Thursday, 02 April 2020


Gara-Gara Virus Corona, Pelaku Usaha Hortikultura Dapat Berkah

18 Feb 2020, 17:03 WIBEditor : Indarto

Petani sedang panen jeruk lemon | Sumber Foto:Dok. Istimewa

Bisnis hortikultura, khususnya jeruk lemon memiliki prospek cukup cerah. Potensinya cukup besar. Permintaan jeruk lemon di pasar juga cukup tinggi.

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Merebaknya virus corona yang berdampak diberhentikannya impor hortikultura dan produk pertanian dari China berimplikasi positif bagi pelaku usaha hortikultura. Dengan diberhentikannya impor hortikultura dari Negeri Tirai Bambu tersebut,  akan terjadi pengurangan pasokan  sejumlah produk hortikultura, --seperti jeruk lemon di dalam negeri--, yang bisa dipenuhi pelaku usaha hortikultura di tanah air.

Pendiri Duta Farm, Sakir Nugraha mengatakan, dengan ditutupnya pasar impor dari Negeri Tirai Bambu itu, lanjut Nugi, akan menjadi berkah bagi pelaku usaha hortikultura. Sebab, sejumlah pelaku usaha hortikultura bisa memanfaatkan moment tersebut untuk mengisinya.

“Bisnis hortikultura, khususnya jeruk lemon memiliki prospek cukup cerah.  Potensinya cukup besar. Permintaan  jeruk lemon di pasar juga cukup tinggi,” ujar Sakir Nugraha, di Jakarta, Selasa (18/2)

Nugi, panggilan akrab Sakir Nugraha juga mengatakan, kebutuhan jeruk lemon di pasar lokal sekitar 20 ton/minggu. Dari jumlah tersebut, hanya sekitar 5 ton/minggu yang terpenuhi. Artinya, sebagian besar kebutuhan jeruk lemon masih impor.

Namun, menurut Nugi, untuk mengisi peluang pasar tersebut tidaklah mudah. “Sebab, kita belum mampu bersaing dengan jeruk lemon yang diimpor. Salah satunya adalah, minimnya  fasilitas yang dimiliki petani. Misalnya, petani tak punya ruang pendingin. Petani juga tak punya mesin untuk grading,” kata Nugi.

Selain itu, kata Nugi, terjadinya fluktuasi  harga jeruk lemon di pasar juga menjadi kendala tersendiri bagi pelaku usaha. “Saat ini harga jeruk lemon impor Rp 12 ribu/kg, sehingga kita sulit untuk bersaing di pasar. Karena jeruk lemon yang dibeli dari petani harganya tak jauh beda dengan jeruk lemon impor,” ujarnya.

Nugi juga mengatakan, meskipun dari China sudah di-stop, pemerintah masih membuka keran impor jeruk lemon dari Afrika dan Australia. Artinya, ada kemungkinan, kekurangan pasokan jeruk lemon (dari China) , tak tertutup kemungkinan dipenuhi dari  Afrika dan Australia.

Kendati begitu, Nugi tetap optimis, pelaku usaha hortikultura mampu menjadi “tuan di negeri sendiri”. “Kalau tak mampu bersaing di pasar impor atau ekspor, kami tak akan menjual jeruk lemon dari petani lokal secara gelondongan. Artinya, jeruk yang kami beli dari petani, akan kami jual langsung ke pabrik. Nah, pabrik pengolahan tersebut yang nantinya menjualnya ke pasar,” papar Nugi.

Menurut Nugi,  jeruk lemon yang dibeli dari petani dengan harga Rp 6.000/kg itu langsung dijual ke salah satu pabrik di Tangerang. Volumenya rata-rata 6-15 ton/minggu. “Jeruk lemon tersebut kami beli dari petani Lampung, Sukabumi, dan Pangalengan,” ujarnya.

Nugi juga meyakini, dengan pola kerjasma dengan petani yang dilakukan selama ini, akan mampu memenuhi permintaan pasar (pabrik).   Seperti di Jawa Barat (Jabar), produksinya rata-rata 50 ton/ minggu. “Jadi, dari tiga tempat itulah kami suplainya kami datangkan,” ujarnya.

Meski pola pemasarannya melalui pabrik (tak langsung) ke pasar eceran (grosur), kata Nugi, adanya kebijakan penutupan impor hortikultura akan menjadi peluang  bagi pelaku usaha hortikultura di dalam negeri.  

Mengapa peluangnya semakin terbuka? Menurut Nugi, selama ini  permintaan jeruk lemon di dalam negeri cukup besar. Sayangnya, produksi jeruk lemon dari petani belum mampu memenuhi tingginya permintaan tersebut. “Kita bisa mengisi pasar dalam negeri sebesar 20%-nya saja sudah cukup bagus,”  ujarnya.

Nugi mengatakan,   semakin pesatnya pertumbuhan kuliner dan perkembangan resto dan hotel di kota-kota besar menjadi salah satu pendorong tingginya permintaan jeruk lemon di pasar lokal. Apalagi, dengan tren hidup sehat, jeruk lemon yang memiliki kadungan vitamin C tinggi, menjadi pilihan masyarakat.

 

 

 

 

Reporter : Dimas
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018