Selasa, 21 Mei 2019


Produktivitas Jagung Lahan Pasang Surut Berlipat dengan Teknologi BJA

01 Nov 2018, 17:14 WIBEditor : Gesha

HKTI beserta IPB dan PT FKS Multi Agro Panen Jagung di Lahan Pasang Surut di Jambi | Sumber Foto:HKTI

Jagung bisa berproduksi baik dengan BJA

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Tanjung Jabung Timur --- Potensi lahan pasang surut di Indonesia seluas 21 juta hektar dapat dikembangkan untuk menjadi lahan pertanian. Salah satunya pertanaman jagung yang bisa dilakukan dengan teknologi BJA.

Hal tersebut terlihat dalam Proyek budidaya jagung lahan rawa pasang surut yang dilakukan Tim Ahli Institut Pertanian Bogor (IPB) dengan PT FKS Multi Agro Tbk di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi, yang sukses menghasilkan panen jagung berlipat ganda, dari biasanya sekitar 2 (dua) ton menjadi rata-rata 6 (enam) ton per hektar. Sebelumnya para petani yang menanam jagung di lahan tersebut produksinya hanya sekitar 2 (dua) ton saja per hektar.

Teknologi Budi Daya Jenuh Air (BJA) ditemukan oleh guru besar IPB yakni Profesor Munif Ghulamahdi. Melalui teknologi ini lahan pasang surut dapat dimanfaatkan menjadi lahan yang lebih produktif. Bahkan tinggi pohon jagungnya ada yang mencapai hampir tiga meter.

“Inovasi teknologi yang dapat diterapkan untuk mengatasi kendala di lahan pasang surut adalah dengan penerapan teknologi Budidaya Jenuh Air (BJA),” kata salah satu dari Tim Ahli IPB, Toyip Hadinata saat acara Panen Jagung dengan Teknologi Budidaya Jenuh Air di Lahan Rawa Pasang Surut di Jambi, Kamis (1/11).

Secara keseluruhan lahan budidaya berteknologi BJA yang dikelola Tim Ahli IPB dan FKS Multi Agro di kecamatan Rantau Rasau mencapai 120 hektar. Budidaya tanaman jagung seluas 95 hektar, kedelai 10 hektar, dan padi 15 hektar.

Varietas jagung yang di tanam adalah varietas hibrida Pioner 32, varietas Bhisma dan varietas sukmaraga. Varietas padi adalah inpara 3. Varietas kedelai adalah anjasmoro dan Tanggamus.

Kegiatan budidaya di lahan pasang surut itu mendapat dukungan penuh dari pemerintah daerah dengan keterlibatan dinas pertanian dan petani setemat. Kelompok tani yang terlibat sebanyak empat kelompok dan dua Gapoktan.

“Untuk pengembangan dan kesuksesan ke depan diperlukan kerja sama semua sektor yaitu pemerintah, akademisi, pengusaha, dan petani. Hal yg perlu difokuskan adalah, pertama  perbaikan tata air makro dan mikro, kedua  penggunaan alsintan yang tepat guna, ketiga jaminan harga,” tutur Toyip.

Potensi Pasut Jambi

Menurut data Bappeda tahun 2000, Provinsi Jambi diperkirakan memiliki lahan rawa seluas 684.000 ha. Dari luasan tersebut berpotensi untuk pengembangan pertanian 246.481 ha terdiri dari lahan lahan rawa pasang surut 206.832 ha dan lahan non pasang surut seluas 40.521 ha.

Lahan pasang surut di Jambi sebagian besar terdapat di Kabupaten Tanjung Jabung Barat dan Tanjung Jabung Timur.

Lahan pasang surut Provinsi Jambi telah lama diusahakan oleh penduduk lokal maupun penduduk transmigrasi. Tanaman yang diusahakan petani selain padi adalah palawija (jagung dan kedelai).

Hasil beberapa penelitian menunjukkan bahwa lahan rawa pasang surut cukup potensial untuk usaha pertanian baik untuk tanaman pangan, perkebunan, hortikultura maupun usaha peternakan bila ditopang teknologi dan manajemen pertanian yang baik.

Dengan suksesnya budidaya jagung lahan pasang surut di Rantau Rasau, Tanjung Jabung Timur, ini maka PT FKS  dan tim ahli IPB mewacanakan untuk menerapkannya di seluruh wilayah Jambi bahkan nasional.

Oleh karena itu mereka menggandeng HKTI sebagai refresentasi petani untuk mewujudkan rencana tersebut. Pemerintah daerah Jambi, baik provinsi maupun kabupaten, sangat mendukung rencana tersebut.

Untuk itu, dalam acara panen jagung di Rantau Rasau ini dilakukan juga penandatangan nota kesepahaman (MoU) tentang pemanfaatan Teknologi Budidaya  Jenuh Air Lahan Pasang Surut untuk mendukung pertanian padi, jagung, dan kedelai nasional. MoU ini melibatkan tiga pihak, yakni HKTI, IPB (tim ahli), dan PT FKS Multi Agro Tbk.

Bagi HKTI, kesepahaman ini sesuai dengan visi dan misi HKTI sebagai lembaga yang bertugas menjembatani kepentingan petani dengan berbagai pihak.

“HKTI akan berperan sebagai bridging institution dalam sistem inovasi pertanian. Dimulai dengan membangun kemitraan riset dengan universitas, perusahaan, pemerintah, dan komunitas (civil society),” kata Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Moeldoko.

 

 

Reporter : Clara
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018