Monday, 24 January 2022


Budidaya Tiram Ala Mantan Ajudan Wakil Gubernur Aceh

13 Dec 2021, 10:41 WIBEditor : Gesha

Budidaya Tiram di Karamba Jaring Apung | Sumber Foto:ABDA

TABLOIDSINARTANI.COM, Aceh --- Budidaya Tiram sistem karamba dengan memanfaatkan ban mobil bekas mengubah kebiasaan masyarakat sehingga tak perlu lagi berendam lama di dalam air untuk mengumpulkan tiram. Inilah yang dilakukan Syardani M. Syarif (44) alias Teungku Jamaica, mantan Ajudan Wakil Gubernur Aceh.  

"Budidaya Tiram dengan karamba bisa membantu pertumbuhan ekonomi dan mensejahterakan masyarakat Aceh terutama di kawasan pesisir laut,” ujarnya kepada tabloidsinartani.com.

Dirinya Mengaku mendapatkan ide budidaya Tiram dengan media ban mobil bekas saat melihat banyak ban yang dipasang di pelabuhan kecil Ulee Lheue untuk menghindari benturan perahu dengan dinding pelabuhan. Dia melihat bagian ban yang terendam air dipenuhi dengan kulit Tiram yang keras dan tajam. 

Ban - ban bekas tersebut digantung pada struktur pipa paralon yang telah dicor semen, tapi masyarakat bisa menggunakan bahan lain sesuai spesifik lokasi seperti kayu bakau atau bambu.

Tiram secara alami akan menempel sendiri pada material ban mobil bekas tersebut. Hanya butuh waktu menunggu selama enam bulan pertama hingga tiram siap dipanen. "Tiram ukuran besar langsung bisa dipanen, sementara tiram yang masih kecil dipelihara dalam keranjang pembesaran dipanen tahap berikutnya," jelasnya.

Dari 23 kabupaten/kota sambung Syardani ada 18 daerah yang memiliki potensi untuk pengembangan budidaya Tiram. Hal ini perlu pemikiran kita bersama untuk pengembangannya. Sebab harga menu Tiram di beberapa restoran mewah sangat tinggi. "Ini sangat menjanjikan apalagi saat pandemi kita bisa memperbaiki kondisi ekonomi masyarakat Aceh agar bisa bangkit kembali," timpalnya.

Syardani merasa sedih melihat ibu-ibu yang berendam seharian di dalam air asin untuk mencari tiram, sementara penghasilannya tidak sesuai dengan kondisi berat pekerjaannya. Jangankan untuk melanjutkan sekolah dan kuliah anak - anaknya, terkadang untuk memenuhi kebutuhan sehari - hari saja kekurangan. "Akibat lain tubuh dan wajah pun berkerut dan kusam, padahal perempuan Aceh terkenal dengan kecantikan dan kemolekannya," ujarnya berfilosofi. 

Syardani menawarkan solusi yang tepat untuk para petani Tiram. Pada tahun 2015, dengan dukungan Lembaga Peningkatan Sumberdaya Manusia (LPSDM) Aceh, Syardani telah membuat program percontohan Budidaya Tiram dengan metode sederhana di Waduk Gampong Tibang - Alue Naga Kecamatan Syiah Kuala, Kota Banda Aceh. Tujuannya adalah untuk mengubah cara kerja dari tradisional (berat dan susah) ke semi modern (ringan dan mudah).

Intinya apa yang dilakukan Syardani tidak mengubah profesi pencari Tiram, hanya mengubah metode atau cara kerja yang lebih memudahkan dan meringankan pekerjaan mereka untuk mencari Tiram.

Dengan demikian maka pencari Tiram tidak perlu lagi harus turun merendam dalam air asin dan berlumpur untuk mengambil tiram, mereka cukup duduk di atas sampan atau perahu kecil untuk mengangkat collector (ban mobil bekas) yang telah dipenuhi dengan Tiram siap dipanen. "Sehingga tidak lagi terluka kaki dan tangannya karena sayatan cangkang tiram yang tajam," lirihnya.

Budidaya Tiram metode sederhana tersebut mudah ditiru dan dilakukan oleh siapapun. Dia juga berharap kepada stakeholder dan pengambil kebijakan untuk membantu ekonomi masyarakat kawasan pesisir laut. “Ini adalah program ekonomi rakyat yang berkelanjutan, namun masih banyak yang tidak menyadari,” pungkasnya.

Syardani menyebutkan  juga akan membeli hasil Tiram dengan harga Rp 15.000 per muk, padahal masyarakat yang selama ini mencari Tiram dengan berendam hanya menjual Rp 10.000/muk. “Karena ingin memberdayakan, Saya beli sedikit lebih mahal untuk membantu masyarakat," sebutnya.

Menurutnya, kebutuhan Tiram untuk pasar lokal cukup tinggi dan belum terpenuhi. Untuk itu, ia mengharapkan agar masyarakat yang berada di wilayah pesisir dapat membudidayakan tiram.  Budidaya tiram sangat mudah karena tidak perlu biaya pakan lagi,  hanya perlu siapkan media karamba saja. "Dengan modal 5 juta sudah bisa kita bangun bisnis tiram," sebutnya.

Syardani menjelaskan jika dalam keramba berukuran 5 x 2,5 meter bisa digantung 100 ban bekas. "Selama masa 6 bulan tiram tersebut sudah dapat dipanen sebanyak 15 muk/ban, kalau harga per muk 15 ribu saja, maka omset yang diperoleh mencapai puluhan juta. Sementara tiram yang masih berukuran kecil selanjutnya dipelihara lagi, sehingga kita bisa panen tiram setiap harinya," ujarnya bersemangat.

Tiram Jumbo

Syardani juga tengah mengembangkan Tiram Super Jumbo. Ada ratusan biji induk Tiram Super Jumbo berbagai ukuran dimasukkan dalam Oyster Mesh Bag (keranjang pembesaran tiram) dan ditempatkan di perairan Ulee Lheue dan Alue Naga, Kota Banda Aceh.

“Sebenarnya ini adalah Tiram genus Ostrea, species O. Edulis. Saya sebut Tiram Super Jumbo ini hanya untuk memudahkan dalam membedakan jenis Tiram yang tersedia di tempat kita, karena saya menjual dua jenis tiram yakni Tiram biasa atau yang ukurannya kecil dan Tiram Super Jumbo yang ukurannya cukup besar,” paparnya.

Tiram Super Jumbo ini dibudidayakan dengan menempel pada Oyster Mesh Bag (Keranjang Pembesaran Tiram) dan Pelampung yang merupakan bantuan Kodam Iskandar Muda (IM) yang diimpor khusus dari China. Kini, tiram jumbo sudah mulai berkembang yakni dapat terlihat dengan mata dimana Spat/anak - anak Tiram tersebut seukuran uang logam 500 rupiah sudah berjejer menempel di pelampung dan keranjang pembesaran.

Syardani memperkirakan ada ratusan ribu atau bahkan jutaan bibit Tiram Super Jumbo kini sudah menyebar di perairan kawasan Ulee Lheue dan Alue Naga. "Semoga semua bibit Tiram Super Jumbo ini akan hidup dan berkembang hingga bisa dipanen serta bermanfaat bagi petani tiram di kawasan itu. Jika ini berhasil saya berencana ingin mengembangkan di 18 kabupaten/kota lainnya di Aceh yang mempunyai wilayah pesisir laut," tuturnya.

Walau pernah kuliah di jurusan Kimia, namun Syardani adalah lulusan FKIP jurusan Bahasa Inggris USK, Banda Aceh 2016. Selain sebagai praktisi budidaya tiram sistem karamba, ia juga kerap tampil sebagai narasumber. Tak hanya itu, ia juga bersedia melatih para milenial, mahasiswa dan masyarakat yang ingin magang dan praktek dapat menghubungi Telp/WA 0811-6800-510.

Reporter : Abda
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018