
Tya, milenial yang terjun ke dunia jamur
TABLOIDSINARTANI.COM, Subang---Tren konsumsi jamur pangan semakin meningkat di kalangan masyarakat. Hal ini karenajamur memiliki rasa yang enak, tinggi protein, bebas lemak, rendah kalori, dan bebas kolesterol. Selain itu, budidaya jamur pangan, terutama jamur tiram sangat mudah, hanya dengan memanfaatkan media tanam serbuk gergaji yang didapat dari limbah tukang kayu.
Dengan peluang tersebut ditangkap petani yang berada di Kabupaten Subang, Jawa Barat. Lokasi budidaya jamur di Subang tersebar di beberapa kecamatan antara lain Jalan Cagak, Patok Besi, Ciasem, Sagalaherang, Pagaden, dan Pagaden Barat.
Ketua Poktan Jamur Tiram Mandiri, Acep Mansyur menyatakan, budidaya jamur tiram memang sangat menjanjikan. Budidaya jamur tiram ini menurutnya, memang menguntungkan. Dengan bantuan 16.000 baglog dari Kementan, diperkirakan kami dapat meraup keuntungan hingga Rp 12 juta per bulan dalam satu periode tanam.
Sedangkan Ketua Poktan Jamur Tiram Sadjati, Gatot Amanto turut mengamini pernyataan Acep tersebut. Poktan Jamur Tiram Sadjati saat ini memiliki tiga kubung jamur dengan kapasitas masing-masing 12.000 baglog, 13.000 baglog, dan 35.000 baglog. Dalam satu periode tanam, bisa diperoleh nilai penjualan hingga Rp 152 juta.
Dari 3 kubung, Gatot mengakui, bisa menghasilkan hingga 150 kg jamur segar setiap hari. Dengan harga di tingkat petani sekitar Rp 10 ribu/kg, petani bisa memperoleh nilai penjualan hingga Rp 152 juta. Jika dipotong dengan biaya baglog Rp 3 ribu per buah, kira-kira kami bisa dapat profit Rp 38 juta per periode musim tanam.
Gatot menyampaikan, bahwa peluang lain yang menambah keuntungan dari budidaya jamur adalah limbah yang dihasilkan dapat dimanfaatkan menjadi kompos pupuk, wood pelet (bahan bakar kompor kayu), dan bahan campuran batu bara. Bahkan untuk limbah plastiknya ditampung oleh pengepul untuk di daur ulang dengan harga jual Rp 1.000 – 2.000/kg.
Menurut Kepala Bidang Hortikultura Dinas Pertanian Kabupaten Subang, Endra Mulyawan, dua komoditas jamur andalan dari daerahnya ini adalah jamur merang dan jamur tiram. Subang menurutnya, awalnya dikenal sebagai daerah penghasil jamur merang. Namun saat ini, Subang juga menjadi salah satu sentra penghasil jamur tiram.
Dalam kunjungan kerjanya ke Subang akhir Februari lalu, Direktur Jenderal Hortikultura, Prihasto Setyanto mengajak para petani milenial untuk berbudidaya jamur sebagai alternatif sumber pendapatan karena menguntungkan dan memiliki pasar yang menjanjikan.
“Kementerian Pertanian mendukung pengembangan jamur yang dilakukan oleh petani. Dalam situasi pandemi sekarang, budidaya jamur tiram merupakan usaha yang sangat menarik sekali karena dapat dikerjakan di lingkungan rumah, tidak memerlukan banyak lahan, pangsa pasar yang luas, dan harganya juga bagus," ujar Prihasto.
Dalam arahannya kepada kelompok tani jamur di Kabupaten Subang, Prihasto berpesan supaya para petani jamur dapat menjaga profesionalitas untuk menjaga komitmen bersama dengan pihak pembeli dan menjamin kontinuitas produk yang telah disepakati bersama. Hal ini dapat meningkatkan kepercayaan dalam usaha bisnis yang dijalin agar dapat berkelanjutan.
Senada dengan pernyataan Dirjen Hortikultura, Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Tommy Nugraha, mengatakan Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Hortikultura mendukung pengembangan jamur tiram di Kabupaten Subang, salah satunya melalui pemberian bantuan fasilitasi sarana budidaya jamur berupa kubung jamur budidaya.
“Kubung jamur budidaya ini mampu menampung hingga 16.000 baglog dengan struktur bangunan menggunakan baja ringan. Bantuan dari Kementan ini telah diserahkan ke Poktan Jamur Tiram Mandiri di Desa Dayeuhkolot,” ujar Tommy.