Sabtu, 17 Agustus 2019


Mie Pangan Lokal, Mengapa Tidak?

24 Jun 2019, 11:33 WIBEditor : Yulianto

Produk mi jagung | Sumber Foto:Julian

Padahal melihat potensi sumberdaya pangan lokal yang bisa menjadi bahan baku mi cukup besar. Bahkan Balai Besar Pascapanen Pertanian, Badan Litbang Pertanian, telah memiliki teknologi pengolahan mi berbahan baku tepung dalam negeri, seperti ubi kayu,

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor--- Banjirnya produk pangan impor seperti terigu membuat masyarakat Indonesia kini lebih terbiasa mengkonsumsi mi berbahan baku impor tersebut. Kondisi tersebut membuat perhatian terhadap pangan lokal pun menjadi terabaikan.

Padahal melihat potensi sumberdaya pangan lokal yang bisa menjadi bahan baku mi cukup besar. Bahkan Balai Besar Pascapanen Pertanian, Badan Litbang Pertanian, telah memiliki teknologi pengolahan mi berbahan baku tepung dalam negeri, seperti ubi kayu, shorgum, sagu dan anjeli.

“Kita ini bukan produsen terigu, hampir 11 juta ton kita impor terigu tiap tahun. Karena itu kita perlu memperhatikan kembali pangan lokal. Bahkan sesuai UU Pangan kita punya kewajiban mengembangkan pangan lokal,” kata Peneliti Balai Besar Pascapanen Pertanian, Heni Herawati di sela-sela Bimtek Pengolahan Mi Nusantara di Bogor, beberapa waktu lalu.

Menurutnya, potensi ubi kayu sebagai bahan baku tepung mi cukup besar dari ujung barat hingga timur Indonesia. Dari mulai Sumatera Utaran, Bangka Belitung, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Tenggara, NTB, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah dan Maluku.

Potensi lainnya ungkap Heni adalah jagung. Komoditas tersebut banyak ditanam petani di Jawa Tengah, Jawa Timur, Gorontalo, NTT, NTB. Sedangkan potensi ubi jalar berada di Aceh, Sumatera Utara, Riau, Bengkulu, Banten dan Papua. Belum lagi potensi sagu yang tersebar di Riau, Pulau Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua.

Dengan potensi yang sangat besar itu, BB Pascapanen Pertanian telah menghasilkan teknologi pengolahan mi dari tepung lokal. Namun demikian Heni mengakui, pengolahan mi berbahan baku tepung lokal memerlukan penanganan secara khusus. “Karena tidak mengandung gluten yang memiliki sifat fungsional dan elastistis tinggi perlu cara sendiri dalam membuat mi lokal,” ujarnya.

Heni mengungkapkan, jika yang ada hanya kandungan pati saja, maka akan berpengaruh terhadap tekstur mi. Karena itu untuk membuat mi bahan baku lokal harus melalui tahap glatinisisasi. “Proses glatinisasi ini menjadi titik kritis saat mencetak olahan mi,” katanya.

Sementara itu peneliti BB Pascapanen Pertanian lainnya, Elmi Kamsiati menambahkan, salah satu kelemahan bahan baku lokal untuk membuat mi adalag teksturnya tidak kenyal, sehingga mudah patah karena tidak mengandung gluten. Karena itu formulanya harus dibuat secara tepat agar bisa menghasilkan produk mi yang sesuai diinginkan.

Biasanya terigu masih ada yang menggunakan untuk campuran dalam jumlah tertentu dalam pembuatan mie dari bahan pangan lokal untuk memperoleh tekstur yang baik,” kat Elmi.

Metode pembuatan mi

BB Pascapanen Pertanian telah mengembangkan metode Sheeting untuk membuat mi pangan lokal. Dalam metode ini, adonan yang diformulasi, dicetak berbentuk lembaran yang kemudian dipotong menjadi untaian mi.

Metode lainnnya adalah Ekstrusi. Proses  yang melibatkan pemberian tekanan dan daya dorong terhadap suatu bahan pangan pada kondisi (panas dan tekanan) melewati die plate (tahanan) untuk memberikan bentuk yang diinginkan.

Elmi mencontohkan cara pembuatan mie singkong dengan mencampurkan tepung ubikayu dengan garam, aduk sampai rata. Lalu Tambahkan kuning telur, campur sampai rata. Tambahkan air, campur sampai rata. Kemudian letakkan pada kain saring, padatkan, kukus selama 25 menit. Proses  dan cetak dengan ekstruder. Keringkan, suhu 50°C, 3 jam. Mi singkong pun jadi.

Untuk membantu masyarakat mengolah mi lokal, BB Pascapanen Pertanian mengadakan Bimtek. Dalam Bimtek dilakukan praktek pengolahan dan produksi mi dan pelatihan membuat branding dan kemasan. Siapa mau mencoba?

 

 

 

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018