Tuesday, 27 October 2020


Salak Pondoh Sleman Tak Surut Diterpa Covid-19

29 Sep 2020, 15:54 WIBEditor : Yulianto

Penanganan salak pondoh di CV Mitra Turindo | Sumber Foto:Dok. Humas Ditjen Horti

TABLOIDSINARTANI.COM, Sleman---Salak menjadi komoditas hortikultura yang selama ini mampu menembus pasar ekspor. Di tengah pandemi Covid-19, buah bersisik ini tetap melenggang ke mancanegara.

Siapa yang tak mengenal salak pondoh asal Sleman. Kabupaten yang berada di DI Yogyakarta itu memang terkenal sebagai salah satu sentra utama salak pondoh, bukan hanya di Kota Gudeg, tapi juga di Nusantara. Bahkan salak pondoh Sleman ini mampu menembus pasar ekspor.

CV. Mitra Turindo menjadi salah satu eksportir salak pondoh yang kini mengirim ke pasar Kanada dan beberapa negara yang lain. Perusahaan ini bermitra dengan kelompok tani salak pondok yang tergabung dalam Paguyuban Petani Salak Turindo. Dengan luas lahan paguyuban sekitar 150 ha, petani menanam varietas Salak Pondok Super.

Di tengah pandemi Covid-19, Direktur CV Mitra Turindo, Suroto mengakui, pengiriman salak ke luar negeri mengalami penurunan dari sebelum terjadinya pandemi. Jika biasanya dalam 1 bulan bisa mencapai 10-15 kali pengiriman dengan volume lebih dari 5 ton. Namun selama Covid-19, pengiriman menurun sekitar 30 persen.

Selama Maret sampai September, pengiriman baru tujuh kali. Meskipun mengalami penurunan, Suroto mengatakan, pihaknya masih bisa mengekspor salak pondok sebanyak 4.600 kg ke Kanada pada September 2020.

Saat ini CV. Mitra Turindo memasarkan salak pondoh dari 13 kelompok tani. Diantaranya, Poktan Kusuma Mulya, Kembang Mulyo, Sicantik,  Sumber Mulyo, Muda Jaya, Sri Manunggal, Sedyo Makmur, Mekar Lestari, Sido Makmur, Sumber Makmur, Ngudi Makmur, Sari Madu dan Poktan Tunas Muda.

Suroto mengatakan, untuk bisa menerima produk salak pondok dari kelompok tani, pihaknya menetapkan persyaratan mutu.  Diantaranya, salak harus dari kebun teregister, buah harus segar, utuh dan tidak cacat, kematangan buah antara 60-75 persen dan dalam 1 kg salak berisi antara 10-17 buah.

Kelompok Tani Kusuma Mulya adalah salah satu kelompok yang memproduksi  dan memasarkan salak melalui CV. Mitra Turindo. Kelompok tani yang terletak di Cepit, Sukorejo, Girikerto, Kec. Turi, Kab. Sleman, DI Yogyakarta, mempunyai luas lahan 2,84 ha dengan produksi 8 kg/rumpun.  Selain dijual dalam bentuk segar, kami juga mengolah biji salak menjadi kopi,“ ujar Ketua II Kelompok Tani Kusuma Mulya, Endang. 

Endang mengatakan, salak pondok Poktan Kusuma Mulya telah mendapatkan sertifikat organik dari Control Onion Certification pada 21 April 2017 lalu.  Selain itu, kebunnya mendapat Sertifikat Produk Prima-3 (aman dikonsumsi) dari Otoritas Kompeten Keamanan Pangan Daerah  Provinsi DI. Yogyakarta pada 18 Oktober 2012 dan telah diregistrasi kebun dengan nomor GAP 01-34.04.1383-T.050 tahun 2018 lalu.

Secara terpisah, Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hortikultura, Bambang Sugiharto mengungkapkan pentingnya penanganan pascapanen yang baik (Good Handling Practices). “Pemberlakuan Good Handling Practices di kelompok tani yang memasok salak pondok ke CV. Mitra Turindo diharapkan dapat meningkatkan mutu buah salak di Kabupaten Sleman dalam rangka memperluas pasar ekspor,” ujarnya.

Bukan hanya di Sleman, tanaman salak juga banyak berkembang di Magelang, Padang Sidempuan, Karangasem, Enrekang, Lombok Barat dan beberapa daerah lain. Potensi pasar ekspornya terbuka lebar ke China. Salah satu nota kesepakatan yang diminta adalah buah yang berasal dari kebun dan packing house yang memiliki nomor registrasi.

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo berharap angka ekspor buah lokal dapat terus meningkat. Dengan menumbuhkan ekspor di manca negara, membuktikan buah lokal dapat bersaing dan berkualitas.

 

Reporter : Kontributor
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018