Thursday, 22 October 2026


Belajar dari Sawit

14 Feb 2014, 14:16 WIBEditor : Julianto

Model Pertanian Berkelanjutan

Sawit menjadi satu-satunya komoditi perkebunan yang kerap mendapat terpaan isu dan kampanye negatif dari luar negeri, terutama terkait dengan lingkungan. Di balik itu semua ternyata ada hikmah tersendiri, perkebunan sawit menjadi satu-satunya juga komoditi yang mempunyai sertifikat lestari (berkelanjutan).

Bahkan perkebunan kelapa sawit bisa menjadi model alias contoh pembangunan perkebunan yang lestari. Pelaku usaha bisa mendapatkan tiga sertifikat lestari untuk produk minyak sawit. Di pasar minyak makanan dunia ada ICC Group dan RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil). Sedangkan di dalam negeri ada ISPO (Indonesia Sustainable Palm Oil).

Vice Presiden PT. Smart Tbk, Daud Dharsono mengatakan, dengan kelebihan minyak sawit yakni bukan hanya sebagai minyak makan, tapi juga untuk oleo chemical dan biodiesel membuat produk minyak sawit kerap terkena berbagai isu negatif. Misalnya, isu lingkungan, konflik sosial dan mengurangi biodiversity.

“Bahkan isu ini terus meningkat dan makin panas,” katanya saat jumpa pers kegiatan International Conference on Oil Palm and Environment (ICOPE) keempat yang akan berlangsung di Bali pada 12-14 Februari mendatang.

Dengan isu dan kampanye negatif tersebut, pelaku usaha berupaya membangun kebun yang ramah lingkungan. Bahkan di dunia, menurut Daud, tidak ada komoditi lain yang mewajibkan dalam perdagangan harus mempunyai sertifikat lestari seperti minyak sawit.

“Dengan meningkatnya kesadaran pelaku usaha untuk membangun kebun yang sustainable, kita harapkan kelapa sawit menjadi model pertanian masa mendatang,” katanya.

Kepala Divisi Produksi Tanaman dan Bioteknologi PT. Smart Tbk, Tony Liwang menambahkan, perkebunan kelapa sawit menjadi model pembangunan pertanian yang berkelanjutan. Padahal di dunia, komoditi pertanian bukan hanya sawit, tapi banyak komoditi lainnya.

“Sawit kita harapkan menjadi acuan bagi komoditi-komoditi lainnya untuk mengarah pada sustainable,” ujarnya. Bahkan produk minyak sawit yang mendapat sertifikat lestari sudah cukup banyak. Misalnya, minyak sawit Indonesia yang mendapat sertifikat RSPO mencapai 4 juta ton dan Malaysia 3 juta ton.

Sementara itu Direktur The World Wide Fund for Nature (WWF), Nasir Fuad mengakui, perkebunan kelapa sawit sudah tidak diragukan lagi menjadi pioneer untuk kesejahteraan petani. Bagaimana dari satu produk dapat dimanfaatkan banyak pelaku usaha.

Kini pertanyaannya, bagaimana pelaku usaha menjawab persoalan yang ada di masyarakat, terutama masalah sosial seperti pendidikan, kesejahteraan, maupun isu lingkungan. Bagaimana juga menjadikan kelapa sawit memberikan kontribusi positif bagi lingkungan. “Harapannya ke depan adalah perkebunan kelapa sawit menjadi leader dan contoh masalah lingkungan di dunia,” katanya.

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

Editor : Julianto

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018