau Bali. Terlebih lagi, saat La-Nina dengan kondisi hujan, wilayah selatan Jawa melimpah ruah mangsa dari paus tersebut.

Diungkapkannya, cuaca ekstrim bisa mendegradasi lingkungan perairan dan akumulasinya bisa membahayakan hidup mereka di alam. "Apalagi ketika cuaca ekstrim, tidak hanya air dan partikel sedimen yang dibawa oleh limpasan dari darat ke laut. Bisa jadi bahan pencemar, limbah, dan sebagainya. Perlu ditekankan bagaimana kita bisa menjaga ekosistem laut tetap sehat," ungkapnya.

Serupa dengan perilaku mamalia laut umumnya, ketika dalam satu kelompok beruaya melintasi habitat perairan, mereka akan mengikuti arah navigasi pemimpin dan menentukan keselamatan kelompok tersebut. "Dalam kasus paus terdampar pengaruh dari pemimpin kelompok yang kurang fit atau hilang arah, secara langsung memicu anggota kelompoknya kehilangan arah juga dan terdampar," ungkapnya.  

Diakui Nani, ada studi yang menyatakan bahwa parasit pada auditori mamalia laut karena lingkungan perairan, berpengaruh pada kegiatan terdamparnya paus. Sayangnya di Indonesia, penelitian parasitologi kelautan baru berkembang 20 tahun terakhir. Melihat dari semakin dinamisnya perubahan kondisi perairan, memang membuka peluang berkembangnya parasit yang bisa berpengaruh pada gagal navigasi kelompok paus.

Karenanya, Nani menekankan dalam memahami faktor penyebab terdampar kawanan paus memerlukan pertimbangan klinis yang terkait informasi dokter hewan yang didapat dari nekropsi (pembedahan). Ditambah keilmuan mengenai mamalia laut pun rumit karena berkaitan dengan habitat yaitu kondisi fisik perairan dan meteorologinya.

Untuk diketahui, paus pilot ini memiliki daya ruaya tinggi dan biasa melintasi perairan dari satu samudera ke samudera lain. Dan memiliki perilaku sosial yang sangat erat dalam satu kelompok. "Apabila ada individu jantan beranjak dewasa, mereka masih tetap dalam kelompok ibunya. Bahkan seperti pengawal dalam kelompok tersebut," ungkapnya.

Proses ruaya tersebut membutuhkan sumber energi, karenanya, paus pilot tersebut memiliki ketertarikan dengan perairan yang memiliki produktivitas tinggi karena umumnya ada fasilitas jejaring makanan dan mangsa potensial untuknya. 

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018