Thursday, 22 October 2026


Hasilnya Menggiurkan, MT II Petani Gresik Tanam Kangkung

10 Jun 2020, 13:13 WIBEditor : Yulianto

Petani di Gresik memanfaatkan lahannya untuk menanam kangkung pada musim tanam kedua

TABLOIDSINARTANI.COM, Gresik---Sejumlah petani di Desa Banjaran, Kecamatan Driyorejo, Kabupaten Gresik Jawa Timur, menyiasati musim kemarau atau musim tanam kedua dengan menanam kangkung. Penanam dilakukan sudah  sejak awal Mei lalu. Hasilnya pun menggiurkan.

Juma’iyah, salah satu anggota  Kelompok Tani (Poktan) Banjarsari di Desa Banjaran Kecamatan Driyorejo mengatakan, sudah menjadi kebiasaan jika musim  walik dami  atau musim tanam kedua (MT II) setelah tanam padi pertama, petani selalu menanam kangkung, bukan untuk sayur melainkan dijual benihnya.

Hal ini bukan tanpa alasan. Pasalnya, sebagian besar lahan di wilayah Kecamatan Driyorejo adalah lahan tadah hujan. Karena itu, untuk musim tanam kedua, banyak  petani yang mengalihkan tanam dari komoditas padi ke komoditas yang lain. Misalnya, tanaman jagung, kangkung, cabai dan lain-lain.

Mengapa petani bertanam kangkung setelah padi? Menurut Juma’iyah, karena budidayanya cukup mudah, tidak membutuhkan perawatan yang rumit dan hasil panen lumayan tinggi harganya.

Bahkan saat panen kangkung musim tanam tahun lalu, harga benih kangkung varietas unggul mencapai Rp 29.000/kg. Dengan luas lahan 1 ha membutuhkan sekitar 1 kg benih kangkung untuk ditanam dan menghasilkan sekitar 1,5 ton. Hitungannya, petani memperoleh keuntungan sebesar Rp 43,5 juta. Keuntungan ini sangat menggiurkan petani di Desa Banjaran.

Meski kondisi Covid-19, Koordinator penyuluh di BPP Kecamatan Driyorejo, Bambang Pujaratna, beserta PPL di wilayah binaan Desa Banjaran, tetap mendampingi dan mengawal petani dan persiapan New Normal.

Menurut Bambang, benih kangkung yang dihasilkan petani, disamping dimanfaatkan kembali untuk benih, juga di ekspor ke mancanegara, seperti Philipina, Thailand, India hingga Jepang. “Menanam kangkung itu lebih menguntungkan dibandingkan tanaman jagung, kedele atau tanaman lainnya pada saat kemarau,” kata Juma’iyah.

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL) menilai, tanggung jawab penyuluhan bukan hanya agar pertanian bisa maju. Tetapi juga pertanian harus menggunakan cara baru untuk bisa menghadirkan efektivitas atau kemampuan yang lebih banyak lagi.

"Pertanian bukan hanya menumbuhkan tanaman tapi menghadirkan hati, pikiran dan gerakan agar hidup bisa lebih baik dan yang pasti jika pertaniannya bisa hadir serta massif (gerakannya)," tutur SYL.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Prof. Dedi Nursayamsi mengatakan, salah satu upaya yang dilakukan petani pada masa pendemi Covid 19 adalah memanfaatkan peluang di bidang produksi on-farm.

"Masalah pangan adalah masalah hidup matinya suatu bangsa. Banyak yang bisa dikerjakan untuk menaikkan nilai pertanian, baik on farm maupun off farm khususnya pasca panen. Tuntutannya adalah petani harus berinovasi. Buat terobosan agar hadir produk-produk baru," papar  Dedi. 

Reporter : Bambang P/Yeniarta (BBPP KETINDAN)
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018