Thursday, 12 March 2026


Pakan Rp400 Ribu per Karung Cekik Pembudidaya Keramba Berau, Untung Makin Tipis

23 Feb 2026, 09:54 WIBEditor : Gesha

Harga pakan ikan yang menembus Rp400 ribu per karung menekan pembudidaya keramba di Kabupaten Berau. Biaya produksi melonjak tajam, sementara harga jual stagnan, membuat keuntungan kian menipis dan usaha terancam.

TABLOIDSINARTANI.COM, Berau -- Harga pakan ikan yang menembus Rp400 ribu per karung menekan pembudidaya keramba di Kabupaten Berau. Biaya produksi melonjak tajam, sementara harga jual stagnan, membuat keuntungan kian menipis dan usaha terancam.

Kenaikan harga pakan pabrikan yang menembus Rp400 ribu per karung ukuran 30 kilogram menjadi pukulan telak bagi pembudidaya ikan keramba di Kabupaten Berau. Biaya produksi melonjak tajam, sementara harga jual ikan jalan di tempat. Akibatnya, keuntungan pelaku usaha kian tergerus, bahkan sebagian terancam gulung tikar.

Sektor perikanan yang selama ini menjadi salah satu andalan daerah kini menghadapi tekanan serius. Pembudidaya harus berjibaku menekan biaya agar usaha tetap hidup di tengah beban produksi yang terus membengkak.

Kepala Seksi Pengembangan Kawasan Dinas Perikanan Kabupaten Berau, Budiono, mengakui persoalan harga pakan menjadi keluhan paling dominan di lapangan.

“Potensinya besar dan terus kita dorong. Tetapi memang persoalan harga pakan ini yang paling sering dikeluhkan pembudidaya,” ujarnya.

Dalam usaha budidaya ikan, pakan menyumbang porsi biaya produksi paling besar. Ketika harga pakan melonjak, beban operasional langsung membengkak. Kondisi ini paling terasa bagi pembudidaya bermodal kecil yang memiliki daya tahan usaha terbatas.

Kenaikan biaya yang tidak diimbangi peningkatan harga jual membuat margin keuntungan semakin menipis. Bahkan, tak sedikit pelaku usaha hanya mampu menutup biaya produksi tanpa memperoleh keuntungan berarti.

Jika kondisi ini terus berlanjut, dikhawatirkan produksi ikan air tawar menurun dan berdampak pada stabilitas pasokan di daerah.

Tekanan biaya membuat pembudidaya memutar otak. Sebagian mulai beralih menggunakan pakan alternatif dari sisa makanan warung hingga produk makanan kedaluwarsa yang masih bisa diolah.

Langkah ini dilakukan sebagai strategi bertahan agar biaya produksi tidak semakin membengkak.

“Sekarang sudah banyak yang pakai pakan alternatif, seperti sisa makanan warung atau kue kedaluwarsa yang masih bisa diolah. Itu dimanfaatkan supaya biaya produksi bisa ditekan,” jelas Budiono.

Namun penggunaan pakan alternatif bukan tanpa risiko. Dari sisi kandungan nutrisi dan kualitas, pakan jenis ini belum mampu menyamai pakan pabrikan sehingga berpotensi memengaruhi pertumbuhan dan produktivitas ikan.

Pemerintah daerah telah menyalurkan bantuan pakan dan benih ikan kepada kelompok pembudidaya sebagai bentuk dukungan. Namun bantuan tersebut bersifat terbatas dan tidak diberikan secara rutin setiap tahun.

Budiono menyebut bantuan tersebut hanya sebagai stimulus awal agar pembudidaya dapat bertahan dan meningkatkan kemandirian usaha.

Di tengah harga pakan yang masih tinggi, pemerintah daerah berharap pengembangan pakan alternatif dan efisiensi produksi dapat terus diperkuat. Tanpa solusi jangka panjang, tekanan biaya dikhawatirkan terus membayangi sektor budidaya ikan keramba di Berau yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat pesisir.

Reporter : NATTASYA
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018