Rabu, 18 September 2019


Mengintip Pabrik Gula Pertama Milik Pribumi yang Semakin Instagramable

04 Sep 2019, 17:57 WIBEditor : Gesha

Ayo berkunjung ke Colomadu, banyak sejarah dan spot instagramable yang kece ! | Sumber Foto:Clara

TABLOIDSINARTANI.COM, Surakarta --- Beberapa bangunan peninggalan Belanda maupun pribumi di Indonesia memang kini tengah mengalami pemugaran agar semakin cantik dan instagramable. Salah satunya, Pabrik Gula (PG) Colomadu yang semakin intagramable.

Gula memang menjadi salahsatu komoditi utama ekspor pada era Hindia Belanda. Bahkan menempatkan Pulau Jawa sebagai produsen gula nomor dua setelah Kuba. Makanya tak heran di Pulau Jawa terdapat 193 Pabrik Gula (PG) pada era tersebut.

PG yang dibangun pada masa itu, memang didominasi dibuat oleh Pemerintah Hindia Belanda, tetapi ada 1 PG yang lokasinya berada di Kabupaten Karanganyar, Surakarta, yakni PG Colomadu yang dibangun oleh Bumiputera, yaitu Mangkunegara IV. Dibangun pada tahun 1861 di Dusun Krambilan, Desa Malangjiwan, Karanganyar, Surakarta.

Mulai beroperasi 1862 dan kemudian berhenti beroperasi pada tahun 1998 karena kesulitan bahan baku dan krisis ekonomi. Agar generasi sekarang tidak lupa akan sejarah bahwa Indonesia dulunya penghasil tambang ‘emas’ manis (gula), PG Colomadu direvitalisasi dan dijadikan museum dengan namanya diubah menjadi De Tjolomadoe.

Dengan membeli tiket masuk seharga Rp 25 ribu per orang, Anda dapat menjelajah PG yang dulunya merupakan salahsatu PG terpenting di Pulau Jawa. Seluruh area di De Tjolomadoe cukup instagramble, apalagi berkunjung pada saat malam hari, ditambah deretan lampu yang instagenik, menjadikan foto-foto di De Djolomadoe cukup keren dipajang di media sosial.

Ketika memasuki gedung, akan disambut dengan bangunan pabrik khas Eropa dengan ubin yang warnanya seperti pion catur. De Tjolomadu sendiri ada terbagi ke dalam 3 bagian, yakni Stasiun yang berada di gedung bekas PG Colomadu serta Hall (Tjolomadoe Hall dan Sarkara Hall).

Di dalam gedungnya, terdapat 4 stasiun, yakni: Stasiun Gilingan, Stasiun Ketelan, Stasiun  Penguapan dan Stasiun Karbonatasi. Yang difungsikan sebagai museumnya adalah Stasiun Gilingan. Ketika kita masuk ke dalam gedung, akan disambut dengan gilingan tebu yang sangat besar. Masuk ke dalam ruangan, di dalamnya memuat sejarah PG Colomadu dibangun, miniatur proses pengolahan gula di PG, baju pegawai PG, mesin ketik PG, blue print PG Colomadu dan masih banyak lainnya. Di dalam rungan ini terdapat spot-spot instagramble, bahkan area foto kekinian, yakni paint art glow in the dark.

Setelah keluar dari ruangan, akan disambut dengan mesin penguapan yang menandakan kita sudah berada di Stasiun Penguapan yang di dalamnya, tepatnya di atas terdapat mesin-mesin penguapan. Di dekat Stasiun Penguapan, terdapat pintu yang diatasnya tertera Stasiun Ketelan.

Area Stasiun Ketelan ini terdapat Art and Craft dan café. Bahkan ada café kopi yang cukup banyak pengunjungnya. Di area ini terdapat tempat Ketel Tekanan Rendah, yakni ada dua besi berbentuk bulat bolong-bolong tertempel di tembok dan menjadi area foto yang cukup instagramble.

Bisa saja, kita langsung keluar gedung lewat Stasiun Ketelan, tetapi coba pada saat berada di Stasiun Penguapan, berjalan ke arah belakang, masih ada stasiun lagi yang terlupakan, yakni Stasiun Karbonatasi. Di stasiun ini terdapat alat karbonatasi untuk akhir proses tebu menjadi gula.

Menjelajah De Tjolomadoe cukup dimasukan ke list liburan pada saat berada di kota yang terkenal makanan tengklengnya. Dengan harga yang relatif terjangkau, kita dapat pengetahuan mengenai PG pertama milik bumiputera dan foto-foto keren yang dapat dipamerkan di media sosial. Buka setiap hari Selasa-Minggu (senin libur) dengan jam berkunjungnya mulai dari pukul 10 pagi hingga 9 malam. Jadi tunggu apalagi, yuk ke De Tjolomadoe!

Reporter : Clara
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018