Sunday, 12 April 2026


Tak Perlu Panik El Nino! Ini Cara Cerdas Kelola Air Supaya Tetap Cukup

07 Apr 2026, 13:48 WIBEditor : Gesha

Irigasi banyak yang kuran optimal

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor -- Ancaman El Nino tak perlu disikapi panik. Kunci bertahan ada pada pengelolaan air yang cerdas, mulai dari panen air hingga irigasi hemat, demi menjaga produksi tetap stabil.

Ancaman kekeringan akibat fenomena El Nino kembali menghantui sektor pertanian. 

Tapi, alih-alih panik, para ahli justru menekankan satu hal sederhana namun krusial dimana air yang sedikit tetap bisa cukup, asal dikelola dengan cerdas.

Pesan ini disampaikan oleh Haris Syahbuddin, Kepala BRMP Tanaman Pangan sekaligus Sekjen PERHIMPI. 

Ia menegaskan bahwa produksi pertanian sejatinya bukan sekadar soal hujan atau tidak, melainkan perpaduan antara air, tanaman, dan manajemen.

“Produksi itu rumusnya sederhana: air dikali tanaman dikali manajemen. Kalau satu lemah, harus diperkuat dengan adaptasi,” ujarnya dalam Forum Diskusi #1 Perhimpi yang digelar secara daring, Selasa (7/4/2026).

Haris menambahkan, prinsip utama yang ditekankan adalah panen air, kelola, lalu hemat.

Air hujan yang turun di musim basah, kata Haris, jangan dibiarkan mengalir sia-sia, karena ia harus “ditangkap” dan ditampung dalam embung, sumur, hingga long storage lalu digunakan saat musim kering datang seperti tamu tak diundang.

"Kasus di Batu Bara, Sumatera Utara, jadi contoh nyata. Di sana, petani justru membuang air berlebih tanpa kontrol. Akibatnya, saat kemarau datang, mereka kelabakan, " cetusnya. 

“Air itu bukan untuk dihambur-hamburkan. Harus dihemat, dimanfaatkan seefisien mungkin,” tambahnya.

Infrastruktur Air

Haris mengungkapkan, upaya menghadapi dampak El Nino di sektor pertanian tidak hanya bergantung pada curah hujan, tetapi juga pada kesiapan infrastruktur pengelolaan air. 

Sejumlah fasilitas seperti embung kecil, dam parit, sumur bor, hingga pemanfaatan air sungai terbukti mampu menjaga ketersediaan air di tengah musim kering.

Pemanfaatan infrastruktur tersebut telah diterapkan di berbagai daerah. 

Di Indramayu, pembangunan long storage dilaporkan mampu meningkatkan indeks pertanaman serta menghasilkan tambahan produksi hingga ribuan ton gabah. 

Sementara itu, di Maros dan Bantul, integrasi pemanfaatan air tanah dan irigasi hemat air dinilai efektif dalam menjaga produktivitas pertanian.

Selain meningkatkan hasil panen, pengelolaan air yang baik juga memberikan manfaat lain, seperti menjaga cadangan air, mempertahankan keseimbangan ekosistem, serta menekan biaya produksi. 

Hal ini menjadi penting terutama di tengah keterbatasan sumber daya air saat musim kemarau.

Meski demikian, tantangan di lapangan masih cukup besar. 

Petani sebagai pelaku utama budidaya merupakan pihak yang paling terdampak oleh fenomena El Nino, namun masih menghadapi keterbatasan akses terhadap sumber air alternatif. 

Di sisi lain, adopsi teknologi pengelolaan air dinilai masih rendah, sementara pola tanam yang diterapkan belum sepenuhnya menyesuaikan kondisi iklim.

Kondisi tersebut menunjukkan perlunya peran aktif berbagai pihak, mulai dari penyuluh, pemerintah, hingga sistem pangan secara keseluruhan. 

Kolaborasi dinilai menjadi faktor penting agar strategi adaptasi dapat berjalan efektif dan tidak berhenti pada tataran perencanaan.

Dalam kerangka adaptasi produksi, keseimbangan antara air, tanaman, dan manajemen menjadi kunci utama. 

Ketiga faktor tersebut harus berjalan secara terpadu agar produksi tetap terjaga meskipun salah satu faktor mengalami tekanan akibat perubahan iklim.

Reporter : Nattasya
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018