
Alpukat Garuda Yaksa dari Bogor
TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor --- Upaya menghadirkan varietas unggul lokal terus digencarkan di sektor hortikultura Indonesia. Dari Kabupaten Bogor, muncul satu nama yang kini tengah mencuri perhatian, alpukat Garuda Yaksa. Varietas ini tidak hanya menjanjikan dari sisi kualitas buah, tetapi juga sedang menjalani proses penting menuju pengakuan resmi sebagai varietas unggul lokal.
Garuda Yaksa dikembangkan sejak 2018 di kawasan Sukahati oleh Ketua FK-P4S Kabupaten Bogor, Ruslan yang juga pemilik pohon induk tunggal varietas ini. Alpukat ini berasal dari introduksi Vietnam dengan kode TA 21, yang kemudian dibudidayakan dan diuji adaptasinya di berbagai kondisi lingkungan.
Ruslan menuturkan, sejak awal dirinya melihat potensi besar dari varietas ini. “Dari pertama ditanam, pertumbuhannya bagus. Setelah beberapa tahun, kami lihat hasilnya konsisten, baik dari segi produksi maupun kualitas buah. Itu yang membuat kami yakin untuk mendaftarkannya,” ujarnya.
Selama lebih dari enam tahun masa tanam, Garuda Yaksa menunjukkan kemampuan adaptasi yang sangat baik. Varietas ini dapat tumbuh optimal di dataran rendah, sedang, hingga tinggi di wilayah Bogor. Konsistensi performa inilah yang menjadi salah satu syarat utama dalam pengajuan varietas lokal.

“Varietas ini dikenal adaptif di berbagai ketinggian wilayah, dari dataran rendah hingga tinggi. Awalnya merupakan tanaman introduksi, tapi kini telah memenuhi syarat sebagai varietas lokal setelah melalui proses pengembangan lebih dari enam tahun,” katanya.
Namun, untuk mencapai status sebagai varietas unggul lokal, proses yang harus dilalui tidaklah sederhana. Abas Alibasyah, Pengawas Benih Tanaman Ahli Madya BPSB Jawa Barat menjelaskan, tahapan dimulai dari karakterisasi hingga pengujian berlapis selama dua tahun.
“Semua karakter tanaman diamati, mulai dari bentuk buah, rasa, produktivitas, hingga ketahanan. Lalu diulang kembali pada tahun berikutnya untuk memastikan tidak ada perubahan. Konsistensi itu kunci,” jelasnya.
Proses pendaftaran Garuda Yaksa sendiri dimulai pada awal 2024 dengan pendampingan dari BPSB Jawa Barat. Hasilnya, tanda daftar varietas telah terbit pada Desember 2025. Saat ini, varietas tersebut tengah memasuki tahap observasi lanjutan sebelum menuju uji pelepasan.

Inilah Kelebihannya
Di lapangan, performa tanaman ini terus menunjukkan hasil yang menjanjikan. Garuda Yaksa dikenal sebagai varietas genjah yang sudah mulai berbuah sekitar tahun ketiga. Dalam satu tandan, jumlah buah bahkan bisa mencapai belasan butir dengan ukuran yang relatif besar.
Ruslan menggambarkan produktivitasnya dengan penuh antusias. Alpukat ini memiliki produktivitas tinggi dengan daging buah yang lembut, serta tingkat keberhasilan perbanyakan mencapai 95 persen.
Tanaman ini tergolong cepat berbuah, yakni dalam waktu dua hingga tiga tahun sudah mulai panen. Pada usia enam hingga tujuh tahun, produksinya bisa mencapai 200 kg per pohon. “Pernah dalam satu dompol itu ada sekitar 16 buah. Bobotnya juga bisa sampai 700–800 gram per buah. Jadi dari sisi produksi, ini sangat potensial,” katanya.
Dari sisi kualitas, alpukat ini memiliki karakteristik yang kuat untuk bersaing di pasar premium. Daging buahnya berwarna kuning, bertekstur lembut dan pulen, serta memiliki rasa gurih dengan sedikit sentuhan manis. “Kalau soal rasa, ini menurut saya salah satu yang terbaik. Legit, lembut, dan ada rasa gurihnya. Bukan cuma saya, kelompok tani di sini juga sudah coba dan mereka sepakat ini enak,” tambah Ruslan.

Selain itu, Garuda Yaksa juga unggul dalam aspek perbanyakan tanaman. Tingkat keberhasilan sambung pucuknya tinggi, bahkan bisa mencapai sekitar 95 persen. Hal ini menjadi indikator penting bahwa varietas ini memiliki prospek besar untuk dikembangkan secara luas.
“Kami lihat dari sisi pembibitan juga sangat mendukung. Sambung pucuknya mudah berhasil, bahkan dengan satu atau dua mata tunas saja sudah bisa tumbuh. Ini memudahkan kalau nanti dikembangkan lebih besar,” tuturnya.
Saat ini, pohon induk Garuda Yaksa tengah berada dalam fase berbunga, yang menjadi momen penting dalam proses observasi lanjutan. Tahap ini akan menjadi bagian dari penilaian akhir sebelum varietas diajukan untuk uji pelepasan.
Ruslan menyimpan harapan besar terhadap proses yang tengah berjalan. “Kami berharap tahun ini bisa masuk tahap pelepasan varietas. Semua proses sejauh ini berjalan lancar, tinggal menunggu waktu dan hasil pengamatan dari tim,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, fondasi penyebaran varietas ini sebenarnya sudah terbentuk. Bibit Garuda Yaksa telah mulai tersebar di berbagai daerah, sehingga ketika nantinya resmi dilepas, proses pengembangannya diyakini akan lebih cepat. “Bibitnya sudah ada di beberapa daerah. Jadi kalau nanti sudah resmi dilepas, masyarakat akan lebih mudah mengenal dan menanamnya,” kata Ruslan.
Saat ini, pengembangan Alpukat Garuda Yaksa tidak hanya dilakukan di Bogor, tetapi juga telah meluas ke sejumlah daerah lain seperti Sukabumi, Kalimantan, dan Bengkulu. Meski permintaan benih cukup tinggi, Ruslan mengakui masih banyak petani belum mampu memenuhi pasar karena terkendala sertifikasi.

“Padahal anggaran pengadaan benih cukup besar. Namun karena belum tersertifikasi, petani belum bisa terlibat. Ini yang sedang kami dorong,” katanya. Dengan dukungan dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, lembaga penelitian, hingga para petani Garuda Yaksa kini berada di jalur yang tepat menuju pengakuan sebagai varietas unggul lokal. Semoga Garuda Yaksa bisa terbang tinggi di penjuru Tanah Air.
Filosopi Nama
Nama Garuda Yaksa sendiri memiliki makna filosofis yang kuat. Nama ini direkomendasikan Bupati Bogor, Rudy Susmanto. “Garuda” melambangkan kebanggaan dan kekuatan bangsa, sementara “Yaksa” menggambarkan sosok penjaga yang tangguh dalam budaya Nusantara.
Filosofi tersebut selaras dengan harapan besar terhadap varietas ini. Garuda Yaksa diharapkan tidak hanya unggul dari sisi rasa dan produktivitas, tetapi juga menjadi simbol kemandirian pertanian Indonesia.