Saturday, 05 September 2026


Ini Kriteria Benih Padi yang Wajib Dipakai di PM-AAS, Salah Pilih Bisa Bikin Gagal Panen

17 Jul 2026, 11:35 WIBEditor : Gesha

Jangan asal pilih benih padi untuk PM-AAS. Kenali kriteria varietas unggul yang direkomendasikan agar hasil panen maksimal dan terhindar dari gagal panen.

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta – Jangan asal pilih benih padi untuk PM-AAS. Kenali kriteria varietas unggul yang direkomendasikan agar hasil panen maksimal dan terhindar dari gagal panen.

Pemilihan varietas padi menjadi salah satu faktor paling menentukan keberhasilan penerapan Pertanian Modern melalui Advanced Agricultural System (PM-AAS). 

Dalam sistem budidaya yang mengandalkan populasi tanaman tinggi, mekanisasi, dan pengelolaan budidaya secara presisi, penggunaan benih yang tidak sesuai justru berpotensi menurunkan produktivitas hingga menyebabkan gagal panen.

Kepala Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Pertanian Tanaman Padi (BRMP Padi), Amin Nur, mengatakan tidak semua varietas padi cocok diterapkan pada metode PM-AAS. 

Berdasarkan hasil kajian dan pengujian yang dilakukan BRMP Padi, terdapat sejumlah kriteria wajib yang harus dimiliki varietas agar mampu menghasilkan produktivitas tinggi sekaligus tahan terhadap berbagai tantangan di lapangan.

"Kalau kita flashback dari kajian yang sudah dilakukan, memang ada varietas-varietas yang sudah kita identifikasi dan hasilnya cukup bagus. Ada sekitar 13 varietas yang kami rekomendasikan untuk diterapkan pada metode PM-AAS karena memenuhi kriteria yang dibutuhkan," ujar Amin.

Menurutnya, pemilihan varietas bukan sekadar melihat potensi hasil di atas kertas. 

Varietas harus mampu beradaptasi dengan sistem tanam berpopulasi tinggi yang menjadi ciri khas PM-AAS.

"Varietas yang dipilih harus memenuhi kriteria tertentu. Kalau salah memilih varietas, produktivitas tidak akan optimal, bahkan risiko rebah maupun serangan penyakit menjadi lebih tinggi," katanya.

Enam Kriteria Utama

Berdasarkan hasil identifikasi BRMP Padi, terdapat enam kriteria utama varietas unggul yang direkomendasikan untuk PM-AAS.

Kriteria pertama adalah memiliki malai lebat, batang kokoh, dan perakaran kuat. Amin menjelaskan, malai yang lebat berhubungan langsung dengan jumlah gabah yang dihasilkan setiap rumpun.

"Kalau malainya tidak mendukung, hasil panennya juga tidak maksimal. Selain itu batang harus kuat supaya tidak mudah roboh dan perakarannya juga harus kuat agar mampu menyerap unsur hara secara optimal," jelasnya.

Batang yang kokoh menjadi sangat penting karena pada fase pengisian bulir, tanaman membawa beban gabah yang cukup berat. 

Jika batang mudah rebah, proses pengisian gabah akan terganggu sehingga banyak bulir yang tidak terisi sempurna.

Perakaran yang kuat juga berfungsi meningkatkan kemampuan tanaman menyerap air dan nutrisi dari dalam tanah sehingga kebutuhan hara selama fase pembentukan hingga pengisian bulir tetap terpenuhi.

Kriteria kedua adalah tahan rebah (lodging resistance).

Menurut Amin, tanaman yang mudah roboh akan menyulitkan proses pengisian gabah sekaligus meningkatkan kehilangan hasil saat panen.

"Begitu tanaman mulai rebah pada fase generatif, pengisian malai akan terganggu. Akhirnya hasil panen turun," ujarnya.

Selanjutnya, varietas juga harus tahan terhadap penyakit Hawar Daun Bakteri (HDB).

Ketahanan terhadap penyakit menjadi sangat penting karena PM-AAS menggunakan populasi tanaman yang lebih rapat dibanding budidaya konvensional. 

Kondisi tersebut menciptakan kelembaban yang lebih tinggi sehingga penyakit lebih mudah berkembang.

"Yang paling penting sebenarnya ketahanan terhadap HDB. Populasi rapat menyebabkan kelembapan tinggi sehingga menjadi tempat berkembangnya penyakit," kata Amin.

Tak hanya HDB, varietas juga harus memiliki ketahanan terhadap blas dan organisme pengganggu tanaman lainnya yang umum menyerang pertanaman padi.

Kriteria berikutnya adalah memiliki sifat anaerobic germination (AG) atau toleran terhadap genangan sejak fase perkecambahan.

Karakter ini dinilai sangat penting terutama untuk mendukung sistem tanam langsung (direct seeding) yang mulai dikembangkan dalam PM-AAS.

Menurut Amin, hingga saat ini Indonesia masih terus mengembangkan varietas dengan toleransi genangan yang lebih baik.

"Ke depan Alhamdulillah kita sudah memiliki calon varietas yang mempunyai toleransi genangan. Mudah-mudahan dalam waktu dekat bisa dirilis sehingga betul-betul mendukung metode PM-AAS," ujarnya.

Kemampuan berkecambah dalam kondisi tergenang menjadi solusi penting menghadapi perubahan iklim yang menyebabkan curah hujan tidak menentu dan meningkatkan risiko sawah tergenang pada awal pertumbuhan tanaman.

Selain memiliki karakter agronomis yang baik, varietas PM-AAS juga harus mempunyai potensi hasil lebih dari 10 ton gabah per hektare.

Menurut Amin, potensi genetik yang tinggi menjadi modal utama untuk menghasilkan produktivitas maksimal.

Namun, ia menegaskan bahwa potensi tersebut hanya dapat dicapai apabila didukung dengan pengelolaan budidaya yang tepat.

"Potensi hasil tinggi harus didukung input yang optimal. Bahkan kalau potensi genetiknya bagus dan pengelolaannya benar, hasil aktual bisa melampaui potensi yang ada," katanya.

Varietas Rekomendasi

BRMP Padi telah mengidentifikasi sedikitnya 13 varietas yang memenuhi sebagian besar kriteria PM-AAS.

Varietas dengan potensi hasil tertinggi adalah Padjajaran dengan potensi mencapai 11 ton per hektare.

Berikut daftar varietas rekomendasi PM-AAS beserta potensi hasilnya:

Padjajaran: 11,00 ton/ha

Inpari 42 GSR: 10,58 ton/ha

Inpago 12 Agritan: 10,20 ton/ha

Cakrabuana: 10,20 ton/ha

Inpari IR Nutri Zinc: 9,88 ton/ha

Inpari 33: 9,81 ton/ha

Inpari 49 Jembar: 9,57 ton/ha

Inpari 50 Marem: 9,69 ton/ha

Ci Saat: 9,33 ton/ha

Mantap: 9,10 ton/ha

Inpari 32 HDB: 8,42 ton/ha

Inpago 13 Fortiz: 8,11 ton/ha

Inpari V1E T3: 8,00 ton/ha

Varietas-varietas tersebut dipilih melalui proses identifikasi berdasarkan karakter agronomis, ketahanan terhadap penyakit, hingga potensi produktivitas pada sistem budidaya modern.

Keberhasilan PM-AAS

Amin menegaskan, keberhasilan PM-AAS tidak hanya bergantung pada varietas unggul, tetapi juga pada penerapan teknologi budidaya secara menyeluruh.

Mulai dari pengelolaan air, pemupukan presisi, penggunaan mekanisasi, hingga perbaikan kualitas tanah harus dilakukan secara terpadu.

Salah satu inovasi yang kini terus dikembangkan adalah penggunaan biochar sebagai pembenah tanah.

Menurutnya, biochar mampu memperbaiki struktur tanah sehingga meningkatkan kemampuan tanah menyimpan air dan unsur hara yang dibutuhkan tanaman.

Selain itu, pengelolaan air yang tepat menjadi faktor penting untuk mengurangi risiko tanaman rebah maupun serangan penyakit pada pertanaman berpopulasi tinggi.

"Beberapa inovasi seperti biochar dan pengelolaan air yang tepat terus kita lakukan. Dipadukan dengan varietas yang memenuhi kriteria, produktivitas tanaman akan jauh lebih optimal," katanya.

Ia menambahkan, PM-AAS bukan sekadar mengganti cara tanam, melainkan sistem budidaya modern yang mengintegrasikan varietas unggul, mekanisasi, pengelolaan air, pemupukan presisi, serta inovasi teknologi untuk mengejar produktivitas tinggi secara berkelanjutan.

"Varietas unggul menjadi fondasi utama. Kalau varietasnya sudah tepat, kemudian didukung teknologi budidaya yang benar, maka target produksi tinggi sekaligus keuntungan petani akan lebih mudah dicapai," pungkas Amin.

Reporter : Nattasya
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018