Monday, 19 October 2020


Anti-Mainstream ala Pamekasan : Tanam Bawang Merah Off Season

06 Mar 2019, 17:06 WIBEditor : Gesha

Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Moh Ismail Wahab menunjukkan kualitas bawang merah hasil pertanaman off season dari Pamekasan Madura | Sumber Foto:Mutiara

Pamekasan sebagai sentra bawang merah di Pulau Madura memiliki luas panen sebesar 2.600 hektare pada 2018 lalu. Angka terbesar di Kecamatan Batumarmar, dengan produksi 186 ribu kuintal.

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Pamekasan ---  Stabilisasi pasokan bawang merah terus dilakukan melalui manajemen tanam. Salah satunya dengan  mendorong perluasan tanam di daerah - daerah yang bisa tanam di luar musim seperti di Pamekasan, Madura.

Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Moh Ismail Wahab takjub saat melihat hamparan 600 hektare bawang merah di Desa Bangsereh, Kecamatan Batumarmar, Kabupaten Pamekasan.

"Luar biasa. Saat intensitas hujan tinggi seperti sekarang ini, sebagian besar sentra bawang merah mengurangi luas tanamnya. Berbeda dengan Pamekasan yang justru puncak tanam bawang merah," tuturnya.

Ismail juga memuji pola tanam yang dikembangkan di daerah ini. "Ini yang disebut tanam di luar musim atau off season. Pola tanam ini solusi untuk mengisi kebutuhan nasional saat pasokan berkurang. Jadi simpanan, istilahnya," tukasnya.

Hasil panen bawang merah varietas Manjung asli Pamekasan memiliki daya tahan tinggi saat musim hujan. Menariknya, produktivitas mencapai 6 - 7 ton per hektare bahkan bisa mencapai 10 ton per hektare di musim kemarau.

"Panen raya di Pamekasan terus berlanjut di bulan Maret sampai April. Dampaknya, petani di sini sering memperoleh harga baik. Saat ini saja grade super Rp 25 ribu per kg dan yang biasa Rp 17 ribu per kg. Harga bagus itu," terangnya.

Langkah anti-mainstream yang ditempuh oleh petani bawang merah dari Pamekasan ini juga diapresiasi oleh Dirjen Hortikultura, Suwandi. "Diharapkan muncul sentra - sentra pertanaman off season sebagai penyangga pasokan di luar musim tanam seperti Pamekasan ini," tuturnya.

Dirinya juga menekankan pentingnya menggunakan benih unggul, mengikuti aturan pola tanam antar waktu antar wilayah. "Gunakan juga pupuk organik buatan sendiri agar lebih efisien demikian dengan pestisida gunakan buatan sendiri," sebutnya.

Pamekasan sebagai sentra bawang merah di Pulau Madura memiliki luas panen sebesar 2.600 hektare pada 2018 lalu. Angka terbesar di Kecamatan Batumarmar, dengan produksi 186 ribu kuintal.

Kementerian Pertanian telah mengalokasikan APBN senilai lebih dari Rp 42 Miliar termasuk bantuan benih hortikultura yang dialokasikan untuk Kabupaten Pamekasan tahun ini.

Masih Untung

Ketua Kelompok Tani Tani Sejati, Musafi menuturkan petani dengan modal Rp 50 - 60 juta per hektare, masih bisa dapat untung. "Bahkan sekarang pedagang Jawa kejar barang ke sini untuk dikirim ke Jakarta sampai Kalimantan," ungkapnya bahagia.

Petani biasa tanam tiga kali dalam setahun terutama di lokasi cukup air. "Karenanya, Mohon bantuan pemerintah untuk alat kultivator, pompa dan traktor karena petani sangat membutuhkannya," pinta Musafi dengan logat khasnya.

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Pamekasan, Lisa Widyawati mengaku kerap menyambangi kebun bawang merah di wilayah ini terutama di puncak musim hujan.

"Kendala di sini jika tanaman terkena embun upas besoknya langsung rebah dan muler. Apalagi kalau umur tanaman masih 15 - 30 hari, sangat rentan," terangnya.

Untuk menekan resiko gagal, petani biasanya langsung mengaplikasikan cukup fungisida ke tanaman mereka. "Masih bisa dipanen, tapi provitasnya turun," tuturnya.

Wanginya bawang merah juga ternyata menarik minat beberapa petani muda setempat. "Mereka ini lulusan S1, pernah menghadap saya dan menyampaikan bahwa mereka serius ingin bertani dan memajukan desanya. Yang begini perlu didukung,"

Saat ditanyakan motivasi, mereka menyatakan niatnya untuk memajukan desa. "Dengan bertani bawang merah, kami ingin memajukan desa. Saya bangga karena petani itu berjasa bagi negara. Tidak hanya pekerja kantoran saja yang berdasi, bisa jadi petani dapat juga dapat berdasi," ujar Rohmady Efendi, salah seorang di antaranya.

Reporter : Mutiara
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018