Tuesday, 06 October 2026


Ini Cara Penanganan Daging Kurban yang Benar, Banyak Panitia Masih Salah Kaprah

13 May 2026, 10:13 WIBEditor : Gesha

Penanganan daging kurban tak boleh sembarangan. IPB University menekankan kebersihan, pemisahan jeroan, dan kecepatan proses agar aman konsumsi.

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta – Penanganan daging kurban tak boleh sembarangan. IPB University menekankan kebersihan, pemisahan jeroan, dan kecepatan proses agar aman konsumsi.

Penanganan daging kurban ternyata nggak bisa dilakukan sembarangan.

Mulai dari proses penyembelihan sampai pembagian, ada banyak hal teknis yang harus diperhatikan supaya daging tetap aman, higienis, dan layak konsumsi.

Ahli Kesehatan Masyarakat Veteriner dari IPB University Bogor mengingatkan, seluruh proses idealnya dilakukan di Rumah Potong Hewan (RPH) dengan standar kebersihan yang ketat. 

Tujuannya jelas yaitu mencegah kontaminasi dan menjaga kualitas daging kurban.

“Utamanya, hanya hewan kurban yang sehat yang boleh dipotong. Ini dasar paling penting sebelum masuk ke tahapan berikutnya,” ujar Dr. Medvet. drh. Denny Widaya Lukman, M.Si dari Divisi Kesehatan Masyarakat Veteriner dan Epidemiologi Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis IPB University.

Dalam prosesnya, ketersediaan air bersih yang cukup jadi salah satu faktor utama. 

Air ini digunakan untuk mencuci peralatan, tangan petugas, hingga proses pembersihan jeroan.

Selain itu, penanganan karkas juga harus dilakukan dengan benar. 

Daging tidak boleh menyentuh tanah, lantai, atau benda kotor lainnya. 

Salah satu cara yang dianjurkan adalah dengan menggantung karkas agar tetap bersih dan tidak terkontaminasi.

“Penanganan karkas digantung itu penting supaya daging tidak kontak langsung dengan tanah atau lantai yang bisa membawa kotoran,” jelasnya.

Jeroan Harus Dipisah

Hal lain yang sering disepelekan adalah pengolahan jeroan. 

Padahal, bagian ini justru paling rawan kontaminasi jika tidak ditangani dengan benar.

Jeroan dibagi dua kategori, yakni jeroan merah dan jeroan hijau. 

Jeroan merah meliputi paru, jantung, hati, limpa, dan ginjal. Sementara jeroan hijau terdiri dari perut dan usus.

Menurutnya, kedua jenis jeroan ini harus dipisahkan sejak awal proses pembersihan.

“Jeroan hijau harus dicuci bersih, tapi air limbahnya jangan dibuang ke selokan atau sungai. Harus dialirkan ke septic tank atau lubang khusus,” tegasnya.

Hindari Kontaminasi Silang

Panitia juga diminta untuk benar-benar menjaga agar daging tidak terkena isi jeroan, kotoran, tanah, maupun benda-benda yang tidak higienis lainnya.

Termasuk menjaga kebersihan tangan para petugas dengan rutin mencuci tangan selama proses berlangsung.

Selain itu, waktu proses juga harus diperhatikan. 

Mulai dari penyembelihan sampai pemisahan daging sebaiknya tidak dilakukan terlalu lama.

“Kalau terlalu lama dan ditumpuk di tempat panas sebelum diproses, itu bisa mempercepat pembusukan karkas,” tambahnya.

Setelah daging dipisahkan, langkah berikutnya adalah segera memindahkannya ke tempat yang lebih bersih untuk proses pemotongan dan pembagian. 

Jangan dibiarkan terlalu lama di area penyembelihan.

Dengan penanganan yang tepat, daging kurban tidak hanya lebih higienis, tapi juga lebih aman dikonsumsi masyarakat.

Intinya, menurut IPB University, kunci utama bukan hanya di proses penyembelihan, tapi juga disiplin kebersihan dari awal sampai akhir.

Reporter : Nattasya
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018