
Ketua Croplife Indonesia, Kukuh Ambar Waluyo (kiri) bersama Simone Barg, President of CropLife Asia (tengah) dan Eriyanto, Country Head Syngenta Indonesia
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta—Pemerintah saat ini terus menggenjot produksi pangan untuk mempertahakan swasembada pangan yang dicapai tahun 2025. Namun untuk bisa menggapai swasembada berkelanjutan tak semudah membalikkan telapak tangan. Tantangan peningkatan produksi kian besar, salah satunya kondisi iklim yang semakin sulit ditebak dan gangguan hama penyakit.
Untuk membantu petani Croplife Indonesia meluncurkan Kerangka Pengelolaan Pestisida Berkelanjutan (Sustainable Pesticide Management Framework/SPMF) di Jakarta, beberapa waktu lalu. SPMF hadir di Indonesia! Framework baru ini bantu petani tingkatkan produktivitas, lindungi tanaman dari hama dan banjir, serta pastikan pertanian lebih ramah lingkungan dan aman.
Program ini dirancang untuk mendorong praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan, aman bagi petani, sekaligus meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan mereka. Indonesia menjadi negara ketiga di Asia, setelah Vietnam dan Thailad yang mekuncurkan SPMF.
Ketua Croplife Indonesia, Kukuh Ambar Waluyo mengatakan, saat ini petani mendapatkan tanatangan, perubahan iklim (banjir dan kering), hama penyakit bertambah, alih fungsi lahan kian marak. Bukan hanya itu, pertani juga mendapat tantangan lain saat mau ekspor. ”Itu tantangan petani kita saat ini,” ujarnya.
Di sisi lain, menurutnya, pemerintah Indonesia mempunyai 2 tujuan utama dalam bidang pangan. Pertama, swasembada pangan, padi, jagung, kedelai dan tebu pada tahun 2026. Kedua, swaembada pangan berkelanjutan.
“Dua sisi berjalan berkesinambungan. Karena itu, pelaku usaha mendapatkan kepercayaan menjalankan SPMF yang sejalan dengan upaya pemerintah yakni pertanian berkelanjutan,” katanya.
Kukuh menjelaskan, SPMF merupakan rangkaian program kolaborasi frame work. Seperti diketahui pemerintah juga tidak mudah menjalanakan hal tersebut sendiri. Karena itu, itu perlu adanya lembaga yang bisa bersinergi agar pertanian bisa berjalan berkelanjutan.
SPMF ini merupakan inisiatif dan bentuk komitemen tanggung jawab Croplife Indonesia, sebagai produsen benih dan perlindungan terhadap produksi dan memberikan pendampingan ke petani untuk meningkatkan produksi.
Ada beberapa tujuan dari program SPMF ini. Pertama, Kukuh mengatakan, bisa memberdayakan petani dan memberikan perlindungan pada tanaman, sehingga hasil panennya bagus, bahkan resiko bisa berkurang.
Kedua, progarm SPMF ini dalam upaya mempertahakan pertanian berkelanjutan melalui penguatan inovasi dan digitalisasi pertanian. “Dengan tanangan yang besar, mau tidak mau peran teknologi dan inovasi digital menjadi sebuah keharusan yang diintroduksi untuk petani,” ujarnya.
Ketiga, program SPMF ini juga memberikan pelatihan kepada petani dalam penggunaan pestisida. “Kita harmonisasikan supaya petani bisa mengakses teknologi dan mendapatkan manfaat besar dari penggunaan teknologi perlindungan tanaman,” ujarnya.
Hal senada juga dikatakan Mun Pew Khong, Head Public and Development Affair for Asia Pasific Bayer Crop Science. SPMF menurutnya, bertujuan untuk mengatasi kondisi iklim ekstrem yang tentunya memberikan dampak pada negara-negara di Asean. Apalagi Indonesia mengalami perubahan iklim yang dampaknya terjadi banjir.
“Survey oxsford, Indonesia yang paling terdampak pada harga pangan. Karena itu, SPMF ini sangat penting dan bantu mengatasi perubahan iklim dalam pertanian, baik secara regional dan domestik,” katanya.
Sebagai sektor yang penting dalam menyediakan pangan dan bagi kehidupan petani, Mun Pew Khong menilai, petani perlu mendapatkan inovasi dalam membantu mereka pekerjaan. Karena itu, perlu adanya regulasi dalam teknologi, pemanfaatan bibit unggul dan memfasilitaso kegiatan usaha tani. Misalnya, varietas benih dan bibit tahan kering dan genangan air.
Sementara itu Eriyanto, Country Head Syngenta Indonesia juga mengakui, peran SPMF sangat strategis dalam pembangunan pertanian. Dengan farmework yang tepat bisa membantu menghadirkan teknologi informasi yang baru. “Tujuan SPMF ini untuk memberdayakan petani supaya mendapatkan akses teknologi, bisa efisien dalam mengelola lahan dan budidaya tanaman,” katanya.
Sebagai perusahaan perlindungan tanaman, Eriyatno menegaskan, pihaknya berkomitmen memperkenalkan penggunan pestisida yang baik sesuai Good Agriculture Practices (GAP). Karena itu, pihaknya memberikan pelatihan ke petani dan Penyuluh Pertanian Lapangan.
“Kita berusaha memberikan penyuluh pengajaran stewardship agar penggunaan pestisida tepat sasaran, tepat dosis dan tepat waktu,” katanya. Dengan semikian SPMF berkontribusi dalam pemberdayaan petani, bisa meningkatkan pengetahuan dan teknolig dalam menghadapi tantangan cuaca dan mengatasi hama dan penyakit tanaman.