Thursday, 22 October 2026


BISNIS CABAI DI NEGERI PEMAKAN CABAI

12 Feb 2022, 19:33 WIBEditor : Gesha

Olahan cabai

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Pantaslah jika produksi cabai dan bisnis cabai cukup spesial di negeri ini. Pantas juga jika gonjang-ganjing pasar dan harga cabai cukup berpengaruh pada kehidupan dan ekonomi masyarakat. Dengan cara berpikir lain, pantas juga sebenarnya jika bisnis cabai seharusnya sudah berkembang, moderen dan mapan karena peran komoditas ini demikian penting. 

Pasti bukan karena penyuka cabai mempunyai risiko kematian akibat penyakit jantung 40 persen lebih rendah (jurnal American College of Cardiology) orang Indonesia mengonsumsi cabai dalam jumlah besar. Menurut sejarah, cabai memang sudah menjadi komoditas pangan penting di Indonesia sejak era Jawa kuno. Kini penduduk Indonesia termasuk pemakan cabai terbesar nomor lima di dunia sesudah Meksiko, India, Cina dan Korea Selatan.

Jika di Meksiko buah-buahan saja kerap ditaburi bubuk cabai, di Sulawesi tidak kalah, pisang goreng dan singkong goreng juga dimakan dengan sambal, dan hampir di semua daerah, tahu dan gorengan tidak afdol kalau tidak dimakan dengan cabai rawit segar. Oleh karena itu, jika harga cabai rawit melonjak, tukang tahu dan gorenganlah yang paling pusing tujuh keliling, karena cabai biasa digratiskan pada pembeli. Bagaimana kalau lebih mahal cabai dari gorengannya?

Dengan tingginya selera pada komoditas pedas ini, pantaslah jika produksi cabai dan bisnis cabai cukup spesial di negeri ini. Pantas juga jika gonjang-ganjing pasar dan harga cabai cukup berpengaruh pada kehidupan dan ekonomi masyarakat. Dengan cara berpikir lain, pantas juga sebenarnya jika bisnis cabai seharusnya sudah berkembang, moderen dan mapan karena peran komoditas ini demikian penting.

Jika melihat statistik, sebenarnya produksi cabai nasional cukup baik. Pada tahun 2020 produksi cabai mencapai 2,77 juta ton dan impor tercatat sebesar 27.851 ton (sekitar 1 persen dari produksi nasional). Impor berasal dari Cina, India, Malaysia, Korea Selatan, Australia, dan Spanyol. Menurut Kementerian Pertanian, impor itu terutama untuk mengisi kebutuhan industri. Jadi kalau pasar tertata baik, data dan pasokannya dikuasai dengan baik, gonjang-ganjing harga tidak perlu terjadi, sehingga tukang tahu tidak perlu pusing tujuh keliling.

Cabai adalah tanaman yang manja, perlu perhatian dan pemeliharaan yang intensif. Dia sensitif terhadap kondisi musim basah dan lembab, rentan terhadap hama dan penyakit. Serangan penyakit bisa menjangkau jaringan tanaman sehingga berpengaruh pada biji yang kelak dijadikan benih. Lagipula penularannya sangat cepat. Konon dalam beberapa jam sudah berdampak pada tanaman cabai lainnya.

Soal kendala? Kekuatiran insan pertanian sebenarnya jauh lebih luas dan mendasar dari hanya cabai. Kondisi lahan yang sudah kekurangan bahan organik, dan kondisi agro-ekosistem yang terdegradasi menjadi kendala tidak hanya dalam memproduksi cabai tetapi merupakan permasalahan umum dalam pertanian kita. Ini pembenahan yang memerlukan waktu panjang.

Kegiatan produksi harus menggunakan sarana produksi dan teknologi yang aman dan efisien, serta penanganan produk dan pemasaran harus segera menggunakan teknologi dan manajemen moderen. Bisnis cabai memerlukan penanganan yang intensif mulai dari benih, sarana produksi, permodalan sampai dengan penanganan pemasaran dan pengolahan. Kesemuanya itu dalam upaya untuk menghasilkan yang terbaik bagi pelaku usaha dan pengembangan produk.

Cabai adalah komoditas yang rentan rusak, perlu penanganan segera, penyimpanan dan prosesing yang memadai, sehingga produknya aman dikonsumsi, menguntungkan dan bersaing di pasar global.

 

 

Reporter : Memed Gunawan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018