Saturday, 06 March 2021


Tahu Siksa, Kuliner Legendaris Tanah Betawi

02 Feb 2021, 14:59 WIBEditor : Yulianto

Memasak tahu siksa dengan minyak minimalis | Sumber Foto:Echa

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Tahu siksa. Pernah mendengarkah nama makanan itu? Bahkan pernah menjumpai pedagang yang menjual makanan tersebut? Dari namanya memang terkesan menyeramkan. Tapi sebenarnya tidaklah seseram namanya.

Bagi masyarakat betawi atau Jakarta, tahu siksa menjadi salah satu makanan khas, selain kerak telor. Tahu siksa ini sebetulnya tahu biasa yang digoreng dengan penggunaan minyak yang sangat sedikit sekali.

Menurut cerita masyarakat betawi jaman dulu memang suka sekali makan tahu. Penampakan tahu siksa tidak jauh  berbeda dengam yang biasa kita makan atau masak di rumah. Bedanya, hanya cara memasaknya yakni di goreng dengan minyak sedikit.

Menurut cerita Asep penjual tahu siksa di Tanah Baru Depok (daerah pinggir Jakarta Selatan), tahu siksa sering ditemui pada acara pernikahan atau perayaan betawi. Dulu banyak penjual yang menjajakan tahu siksa ketika ada tontonan layar tancep.

Asep sendiri kadang mendapat pesanan untuk acara pernikahan masyarakat Betawi. Tahu siksa ini biasa disandingkan dengan bir pletok, atau teh manis hangat.

Biasanya, tahu siksa disajikan dengan cabe rawit biasa, namun ada pula yang menyajikannya dengan kecap yang diberi potongan cabe rawit, ada juga dengan sambal kacang,” tutur Asep saat ditemui Sinta ditempat jualnya di Depok, beberapa waktu lalu.

Sederhana memang, tapi tidak mengurangi cita rasa otentik khas budaya Tanah Betawi. Semakin bangga dengan keanekaragaman budaya dan kuliner Indonesia, bahkan makanan sesimple inipun bisa menjadi kebahagiaan tersendiri, terlebih dinikmati bersama keluarga tercinta.

Asep mengungkapkan, sebenarnya tahu siksa adalah tahu Bandung kuning biasa yang digoreng memakai supersedikit minyak goreng. Setengah kilogram minyak bisa untuk menggoreng 800 potong tahu," ujar pria yang sudah berjualan tahu siksa selama 10 tahun itu.

Dengan minyak yang minimalis, tahu tidak bisa matang seutuhnya. Ketika sudah mulai terlihat sedikit kecokelatan atau gosong, tahu sudah bisa langsung diangkat.

Asep mengakui tidak mengetahui pasti sejarah nama tahu itu. Tapi masyarakat Betawi menyebut tahu Siksa. Saat menjual, Asep mempertahankan cara pengemasan tahu ini yakni menggunakan daun pisang. Dari dulu memang bungkusnya seperti ini," ujarnya.

Asep mengatakan biasanya pembeli ramai  saat bulan Ramadhan ketimbang hari biasa. Saat Ramadan penjualan tahu ini bisa mencapai 1.000 tahu/hari yang dijajakannya sejak pukul 15.00 WIB sampai menjelang magrib.

Biasanya menjelang puasa rame yang beli, saya pernah jual sampai 1000 lebih tahu. Alhamdulillah rejeki sedikit, tapi berkah, apalagi banyak ya,” ujarnya berseloroh.

Untuk dapat menikmati 10 potong tahu ini, cukup mengeluarkan uang Rp 7.000. Pembeli juga akan mendapatkan cabai rawit hijau atau sambal kacang sebagai bumbu.

Salah seorang pembeli tahu Siksa Ibnu asal Jagakarsa, 43 tahun, mengaku tahu ini unik dan jarang sekali ditemukan. “Karena penasaran dengan namanya makanya saya mampir sebentar ajak istri. Saya penasaran tahu apa kok ramai pembelinya, ternyata ini tahu siksa,” ujarnya.

Reporter : Echa
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018