Sabtu, 17 Agustus 2019


Urban Farming Bambang Jasnanto Menembus Batas

16 Jun 2019, 13:29 WIBEditor : Ahmad Soim

pada lahan sempit, hanya 230 m2, Bambang budidaya beragam ternak dan berkebun bunga | Sumber Foto:Arif

M. Chairul Arifin - Catatan perjalanan


TABLOIDSINARTANI.COM - Yuuk kita jalan selepas solat subuh,   menerobos keheningan jalan Tol menuju Bandung Barat, menemui petani peternak yang  sukses mengembangkan  urban farming di tengah padatnya pemukiman di Bandung.

Bandung, salah satu kota terpadat di tanah air dengan luas.167,67.Km2  dan penduduk Bandung Raya berjumlah 8,7 juta jiwa, berarti per KM2 dijejali dengan 15.000 manusia, yang mengakibatkan Bandung sangat padat. Hampir semua lahan terpakai untuk pemukiman, industri dan jasa yang tidak menyisakan sedikitpun untuk budidaya pertanian.

Seorang pemuda paruh baya Bambang Jasnanto terlihat  tekun bertani di tengah cekaman lingkungan yang padat dan suara knalpot motor dan mobil. Pak Bambang mengembangkan usaha budidaya ayam ras pedaging, petelur, puyuh, kolam ikan dan kebun yang semua komoditi ini terintegrasi dengan sistim pertanian hidroponik. Usahanya ini sangat efisien dilakukan di halaman rumahnya yg luasnya hanya 230 M2 . Jadi praktis dalam halaman sesempit itu ada mahluk ayam ras pedaging berbagai umur 200 ekor, petelur 96 ekor, puyuh 800 ekor, dan masih dipelihara kolam ikan,  kebun serta beberapa tanaman bunga.

Dengan tehnik hidroponik,  Bambang mengatur tata ruang begitu rupa, sehingga di bagian depan halamannya diisi kandang ayam petelur dan pedaging yang diatur bertingkat dan setiap tingkatnya diberi pipa paralon yang telah dibelah ditempatkan di depan kandang sebagai tempat makan ayam dan di belakang  kandang sebagai tempat air minumnya. Di belakang samping rumahnya ditempatkan puyuh, agak berjejalan tapi tetap memungkinkan ratusan puyuh itu makan dan minum.

Bambang, pemuda kelahiran Karanganyar Surakarta 57 tahun yang lalu itu, mengembangkan usaha budidaya hidroponik bersama David yang kebetulan dia juga seorang motivator pelatihan sehingga terjadi sinergi kegiatan tidak saja usaha beternak hidroponik tetapi menjadi usaha pelatihan hidroponik dan penjualan perlengkapannya, pelatihan agribisnis  puyuh( karena puyuh rentan terhadap perlakuan), pelatihan untuk motivasi, aksi sosial therapi kesehatan, supermarket pangan sehat yaitu karkas ayam dan puyuh, telur ayam dan puyuh, bakso puyuh&aneka olahan puyuh serta ayam lain.

Produk produk yang dihasilkan dari farm hidroponik ini   berbeda dengan produk sejenis di pasaran.   Bambang, David dan Dedi tidak enggan untuk mendemonstrasikan karkas yang tidak bau prengus (amis) malahan dimakan begitu saja juga bisa, karena saking empuknya baik karkas maupun jerohannya.

Hebatnya lagi karkas dan jerohannya,  gampang sekali dirobek karena lunak dan digoreng tanpa minyak dan bumbu. Rasanya gurih sekali. Mutu telor ayamnya juga begitu. Telor yang telah memperoleh pengakuan dari lembaga MBrio bahwa telurnya telah mengandung Omega 3,6 dan 9 serta kalau ditusuk-tusuk kuning telurnya tetap utuh serta dapat diangkat utuh dan dapat ditekan begitu saja karena bau amis telor tidak ada sama sekali.

Ditanya, apa rahasia produk itu bisa sampai sebaik itu (malah lebih baik dari Wagyu Jepang),  Bambang yang lulusan S-3 Music Education di Paedagogische Hochshuelle Heildelberg Jerman (1994-2000) buka suara. Dia mencampurkan zat yang dia sebut sebagai ENZACT 120 yg merupakan nutrisi tinggi bagi unggas, memperbaiki metabolisme unggas, FCR lebih rendah, menyebabkan kotoran unggas kering dan tidak berbau, detoksifikasi residu antibiotik sehingga menjadikan daging sehat, tinggi protein, rendah kolesterol dan kaya akan Omeg 3,6,9.

Untuk ternak lainnya senyawa ENZACT ini juga bermanfaat misal untuk babi, sapi potong, sapi perah, kambing atau ternak yang sedang sakit. Tentunya hal ini memerlukan intervensi pelayanan dokter hewan.

Empuknya daging itu juga sebagai akibat ENZACT  yang membuat Dedie terkagum kagum,, karena Dedie sendiri mengembangkan  tehnologi Aging System yaitu suatu tehnologi Karuhun Sunda Memeram (meuyeum) dengan mengatur temperatur, kelembaban dan sirkulasi udara dipadukan dengan ketepatan waktu sesuai dengan keempukan daging yang diinginkan pada daging sapi. Yang ini dikatakan oleh Kang Dedie Soekartin yang sudah malang melintang di mancanegara, sehingga dia sekarang dianggap sebagai The Inventor of Aging Meat Technology in Indonesia.

Bambang sengaja tidak menjual produknya ke pasaran umum misalnya supermarket karena harganya cukup tinggi. Harga karkas ayam saja dihargai Rp. 75 ribu perkilo. Dia menjualnya di rumah saja, mengundang orang, didemokan/diedukasi, lalu orang orang pada beli serta repeat order.  Tidak jarang, Dia juga menyajikan makan siang open space di tengah tengah kandang ayam bersama kotorannya. Karena tidak ada bau H2S dan amoniak sama sekali, maka tanpa terasa p Sesba menyendok ulang nasi, "tanduk" tanda perut memang sdh lapar ditengah teriknya sengatan matahari.

Jadi Bambang Janasto, merupakan pionir sekaligus motivator urban farming, yang dia katakan sendiri terinspirasi dari kegiatan KRPL, Kawasan Rumah Pangan Lestari dan memodifikasi lahan pekarangannya yg sempit menjadi urban farming seiring dengan dekade nya FAO yaitu Dekade Pangan Keluarga.

Ribuan alumninya tersebar di beberapa kota besar di Jawa yaitu Jakarta, Bandung, Tangerang, Semarang, Yogya, Solo dan Surabaya. Mereka inilah yg akan mengembangkan  urban farming ditempat asalnya. Sebagian berhasil dan sebagian putus ditengah jalan karena tidak all out menangani urban farming. Tetapi Bambang Jasnanto telah menyebarkan _virus NAch _ yg nyebar ibarat kanker tanpa disadari.

 Maka Lupakan sejenak Symponi Ludwig Bethoven: Bagatelle itu A Minor, WoO 59- Fur Elise yang terkenal itu, lupakan pula aransemen dan mengajar music di sekolah. Mari Hidup Sehat kata Bambang Jasnanto mengakhiri.

Depok, 15 Juni 2019

Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018