Thursday, 23 September 2021


Pakan Fermentasi, Lebih Murah dan Baik untuk Pencernaan Itik

06 Sep 2021, 14:34 WIBEditor : Gesha

Pakan fermentasi untuk itik pedaging | Sumber Foto:ISTIMEWA

TABLOIDSINARTANI.COM, Banda Aceh --- Bahan baku pakan lokal yang ada di sekitar daerah budidaya sebenarnya memiliki peluang besar menyediakan gizi untuk ternak unggas, salah satunya itik pedaging. Namun, penggunaan bahan lokal ini perlu dilakukan fermentasi terlebih dahulu. 

"Penggunaan pakan lokal memang masih terbatas, harganya pun relatif mahal karena ketersediaannya yang fluktuatif dan mutu yang variatif," ungkap Dosen Fakultas Pertanian Prodi Peternakan USK Banda Aceh, Dr Allaily kepada tabloidsinartani.com 

Karena itu, sambungnya, untuk meningkatkan pemakaian pakan lokal telah dilakukan pemerintah melalui beberapa kebijakan. Antara lain seperti peningkatan pajak biaya masuk untuk bahan pakan impor. Namun upaya ini belum sepenuhnya berhasil, karena adanya faktor - faktor pendukung yang belum diperhatikan seperti penyediaan sarana, prasarana, dan sosialisasi teknologi pengolahan pakan.

Teknologi pengolahan pakan juga memegang peranan penting dalam penentuan harga. Karenanya, perlu mencari terobosan teknologi yang murah, sederhana, dan mempunyai fungsi ganda. "Dibandingkan dengan teknologi pengeringan, teknologi fermentasi anaerob menjadikan pakan fermentasi  lebih menjanjikan untuk diterapkan dan mengandung manfaat baik bagi pencernaan itik pedaging," ujarnya. 

Pembuatan silase ransum komplit, selain untuk pengawetan juga dimaksudkan agar bahan baku pasca panen yang berkadar air tinggi langsung dapat digunakan tanpa pengeringan, sehingga secara aplikatif teknologi ini dapat memotong jalur produksi pakan menjadi lebih singkat. 

Baca Juga :

Trik Usman, Tekan Biaya Pakan Itik 100 Persen

Usaha Telur Itik Jalan Terus Meski Didera Covid-19

Allaily yang merupakan alumni Magister IPB University tahun 2006 dan Program Doktoral tahun 2017, menambahkan risetnya tentang fermentasi beberapa bahan pakan lokal yang diramu menjadi  ransum komplit dengan kadar air 50% pada Itik Mojosari Alabio Jantan dengan tujuan menghasilkan daging, berhasil menunjukkan konversi ransum yang terbaik diantara perlakuan lainnya (Perlakuan kadar air 30%, 40 persen, 60 persen). Manfaat dari riset ini yaitu menciptakan tren baru teknologi pakan unggas di Indonesia agar terwujudnya ketahanan pakan, sehingga secara tidak langsung mendukung ketahanan pangan. 

Teknik Fermentasi

Istri dari Jumadil Akhir ini menuturkan, pemberian pakan untuk itik adalah membasahkan pakan kering hingga berbentuk bubur. Namun dengan teknologi fermentasi ini diharapkan kadar air yang ada pada bahan dapat digunakan langsung. Produk fermentasi pakan ini biasanya dikenal dengan sebutan silase.

Mengapa menggunakan teknologi fermentasi? Allaily menanggapi karena bahan baku yang berkadar air tinggi tanpa pengolahan akan mudah rusak saat penyimpanan, oleh karena itu kadar air yang tinggi tersebut dapat dimanfaatkan dengan cara fermentasi. 

Menurutnya teknologi fermentasi akan mempertahankan kualitas bahan pakan tersebut pada saat penyimpanan. Teknologi fermentasi juga memiliki manfaat bagi kecernaan bahan pakan, memperbaiki fisik usus dan menambah mikroflora baik di dalam saluran pencernaan ternak.

Apalagi jika ditambah bakteri asam laktat yang berperan dalam teknologi fermentasi pada pakan, membuat itik mendapatkan manfaat probiotik untuk meningkatkan penampilannya. 

Ibu tiga anak ini menjelaskan, teknologi fermentasi lazimnya digunakan pada ternak ruminansia, namun dalam penelitian kali ini untuk membuat pakan fermentasi ternak unggas khususnya itik pedaging menggunakan bahan pakan lokal berupa jagung kuning, dedak, ubi kayu, daun ubi kayu, bungkil inti sawit, tepung ikan lokal, kacang kedelai lokal, minyak kelapa dan premix serta air dan tambahan bakteri asam laktat (BAL) berupa Lactobacillus plantarum. 

Dari percobaannya walau pemberian tersebut tidak nyata memberikan pengaruh terhadap pH, bakteri asam laktat (BAL), dan total asam pada ransum dengan berbagai kadar air yang difermentasi, namun dengan penambahan aditif berupa BAL pada produk silase dengan formulasi bahan pakan yang sudah komplit menyebabkan fermentasi cepat dicapai, yaitu bahkan di umur fermentasi 1 minggu sudah dapat digunakan. Ransum komplit yang difermentasi tersebut memberikan penampilan itik pedaging yang sama dengan perlakuan kontrol.  

Dr Allaily selain aktif sebagai dosen, kini ia juga menjabat sebagai kepala Laboratorium Ilmu dan Teknologi Produksi Ternak Unggas di kampusnya. Wanita kelahiran Medan 14 Juli 1978 yang murah senyum ini, merupakan anak pertama dari tujuh bersaudara, pasangan Bapak Alm Tarman mantan guru SMAN 1 dan 2 Banda Aceh dengan Ibu Suryati.

Kini disela-sela kesibukannya ia membangun bisnis susu fermentasi berupa kefir dengan nama produk Mutiara Cinta Kefir, bagi pembaca yang membutuhkan produknya dapat menghubungi ke nomor WA 085359079042. "Ke depan tim mencobakan juga kepada itik petelur untuk melihat pengaruh pakan fermentasi terhadap kualitas telur," pungkasnya.

Reporter : AbdA
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018