Sabtu, 25 Mei 2019


Uniknya Kearifan Lokal dalam Menjaga Hiu Paus

23 Peb 2019, 12:04 WIBEditor : Gesha

Hiu Paus harus dijaga dengan beragam kearifan lokal di Indonesia | Sumber Foto:ISTIMEWA

Hiu Paus ini dianggap sebagai ikan adat dan siapapun yang menangkapnya akan mendapatkan sanksi secara adat.

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta ---Indonesia memang kaya akan kearifan lokal yang turun temurun dipercaya dan menjadi budaya yang menarik hingga sekarang. Sebagian besar memang terkait dengan proses pelestarian dari biota tertentu, salah satunya hiu paus.

“Oleh penduduk Kwantisore ikan ini sering disebut ikan hantu lantaran kemunculannya yang tiba-tiba dari perairan dalam dan langsung muncul di samping perahu nelayan,” tutur Project Leader Bidang Kelautan di Teluk Cendrawasih dari WWF Indonesia, Juswono Budisetiawan.

Bahkan menurut penuturan warga asli Kwatisore, Yance ikan hantu ini dianggap sebagai ikan adat dan siapapun yang menangkapnya akan mendapatkan sanksi secara adat.

“Jika melihat dari perbukitan, Kwatisore ini mirip dengan ekor ikan hantu. Makanya kami percaya Kwatisore memang rumah tinggal mereka. Kami dilarang mengkonsumsinya,” ungkap Yance.

Baca Juga : Jangan Keburu Parno Kena Rabies, Pahami Dulu Tanda-Tandanya

Yuk Ibu-Ibu Belanja di Pasar Tani, Harga Terjangkau dan Bisa Ikut Bantu Petani

Khawatir Susu Palsu? Yuk Cek Kondisi Susu Segar yang Dibeli

Tak hanya di Kwatisore, Papua, kepercayaan kemunculan hiu paus merupakan tanda kesialan dan harus segera berputar arah ke darat, masih kental dan dipercaya oleh sebagian besar masyarakat nelayan di Cirebon.

Suku Bajo juga menyebut hiu paus dengan sebutan Kareo Dede dan dianggap sebagai nenek moyang suku Bajo sehingga apabila tidak sengaja menangkap hiu paus harus segera dilepaskan.

Kearifan lokal ini masih dijaga hingga sekarang. Bahkan jika perahu nelayan menjumpai ikan ini cenderung diam tidak bergerak atau kembali pulang.

“Dari sisi konservasi, perilaku tersebut sangat positif sebab sangat menghargai kehadiran ikan ini dan semakin memperkuat sebetulnya tanpa perlu banyak edukasi, masyarakat sudah mampu hidup berdampingan,” tutup Juswono

Reporter : Nattasya
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018