Thursday, 22 October 2026


Syafri-Sasjunita, Pasangan Pelestari Asam Kandis dan Gelugur

05 Oct 2018, 11:15 WIBEditor : Gesha

Syafri-Sasjunita, Pasangan Pelestari Asam Kandis dan Gelugur

TABLOIDSINARTANI.COM, Solok --- Menggeluti bisnis olahan sekaligus menjadi pelestari lingkungan hidup bukanlah suatu pekerjaan yang mudah, bahkan seringkali bertentangan. Namun tidak bagi Syafri dan Sasjunita dari Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat yang menjadi pasangan pelestari asam kandis dan gelugur.

Sumatera Barat telah lama dikenal dengan kuliner yang sangat kuat citarasanya, salah satu baku kuliner tersebut adalah asam kandis dan gelugur yang banyak bertumbuh di hutan kawasan Bukit Barisan.

Namun beberapa tahun belakangan, hutan tempat masyarakat bergantung kehidupan tengah mengalami ancaman illegal logging dan alih fungsi menjadi lahan sawit sehingga beberapa tanaman asam kandis dan gelugur semakin berkurang.

Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura melalui Balai Penelitian Buah Tropika (Balitbu Solok) mendata hutan Bukit Barisan memiliki hampir 20 jenis tanaman kerabat manggis dan 15 jenis tanaman kerabat rambutan yang kini semakin langka.

Hal tersebutlah yang menggerakkan Syafri dan Sasjunita untuk menjadi pelestari dan menggerakkan masyarakat untuk turut serta dalam konservasi.

“Awalnya agak sulit untuk mengajak masyarakat ikut menanam karena asam kandis dan gelugur hanya sebatas digunakan untuk bumbu masak dan obat batuk tradisional,” ungkap Syafri ketika ditemui Tabloid Sinar Tani di Nagari Latang, Kec Lubuk Tarok Kab Sijunjung.

Karena itu, pasangan ini mencoba berpikir kreatif mencari cara mengajak masyarakat untuk ikut melestarikan plasma nutfah. “Waktu itu kami coba membuat selai dan sirup. Berhasil, tapi daya simpannya singkat jadi pemasarannya agak susah. Tapi kami kemudian beralih untuk mencoba membuat teh dari daun-buah asam kandis dan gelugur ini,” tuturnya.

Ide tersebut muncul setelah pasangan ini diajak Puslitbang Hortikultura mengunjungi Malaysia yang sudah lebih dahulu sukses mengembangkan teh herbal dari hortikultura.

“Setelah dibuat menjadi teh, masyarakat mulai tertarik untuk mempertahankan tanaman kandis dan gelugur bahkan bertanam di hutan dengan bibit yang ditumbuhkan disini,” ungkap Sasjunita.

Untuk mengolahnya menjadi teh bernama Garci Tea atau kopi bernama Kopi Asgur (Asam Gelugur), Sasjunita dan Syafri menggunakan daun dan buah dari asam kandis maupun asam gelugur dengan komposisi tertentu.

“Untuk teh, mereka menggunakan campuran 90% bubuk daun dan 10% bubuk buah dari asam kandis maupun asam gelugur. Sedangkan untuk kopi Asgur, menggunakan 80% bubuk buah gelugur dan 20% bubuk kopi Arabica.

Dalam satu bulan, pasangan ini mampu menghasilkan sebanyak 4-5 ribu kotak dengan isi teh sachet sebanyak 20 buah/kotaknya. Bahkan kini omset kurang lebih Rp 75 juta/ bulan dan pemasarannya dengan online maupun offline (berjualan langsung dengan tenaga pemasaran maupun reseller).

Sebenarnya, pasangan ini telah berhasil mengolah sebanyak 14 produk dengan bahan baku asam kandis, asam gelugur, manggis Jepang dan lain-lainnya. Mulai dari Garci tea asam kandis, Garci Tea Asam Gelugur, Kopi Asgur, Selai Garcinia, Lulur Majela (Manggis Jepang Latang), Sabun, Saos, permen, keripik, xantone, sirup, minuman siap saji hingga kapsul kesehatan.

"Baru Garci Tea yang sudah ada ijin edar, yang lain sedang dalam proses," tambah Syafri.

Reporter : gsh
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018