Wednesday, 01 December 2021


Inilah Aplikasi Digital Pengungkit Daya Saing Hortikultura

02 Nov 2021, 14:43 WIBEditor : Yulianto

Salah satu aplikasi hortikultura | Sumber Foto:Humas Hortikultura

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta--Pembangunan pertanian yang modern dengan pemanfaatan teknologi digital kini menjadi sebuah tuntutan di era informasi teknologi yang terus berkembang. Penggunaan aplikasi akan memberikan kemudahan bagi pelaku usaha. Menindaklanjuti hal tersebut, Direktorat Jenderal Hortikultura telah meluncurkan beberapa aplikasi untuk meningkat daya saing produk hortikultura.

Ada SiMevi, SRIKANDI dan The Hopers_dev. Program tersebut untuk mendorong pengembangan kampung hortikultura yang mencakup kampung buah, sayur dan tanaman obat; program penumbuhan UMKM dan modernisasi hortikultura melalui pengembangan smart farming, mekanisasi, dan digitalisasi hortikultura.

“Selama ini banyak pelaku usaha yang mengeluh kepada saya, bahwa mereka mengalami kesulitan dalam memasarkan produknya karena volumenya yang tidak menentu. Ini menyulitkan pelaku usaha, karena dalam mengumpulkan produk tersebut harus mengeluarkan biaya cukup mahal. Dampaknya, daya saing kita jadi cukup rendah. Karena itu, kita desain kampung-kampung hortikultura ini,” kata Dirjen Hortikultura Kementerian Pertanian, Prihasto Setyanto.

Prihasto mengungkapkan, dalam penumbuhan UMKM Hortikultura, jika pasar sudah cukup untuk menampung hasil, maka produk akan diolah untuk ditingkatkan nilai tambahnya. Proses pengolahan akan difasilitasi dan pemasarannya akan dibantu, baik di dalam maupun luar negeri.

Untuk memantau keberlanjutan fasilitas dan bantuan ini, dibutuhkan modernisasi sistem informasi, seperti SIMevi (Sistem Monitoring dan Evaluasi Agroindustri Hortikultura Indonesia). “SIMevi ini sangat diperlukan karena dari sekian banyaknya bantuan  dari Direktorat Jenderal Hortikultuta yang diberikan kepada masyarakat pada 3-5 tahun yang lalu ini sulit terdeteksi,  padahal barangnya dan sudah tidak bisa terevaluasi,” ujar Prihasto.

Selain SiMevi, ungkap Prihasto, terdapat sistem informasi lain yang dibuat Direktorat Jenderal Hortikultura yaitu SRIKANDI (Sistem Informasi dan Registrasi Kampung Sayuran) dan The Hopers_dev. Dengan adanya SRIKANDI ini, diharapkan ke depannya ada pemantauan data petani, berisi nama desa, kecamatan, kabupaten, nama kelompok tani, ketua kelompok tani, anggota kelompok tani berdasarkan nama, serta tempat tinggal.

Sementara itu, The Hopers_dev merupakan sistem informasi pemantauan dampak perubahan iklim. The Hopers akan menginformasikan iklim yang terjadi dan bagaimana mengantisipasi dampak yang ada akibat perubahan tersebut,” tutur Prihasto.

Sementara itu, Sekretaris Ditjen Hortikultura, Retno Sri Hartati Mulyandari mengatakan, komoditas pertanian, khususnya hortikultura yang harus dikawal pemerintah ada sekitar 569 komoditas. Sampai kini melalui kerjasama Ditjen Hortikultura dengan Badan Pusat Statistik  sudah dapat  fokus satu data untuk 87 komoditas.

“Kampung hortikultura menerapkan konsep one village one variety berbasis kebutuhan pasar yang berskala ekonomi. Apalagi dengan pengembangan korporasi petani dan sinergi lintas stakeholders yang harmonis untuk menghasikan produk yang berdaya saing,” jelas Retno.

Apa sih SiMevi, SRIKANDI dan The Hopers? Baca halaman selanjutnya.

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018