
Di tengah ancaman krisis pangan global, Kementan menyiapkan jurus modernisasi pertanian. Teknologi dan mekanisasi jadi kunci menjaga swasembada.
TABLOIDSINARTANI.COM, Tangerang Selatan – Di tengah ancaman krisis pangan global, Kementan menyiapkan jurus modernisasi pertanian. Teknologi dan mekanisasi jadi kunci menjaga swasembada.
Wakil Menteri Pertanian Alim Setiawan menegaskan modernisasi pertanian melalui inovasi teknologi dan mekanisasi menjadi kunci menjaga keberlanjutan swasembada pangan nasional.
Langkah tersebut dinilai penting di tengah perubahan iklim, perkembangan teknologi, dinamika rantai pasok global, hingga ketidakpastian geopolitik yang semakin memengaruhi sektor pangan.
Hal itu disampaikan dalam Edu Tani bertema “Dua Tahun Kinerja Kementan: Akselerasi Pertanian Modern Mendukung Swasembada Pangan Nasional” pada ajang Indogritech 2026 di ICE BSD City, Rabu (4/11/2026).
Kegiatan ini membahas capaian Kementerian Pertanian selama dua tahun terakhir sekaligus strategi mempercepat modernisasi pertanian untuk memperkuat ketahanan pangan nasional.
Alim mengatakan, tantangan pangan saat ini tidak lagi hanya berkaitan dengan peningkatan produksi.
Perubahan iklim yang semakin terasa, perkembangan teknologi yang berlangsung cepat, serta gangguan rantai pasok dan situasi geopolitik menuntut setiap negara memperkuat kemampuan memenuhi kebutuhan pangannya sendiri.
Ia mencontohkan, sebanyak 33 negara saat ini tengah menyiapkan stok darurat pangan untuk mengantisipasi kemungkinan krisis.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ketahanan pangan telah menjadi persoalan strategis yang mendapat perhatian serius di berbagai negara.
"Alhamdulillah, negara kita saat ini sudah swasembada, stok pangan kita cukup, terutama untuk komoditas strategis. Kita perlu terus menjaga swasembada tersebut agar berkelanjutan," ujar Alim.
Menurutnya, keberhasilan mencapai swasembada tidak boleh berhenti pada peningkatan produksi dalam jangka pendek.
Indonesia perlu memastikan kemampuan produksi tetap terjaga sehingga kebutuhan pangan masyarakat dapat dipenuhi secara berkelanjutan.
Ada dua faktor penting yang menjadi penentu keberlanjutan swasembada pangan, yakni inovasi unggul dan penguatan sumber daya manusia (SDM).
Alim menjelaskan, inovasi harus menjadi penggerak utama transformasi pertanian.
Hasil penelitian dari perguruan tinggi, lembaga riset, BRIN, maupun unit riset di lingkungan Kementerian Pertanian perlu terus dikembangkan agar menghasilkan teknologi yang dapat diterapkan langsung oleh petani.
Inovasi tersebut mencakup pengembangan varietas unggul, mekanisasi pertanian, hingga teknologi yang mampu meningkatkan produktivitas sekaligus menekan penggunaan input produksi.
Dengan dukungan teknologi, petani diharapkan dapat menghasilkan produksi lebih tinggi menggunakan sumber daya yang lebih efisien.
Mekanisasi juga dibutuhkan untuk mengatasi keterbatasan tenaga kerja dan mempercepat kegiatan usaha tani dari pengolahan lahan hingga pascapanen.
Peran BRMP Mektan
Komitmen mempercepat modernisasi pertanian tersebut sejalan dengan peran Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Pertanian Mekanisasi Pertanian atau BRMP Mektan.
Kepala BRMP Mektan, Arief Rahman menjelaskan, lembaga ini mengambil peran dalam pengembangan dan penerapan teknologi mekanisasi, pengujian serta standardisasi alat mesin pertanian (alsintan), peningkatan kapasitas SDM, hingga pendampingan penerapan teknologi di kawasan strategis pertanian.
Dalam paparan capaian dua tahun Kementerian Pertanian periode Oktober 2024 hingga Oktober 2026, produksi padi nasional menunjukkan peningkatan.
Berdasarkan data posisi 3 November 2026, produksi padi dalam bentuk gabah kering giling (GKG) naik 13,29 persen, dari 53,14 juta ton pada 2024 menjadi 60,21 juta ton pada 2025.
Produksi beras juga meningkat dari 30,62 juta ton menjadi 34,69 juta ton. Sementara itu, luas panen bertambah 12,69 persen, dari 10,05 juta hektare menjadi 11,32 juta hektare.
Dari sisi cadangan pangan, Cadangan Beras Pemerintah (CBP) tercatat mencapai 4,6 juta ton pada 7 April 2026 dan meningkat menjadi 5,17 juta ton pada 1 Juli 2026. Adapun produksi beras Januari hingga Agustus 2026 mencapai 25,29 juta ton.
Capaian tersebut menjadi modal penting untuk memperkuat ketahanan pangan.
Namun, peningkatan produksi juga perlu diikuti perbaikan efisiensi dan pemerataan teknologi agar produktivitas pertanian terus meningkat.
BRMP Mektan mengarahkan mekanisasi untuk menjangkau seluruh tahapan produksi.
Pada pengolahan lahan dan penanaman, penggunaan alsintan dapat mempercepat pekerjaan sekaligus mengurangi kebutuhan tenaga kerja dan biaya operasional.
Pada tahap pemeliharaan, teknologi mekanisasi memungkinkan pemupukan dan pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) dilakukan lebih presisi sehingga penggunaan input lebih efisien.
Sementara pada saat panen, penggunaan mesin membantu mempercepat pengumpulan hasil sekaligus menekan kehilangan produksi.
Teknologi pascapanen, seperti mesin pengering, pembersih, penyimpanan, dan pengolahan, juga berperan menjaga kualitas hasil pertanian serta meningkatkan nilai tambah produk.
Di sisi lain, modernisasi tersebut turut membutuhkan dukungan infrastruktur.
Perbaikan irigasi tersier dan pengelolaan tata air menjadi bagian penting untuk menjamin ketersediaan air dan meningkatkan indeks pertanaman.
Pompanisasi juga dimanfaatkan untuk mendukung lahan tadah hujan, terutama dalam menghadapi musim kering. Selain itu, optimasi lahan rawa, lebak, dan lahan suboptimal menjadi peluang untuk memperluas areal tanam.
Meski demikian, sejumlah tantangan masih perlu diselesaikan.
Adopsi mekanisasi belum merata di seluruh wilayah, sementara penggunaan teknologi belum sepenuhnya terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Persoalan lainnya meliputi keterbatasan layanan purna jual, perawatan dan ketersediaan suku cadang alsintan, standardisasi teknologi, akses pembiayaan, serta kemampuan kelembagaan petani dan Usaha Pelayanan Jasa Alsintan (UPJA).
Karena itu, penguatan teknologi digital dan pertanian presisi, pengembangan model pembiayaan alsintan, serta peningkatan kompetensi operator dan teknisi menjadi bagian dari agenda transformasi pertanian.
Mekanisasi Perkebunan
Modernisasi pertanian tidak hanya menyasar tanaman pangan, tetapi juga sektor perkebunan, termasuk kelapa sawit.
Pemanfaatan teknologi dinilai dapat membantu pekebun meningkatkan produktivitas sekaligus mengatasi keterbatasan tenaga kerja.
Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Helmi Muhansyah, mengatakan mekanisasi menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan efisiensi dan keamanan kerja pekebun sawit.
Sektor sawit memiliki peran strategis dalam perekonomian nasional.
Industri ini menyerap sekitar 4,2 juta tenaga kerja langsung, termasuk 2,6 juta petani, serta berkontribusi sekitar 3,5 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
Nilai ekspor sawit pada 2025 tercatat mencapai USD35,87 miliar atau sekitar Rp590 triliun berdasarkan data GAPKI.
Sekitar 42 persen lahan perkebunan sawit juga dikelola petani.
Kondisi tersebut membuat peningkatan produktivitas kebun rakyat menjadi salah satu perhatian dalam pengembangan industri sawit nasional.
"Mekanisasi membantu petani bekerja lebih efisien dan aman, tanpa harus menambah luas lahan," ujar Helmi.
Melalui program penelitian dan pengembangan, BPDP mendukung lahirnya sejumlah inovasi teknologi tepat guna.
Salah satunya Prunning Palm Fronds Drone, yakni drone pemangkas pelepah sawit yang dikembangkan menggunakan drone DJI Agras T25 dengan tambahan lengan robotik dan pemotong elektrik.
Teknologi tersebut memungkinkan pemangkasan dilakukan secara lebih presisi, baik secara otomatis maupun melalui kendali jarak jauh.
Penggunaannya diharapkan mengurangi kebutuhan pekerja untuk memanjat pohon sekaligus menghemat waktu dan tenaga.
Inovasi lainnya adalah Electric Wheel Barrow, alat angkut tandan buah segar (TBS) bermotor listrik hasil Grant Riset Sawit 2023 bersama DRPM ITS.
Alat ini dirancang membantu pekebun memindahkan hasil panen dari kebun dengan lebih mudah.
Selain dukungan penelitian, BPDP juga menyalurkan bantuan sarana dan prasarana kepada kelompok tani, gabungan kelompok tani, koperasi perkebunan, serta kelembagaan pekebun lainnya.
Bantuan tersebut mencakup alat pascapanen, unit pengolahan hasil, pembangunan jalan kebun, tata kelola air, alat transportasi, hingga mesin pertanian seperti traktor dan ekskavator.
Dukungan mekanisasi juga berjalan beriringan dengan Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), yang menyediakan pendanaan Rp60 juta per hektare berdasarkan NIK petani.
Berbagai upaya tersebut menunjukkan bahwa modernisasi teknologi membutuhkan dukungan lintas sektor, mulai dari penelitian, pengembangan alsintan, pembiayaan, hingga penguatan kelembagaan petani.
Pada akhirnya, sebagaimana ditekankan Alim, keberlanjutan swasembada pangan tidak cukup hanya mengandalkan capaian produksi. Inovasi teknologi harus berjalan bersama peningkatan kualitas SDM agar petani mampu mengadopsi dan memanfaatkan teknologi secara optimal.
Dengan penguatan kedua faktor tersebut, modernisasi pertanian diharapkan tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga membangun sistem pertanian yang lebih efisien, adaptif terhadap perubahan iklim, dan mampu menjaga kedaulatan pangan Indonesia dalam jangka panjang.