Tuesday, 20 October 2026


PM-AAS Bikin Panen Meningkat di 10 Provinsi! Sulsel Tembus 13,1 Ton per Hektar

18 Oct 2026, 11:53 WIBEditor : Gesha

BRMP mengenalkan PM-AAS sebagai sistem budidaya padi modern yang membuat tanam lebih rapi, biaya produksi lebih hemat, dan hasil panen meningkat.

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta – Produktivitas padi melonjak dari 5,85 ke 10,24 ton/ha berkat PM-AAS. Sulsel tembus 13,1 ton/ha, Lampung dan Banten menyusul di atas 12 ton/ha.

Produktivitas padi di 10 provinsi disebut melonjak tajam setelah penerapan PM-AAS pada Musim Tanam (MT) II 2026. 

Berdasarkan data progres PM-AAS yang beredar luas di media sosial, rata-rata produktivitas naik dari 5,85 ton per hektare (ha) menjadi 10,24 ton/ha, atau bertambah 4,39 ton/ha.

Data tersebut memuat catatan produktivitas awal dan produktivitas pasca PM-AAS di sepuluh provinsi yaitu Sumatera Utara, Lampung, Banten, Jawa Barat, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, dan Papua Selatan.

Sulawesi Selatan mencatat hasil paling tinggi.

Di Kecamatan Panca Rijang, Kabupaten Sidenreng Rappang, varietas Inpari 43 mencapai 13,1 ton/ha di lahan tadah hujan seluas 20 ha. 

Produktivitas awalnya hanya 5 ton/ha, sehingga kenaikannya 8,1 ton/ha, terbesar dalam seluruh data.

Daerah lain di Sulsel juga mencatat angka tinggi. 

Di Kecamatan Maritengngae, Sidrap, Inpari 48 naik dari 5,5 menjadi 11,42 ton/ha. 

Inpari 32 di Kabupaten Soppeng mencapai 11,2 ton/ha. 

Inpari 42 mencatat 11,05 ton/ha di Maros dan 10,5 ton/ha di Bone.

Di posisi berikutnya, Banten mencatat 12,88 ton/ha di Kecamatan Kasemen, Kota Serang. 

Varietas Inpari 32 di lahan 100 ha itu naik 5,88 ton/ha dari produktivitas awal 7 ton/ha.

Lampung membukukan 12,58 ton/ha di Kecamatan Seputih Raman, Lampung Tengah. 

Varietas Inpari 49 di lahan irigasi teknis seluas 100 ha tersebut naik 6,08 ton/ha dari 6,5 ton/ha.

Sulawesi Barat mencatat 12,5 ton/ha di Kecamatan Wonomulyo, Polewali Mandar. 

Dengan Inpari 42 di lahan 102 ha, produktivitasnya naik 5 ton/ha dari 7,5 ton/ha.

Di Jawa Barat, Ciherang menghasilkan 12,35 ton/ha di Kecamatan Terisi, Indramayu, naik 5,55 ton/ha dari 6,8 ton/ha. 

Di Kecamatan Ciasem, Subang, Inpari 32 mencapai 11,24 ton/ha pada lahan 200 ha, naik 5,24 ton/ha dari 6 ton/ha.

Peningkatan tidak hanya terjadi di lahan irigasi. 

Di Barito Kuala, Kalimantan Selatan, Inpari 49 di lahan rawa naik dari 3,5 menjadi 8,7 ton/ha (+5,2 ton/ha). 

Di Merauke, Papua Selatan, Inpari 37 di lahan tadah hujan seluas 100 ha naik dari 3 menjadi 8,15 ton/ha (+5,15 ton/ha).

Sumatera Utara mencatat hasil tertinggi 12,03 ton/ha dari varietas Cibatu, naik 5,03 ton/ha. 

Nusa Tenggara Barat mencatat 10,5 ton/ha untuk Inpari 32 di Lombok Tengah, sedangkan Kalimantan Barat mencatat 8,47 ton/ha di Sambas.

Seluruh lokasi dalam data mencatat kenaikan produktivitas, dengan selisih terendah 1,12 ton/ha dan tertinggi 8,1 ton/ha. 

Luas lahan yang dicatat bervariasi dari 4 ha hingga 200 ha, dengan tipologi mulai dari irigasi teknis, semi teknis, rawa, hingga tadah hujan.

Varietas Inpari mendominasi data, mulai dari Inpari 32, 42, 43, 48, 49, hingga 37, selain Ciherang dan Cibatu. 

Perbedaan varietas, kondisi lahan, dan luas tanam membuat angka antardaerah tidak sepenuhnya sebanding.

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018