Tuesday, 20 October 2026


Bukan Cuma di Lahan, HDDAP Bantu Petani Gedong Gincu Sumedang di Pemasaran

27 Sep 2026, 22:00 WIBEditor : Herman Pratikno

Mangga Gedong Gincu Komoditas Andalan PetaniDesa Jembarwangi, Kecamatan Tomo, Kabupaten Sumedang

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Bagi petani mangga Gedong Gincu di Desa Jembarwangi, Kecamatan Tomo, Kabupaten Sumedang, menghasilkan buah berkualitas kini tidak lagi jadi satu-satunya tujuan. Mereka ingin mengubah hasil kebun menjadi kekuatan ekonomi yang mampu membuka pasar lebih luas dan meningkatkan kesejahteraan petani.

Harapan itu muncul seiring hadirnya Program Horticulture Development in Dryland Areas Project (HDDAP) Kementerian Pertanian di wilayah tersebut sejak akhir 2025. Program ini diharapkan tidak hanya memperkuat budidaya, tetapi juga mendorong petani mengembangkan usaha dari hulu hingga hilir.

Ketua Gapoktan Tani Mukti Desa Jembarwangi, Inta Suminta, mengatakan perubahan cara berpikir menjadi langkah awal yang harus dilakukan petani. Menurutnya, petani harus mulai memproduksi komoditas berdasarkan kebutuhan pasar.

“Kami mempersiapkan produk yang sesuai keinginan pasar. Jadi kami mengajak petani lain di desa untuk membuat produk berkualitas dan berkomitmen memajukan koperasi atau KEP,” kata Inta.

Ia menilai selama ini petani sering kali lebih fokus pada bagaimana menghasilkan panen, sementara kebutuhan konsumen belum sepenuhnya menjadi pertimbangan utama.

“Kita harus mencoba memahami dulu apa yang menjadi keinginan konsumen. Setelah itu sebagai produsen kita membuat produk yang memenuhi persyaratan mereka,” ujarnya.

Gedong Gincu menjadi salah satu komoditas yang memiliki peluang pasar cukup besar. Buah tersebut memiliki kulit kuning dengan semburat jingga hingga merah terang, daging buah kuning-oranye, rasa manis sedikit asam dan aroma yang khas.

Keunggulan tersebut membuat Gedong Gincu tidak hanya diminati pasar lokal, tetapi juga memiliki peluang di pasar ekspor. Petani Jembarwangi bahkan telah mengirim komoditas tersebut ke sejumlah negara Eropa sejak 2018.

Aktivitas ekspor sempat terhenti akibat pandemi Covid-19. Namun, sejak 2023, pasar ekspor kembali dibuka. Pengiriman saat ini dilakukan sekitar dua kali dalam sepekan dengan volume mencapai ratusan kilogram.

“Pasar ekspor sebenarnya sudah kami mulai sejak 2018. Kemudian sempat berhenti karena Covid-19. Tahun 2023 mulai bergerak lagi dan sekarang dalam seminggu bisa dua kali pengiriman,” ungkap Inta.

Menurutnya, pengalaman menembus pasar ekspor membuat petani semakin memahami bahwa kualitas merupakan kunci. Karena itu, dukungan HDDAP dinilai penting untuk menjaga standar produksi secara konsisten.

“HDDAP hadir untuk meningkatkan kualitas mangga, bukan hanya di kebun, tetapi sampai hilirisasinya. Mulai dari bibit berkualitas, SOP penanaman, pemeliharaan, pengendalian hama, panen, pemasaran hingga pengolahan,” katanya.

Salah satu persoalan yang masih menjadi perhatian adalah ketersediaan air. Jembarwangi sebenarnya memiliki sumber air, tetapi penggunaannya masih berbagi dengan berbagai komoditas pertanian.

“Kami ada sumber air, tetapi masih menjadi satu dengan komoditas pertanian lain. Dengan HDDAP, kami berharap bisa memiliki sumber air sendiri yang khusus untuk tanaman mangga,” ujar Inta.

Ketersediaan air dinilai sangat penting untuk menjaga produktivitas tanaman, terutama saat musim kemarau. Petani berharap dukungan teknologi seperti irigasi hemat air dan sarana penampungan dapat membuat produksi lebih stabil.

Selain persoalan produksi, petani juga mulai memikirkan bagaimana hasil panen dapat memberikan nilai tambah. Buah yang tidak masuk kategori pasar segar tidak langsung dianggap sebagai produk gagal.

“Sekarang selain pasar lokal, kami sudah ekspor. Untuk hasil sortir, kami juga mengolahnya menjadi keripik mangga Gedong Gincu,” tuturnya.

Bagi Inta, penguatan kelembagaan ekonomi petani atau KEP menjadi bagian penting dari proses tersebut. Petani yang berjalan sendiri-sendiri akan sulit memiliki posisi tawar kuat. Sebaliknya, melalui koperasi atau kelembagaan usaha bersama, petani dapat mengonsolidasikan produksi, membeli sarana produksi secara kolektif dan membangun akses pasar.

“Kita ingin petani naik kelas. Jangan hanya menjadi produsen yang menghasilkan buah, kemudian menjualnya sendiri-sendiri. Petani harus mulai berpikir sebagai pelaku usaha,” tegasnya.

Ia berharap KEP nantinya tidak hanya menjadi lembaga administratif, tetapi benar-benar menjadi kendaraan bisnis petani.

“KEP harus bisa membantu petani mendapatkan pasar, memperkuat posisi tawar, mengembangkan produk olahan dan membuka akses pembiayaan. Jadi kelembagaan itu harus hidup dan punya kegiatan usaha,” katanya.

Inta juga berharap petani muda ikut mengambil peran dalam pengembangan usaha Gedong Gincu. Menurutnya, teknologi digital dan pola pemasaran baru dapat membantu petani menjangkau konsumen yang lebih luas.

“Petani muda harus dilibatkan. Mereka punya kemampuan teknologi dan ide-ide baru. Ini bisa menjadi kekuatan untuk mengembangkan pemasaran dan hilirisasi,” ujarnya.

Ia menegaskan, keberhasilan HDDAP tidak semata-mata diukur dari bantuan atau sarana yang diterima petani. Lebih jauh, program tersebut diharapkan mampu melahirkan kelompok tani yang mandiri, produktif dan memiliki orientasi bisnis.

“Kami berharap produksi meningkat, kualitas semakin baik, pasar makin luas dan HDDAP bisa mendukung hilirisasi mangga Gedong Gincu. Kalau itu terjadi, tentu kesejahteraan ekonomi masyarakat juga meningkat,” katanya.

Inta pun memiliki harapan sederhana tetapi kuat. Petani ingin menjadi pelaku utama pembangunan pertanian, bukan sekadar penerima bantuan.

“Kami ingin menjadi kelompok yang mau maju, bukan kelompok yang hanya menyerap bantuan pemerintah. Bantuan itu harus menjadi pemicu agar kami bisa mandiri,” tegasnya.

Bagi petani Jembarwangi, lahan kering bukan penghalang untuk berkembang. Dengan pengelolaan air, teknologi, kelembagaan yang kuat dan akses pasar, lahan kering justru dapat menjadi sumber ekonomi yang menjanjikan.

“Lahan boleh kering, tetapi semangat dan ekonomi petani tidak boleh kering,” pungkas Inta.

 

Reporter : Eko
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018