Wednesday, 30 September 2020


BPTP Kepri Panen Perdana Benih Kedelai Lahan Kering Marginal di BBI Bintan  

27 Aug 2020, 11:27 WIBEditor : Ahmad Soim

Benih Kedelai Lahan Marginal | Sumber Foto:Dok BPTP Kepri

TABLOIDSINARTANI.COM, Kepri - Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Kepulauan Riau dan Balai Benih Induk (BBI) Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Kesehatan Hewan Provinsi Kepulauan Riau panen Benih Dasar Kedelai di Lahan BBI yang ada di Tembeling, Toapaya Kabupaten Bintan , Rabu (26/8)

Acara panen ini dihadiri oleh Kepala BPTP Kepri Dr. Ir. Sugeng Widodo, MP, Kepala BBI Nil Erison, S.TP, Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas II Tanjungpinang drh. Raden Nurcahyo, M.Si, Mayor Kav. Harioko dari Korem 033/Wira Pratama Tanjungpinang, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Bintan yang diwakili Plh Kasi Pemasaran dan Pengolahan Khoirunnisa.

Kepala BPTP Kepri Dr. Ir. Sugeng Widodo, MP menyampaikan terima kasih kepada BBI yang siap bekerjasama untuk  penyediaan benih kedelai. BPTP kepri sebagai unit kerja di bawah Litbang Pertanian berusaha menjawab kelangkaan benih dengan membuat demplot perbenihan kedelai yang diharapkan tidak hanya menjadi percontohan tapi juga sebagai sumber benih yang baik dan sudah tersertifikasi. “Saya bersyukur karena walau di Kepri lahan pertanian yang ada kebanyakan mengandung bauksit dan marginal, namun tetap bisa panen kedelai dengan hasil yang cukup bagus,” Kata Sugeng.

BACA JUGA:

Budidaya Lada Berkembang Pesat di Kepri

Formulasi dan Cara Penggunaan Daun Mimba dari BPTP Kepri untuk Pestisida Sayuran

Teknologi Pembuatan Bio-Urine dari Kencing Sapi yang Diperkaya dengan Pupuk Hayati

Dalam kesempatan ini Dr. Sugeng juga mengungkapkan program Menteri Pertanian Dr. Syahrul Yasin Limpo (SYL) yang membentuk Komando Strategis Tingkat Nasional hingga tingkat Kecamatan ditujukan untuk mengoptimalkan pembangunan pertanian di desa desa agar lebih maju, mandiri dan modern. Beliau juga berharap agar Kepri  nantinya memiliki benih kedelai sendiri atau mandiri benih, sehingga mengurangi ketergantungan akan pasokan benih dari luar pulau atau provinsi.

Permasalahan yang dihadapi Kepri adalah tidak adanya benih kedelai yang baik dan tersertifikasi sehingga dalam hal penyediaan benih Kepri masih tergantung dengan Provinsi lain. Provinsi Kepri sebagai salah satu provinsi terluar, dan wilayah perbatasan harus menghadapi  masalah logistik dengan transportasi yang sangat mahal dan waktu yang lama dalam distribusi benih tersebut. Melihat kondisi tersebut, Kepri harus mandiri benih supaya tidak tergantung dari provinsi lain dan negara tetangga.

Varietas tanaman berperan penting dalam produksi kedelai karena untuk mencapai hasil yang bagus sangat ditentukan oleh potensi genetiknya dan lingkungan tumbuhnya. Kondisi tanah di Kepulauan Riau umumnya merupakan tanah bauksit yang marjinal, oleh karena itu BPTP Kepri mengenalkan teknologi budidaya kedelai dengan 2 varietas unggulan baru (VUB) dari Badan Litbang yaitu Dega 1 dan Grobogan.

Pada saat pelaksanaan kajian di MT-2/MK 2020 terjadi anomali iklim dimana intensitas CH yang masih tinggi, namun sebaliknya bila sedang panas, suhu tanah mencapai 340C maka penggunaan mulsa plastik direkomendasikan untuk mencegah terjadinya leaching (pencucian tanah), menurunkan suhu, menjaga kelembaban tanah serta mengurangi penyiangan tanaman karena keterbatasan tenaga kerja.

Hasil analisis tanah pada awal pengkajian dengan penggunakan PUTK menunjukkan kandungan hara N, P, K, dan C Organik tergolong rendah serta pH masam (5,0). Dari hasil ubinan panen kedelai untuk varietas grobogan dengan mulsa diperoleh 2,70 ton/ha biji kering sedangkan tanpa mulsa diperoleh 2,08 ton/ha.

Sedangkan varietas Dega-1 produksi sedikit dibawah varietas Grobogan yaitu 2,20 ton/ha biji kering dengan mulsa, sedangkan tanpa mulsa 1,92 ton/ha. Provitas kedelai yang diuji cukup menggembirakan karena  mendekati potensi produktivitas varietas grobogan yang mencapai 3,4 ton/ha pada kondisi lahan subur (Balitkabi, 2008) dan juga jauh melebihi rata-rata produktivitas nasional yang hanya berkisar 1,65 ton/ha.

Kepala BBI Nil Erison, S.TP dalam sambutannya menyampaikan ucapan terima kasih kepada BPTP Kepri yang telah membantu dan memdampingi teknologi budidaya. “BPTP Kepri telah lama bekerjasama dengan BBI dalam pengembangan tanaman pangan, hortikultura dan buah-buah. Semoga Kerjasama ini terus dapat ditingkatkan guna mendukung kemajuan pembangunan pertanian di Provinsi Kepulauan Riau, “kata Nil.

Trik Budidayanya

Teknologi budidaya kedelai adalah sebagai berikut:

1. Pengolahan lahan dilakukan 1-2 kali, dalam kondisi tanah marjinal perlu penambahan pupuk dasar 2,0 ton/Ha dan penambahan dolomit pada kondisi tanah masam sekitar 1,0 ton/ha (tergantung tingkat kemasaman). Untuk menjaga kelembaban tanah dan temperatur yang tinggi digunakan mulsa plastik perak.    

2. Penanaman.  menggunakan benih yang tersertifikasi, penanaman dengan cara tugal 1-2 biji/lubang, langsung di beri pemupukan pertama dan ditutup

3. Pemupukan menggunakan dosis urea 75kg/ha, TSP 150 kg/Ha, dan KCL 75 kg/ha. Pemberian pupuk kimia dilakukan  bertahap sebanyak tiga kali, setiap pemupukan 1/3 dosis pupuk total. Pemupukan pertama dilakukan pada saat tanam, pemupukan susulan kedua 30 HST dan pemupukan ketiga 56 HST.

4. Perawatan. Lahan kedelai dibebaskan dari gulma dan tanaman pengganggu lainnya dengan cara disiangi atau dibersihkan dengan cangkul. Penyiraman dilakukan apabila kondisi tanah kering lapang

5. Pengendalian OPT dilakukan tergantung jenis hama dan penyakit serta tingkat serangan pada saat pertumbuhan vegetatif dan generatif

6. Panen benih kedelai dilakukan pada umur 92-98 HST jika daun telah rontok 90% atau lebih atau bila polong telah menjadi coklat

Sertifikasi benih digunakan dengan mengacu pada Peraturan Direktur Jendral Tanaman Pangan No. 01/Kpts/HK.310/C/1/2009): tentang Perbenihan, maka semua benih bina harus memenuhi standar kelulusan: lapangan dan laboratorium. Dilakukan rouging 4x yaitu:

1. Stadia pertumbuhan awal (umur 1-2  minggu).  Terhadap warna hipokotil.

2. Stadia berbunga (Umur 35-40 hari). Terhadap warna

3. Stadia polong masak (umur 85 hari). Terhadap warna polong masak, tipe batang (determinat), ukuran bentuk polong

4. Stadia biji (setelah pembijian). Terhadap warna biji, warna hilum biji, ukuran biji dan bentuk biji.

Reporter : Lutfi H. Gokma AS. dan Sugeng W.
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018