
Proses sortir hasil panen pisang mas kirana petani di Desa Pakel, Kecamatan Gucialit, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Musim kemarau menjadi tantangan bagi petani pisang Mas Kirana di Desa Pakel, Kecamatan Gucialit, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Keterbatasan air membuat produktivitas menurun. Sebaliknya, saat musim hujan produksi meningkat dan petani menghadapi masa panen raya.
Kondisi tersebut membuat petani menaruh harapan pada program Horticulture Development in Dryland Areas Project (HDDAP) yang mulai berjalan pada 2026. Program ini diharapkan mampu memperkuat produksi sekaligus mendorong pengembangan pisang Mas Kirana dari hulu hingga hilir.
Bendahara Koperasi Produsen Hortikultura Lumajang 1, Lasiono, mengatakan HDDAP merupakan program yang dinantikan petani karena dapat menjawab sejumlah persoalan produksi, khususnya saat musim kemarau.
“Daerah kami merupakan sentra pisang Kirana. Namun ketika musim kemarau seperti ini produktivitas pisang menurun, sedangkan ketika musim hujan merupakan masa panen raya,” kata Lasiono.
Melalui HDDAP, petani akan mendapat dukungan pengembangan produksi, antara lain penyediaan bibit dan penyiapan pengairan. Dengan dukungan tersebut, produksi diharapkan lebih terjaga sehingga petani tidak terlalu bergantung pada kondisi musim.
Namun, penguatan produksi saja dinilai belum cukup. Petani juga perlu memiliki kelembagaan ekonomi yang mampu menampung hasil panen sekaligus menciptakan nilai tambah. Karena itu, salah satu agenda HDDAP adalah pembentukan Kelembagaan Ekonomi Petani (KEP) dan koperasi mandiri untuk komoditas pisang Mas Kirana.

KEP tersebut kini tengah dalam proses penyusunan dan diharapkan segera berjalan. Selain menampung hasil panen, kelembagaan ini akan diarahkan mengembangkan produk olahan sehingga pisang tidak selalu dijual dalam bentuk buah segar.
Salah satu inovasi yang disiapkan adalah camilan sumpia dengan isian selai pisang Mas Kirana.
“Kalau biasanya sumpia berisi abon, nanti kami akan membuat sumpia dengan isian selai pisang Mas Kirana. Rasanya unik dan enak,” ujar Lasiono.
Pengembangan hilirisasi tersebut menjadi penting karena produksi pisang sangat dipengaruhi musim. Saat musim hujan, hasil panen melimpah sehingga diperlukan kemampuan menyerap dan mengolah sebagian produksi agar nilai ekonominya meningkat.
Kelompok Tani Rukun Jaya Dua di Desa Pakel sendiri telah memiliki akses pasar melalui kerja sama dengan PT Sewu Segar Nusantara (SSN). Perusahaan tersebut telah menampung pisang hasil petani setempat selama sekitar dua tahun dan kerja sama masih berlangsung hingga kini.
Menurut Lasiono, pada musim hujan kelompok tani dapat mengirim sekitar 24 boks pisang Mas Kirana setiap minggu. Setiap boks berisi sekitar 11 kilogram. Namun, ketika kemarau produksi turun sehingga pengiriman juga ikut berkurang.
“Ketika musim kemarau seperti ini pengiriman menurun drastis, hanya sekitar 24 boks per minggu,” katanya.

Petani Desa Pakel juga mulai menjajaki pasar ekspor. Beberapa waktu lalu, mereka melakukan uji coba pengiriman pisang Mas Kirana ke Singapura. Pengalaman tersebut menjadi peluang untuk memperluas pasar apabila kontinuitas produksi, kualitas, dan penanganan pascapanen semakin baik.
Untuk mendukung hal tersebut, HDDAP direncanakan membangun bangsal pascapanen pada Oktober mendatang. Fasilitas tersebut akan digunakan sebagai tempat penampungan dan pengemasan, sekaligus mendukung pengolahan pisang Mas Kirana.
Penyuluh pendamping HDDAP, Subechan, mengatakan proses penyusunan KEP di Desa Pakel masih berlangsung. Menurut dia, wilayah tersebut memiliki potensi hortikultura yang cukup beragam, tidak hanya pisang Mas Kirana, tetapi juga manggis dan durian.
“Potensi hortikultura di Desa Pakel cukup banyak, mulai dari pisang Mas Kirana, manggis hingga durian,” katanya.
Karena itu, pengembangan melalui HDDAP diharapkan dapat memberikan manfaat lebih luas bagi petani. Penguatan kelembagaan juga diarahkan agar mampu bertahan setelah program berakhir.
Petani didorong tidak hanya berperan sebagai produsen, tetapi berkembang menjadi agro-preneur yang mampu melihat peluang usaha dan nilai tambah. Pengelolaan koperasi diarahkan semakin profesional, transparan, serta didukung pencatatan keuangan dan inventaris secara digital.
Di sisi hilirisasi, pengembangan rumah kemasan, fasilitas pascapanen, penerapan Good Agricultural Practices (GAP), sertifikasi halal, hingga kemitraan dengan offtaker menjadi bagian dari strategi pengembangan usaha.
Akses permodalan juga menjadi perhatian melalui penguatan koperasi, kemitraan perbankan dan optimalisasi simpanan anggota. Sementara keberlanjutan usaha disiapkan melalui pengembangan unit bisnis sarana produksi dan pemasaran, pelibatan generasi muda sebagai agro-preneur serta kaderisasi pendamping lokal.
Lasiono berharap HDDAP dapat memberikan perubahan nyata bagi petani Desa Pakel. Menurut dia, keberhasilan program tidak hanya diukur dari peningkatan produksi, tetapi juga kualitas dan nilai jual hasil pertanian.
“Harapan kami dengan adanya HDDAP di tempat kami bisa meningkatkan penghasilan petani, produktivitas dan kualitas pisang meningkat, serta meningkatkan nilai jual pisang Mas Kirana,” pungkasnya.