Friday, 06 March 2026


Peternak Ayam Harus Siap! Harga Pakan Diprediksi Naik 10 persen di 2026

26 Nov 2025, 08:28 WIBEditor : Gesha

Peternak ayam harus siap! Harga pakan diprediksi naik 10 persen di 2026, imbas lonjakan harga jagung. Biaya produksi melambung, untung bisa tergerus jika tak waspada.

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --Peternak ayam harus siap! Harga pakan diprediksi naik 10 persen di 2026, imbas lonjakan harga jagung. Biaya produksi melambung, untung bisa tergerus jika tak waspada.

Peternak ayam dan produsen pakan harus menyiapkan strategi ekstra. Harga bahan baku pakan ternak, terutama jagung, diprediksi mendorong harga pakan naik hingga 10% di tahun 2026.

Ketua Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT), Desianto Utomo, mengingatkan, lonjakan harga ini bisa langsung berdampak pada biaya produksi dan margin keuntungan peternak.

“Jagung itu bahan pokok utama untuk pakan ayam. Kalau harganya tinggi, otomatis harga pakan ikut naik. Kedelai memang stabil, tapi lonjakan jagung ini bikin industri waspada,” ujar Desianto, Selasa (25/11/2025).

Meskipun kapasitas pabrik pakan masih ada 10 juta ton yang idle, ketersediaan bahan baku tetap menjadi kendala utama.

“Kita bisa memproduksi lebih banyak, tapi kalau bahan baku tidak mencukupi, kapasitas itu cuma jadi angka di atas kertas,” jelasnya.

Industri perunggasan Indonesia menyumbang sekitar 65?ri total protein hewani yang dikonsumsi masyarakat.

Namun konsumsi nasional masih relatif rendah yaitu daging ayam per kapita hanya 13 kg per tahun, dan telur 21 kg. Dengan program MBG yang menargetkan 82 juta anak hingga 2028, Desianto melihat peluang pasar masih sangat luas.

Meski begitu, ketergantungan industri pakan terhadap sektor ayam sangat tinggi. Dari 110 pabrik anggota GP MT, 90% produksinya ditujukan untuk ayam. “Kalau sektor perunggasan terganggu, industri pakan ikut terseret,” tegasnya.

Prediksi Desianto, harga pakan akan naik minimal 5–10% di semester pertama 2026 jika harga jagung tidak kembali normal. “Peternak harus siap dengan strategi mitigasi. Kalau tidak, biaya produksi bisa membengkak dan harga ayam ikut terdampak,” tambahnya.

Selain itu, pasar ekspor memberikan tekanan tersendiri. Tarif tertentu ke AS 0%, namun regulasi global tetap mempengaruhi arus perdagangan.

“Situasinya seperti bonus sekaligus tantangan. Kita harus pintar mengatur rantai pasok,” kata Desianto.

Meski menghadapi tantangan, Desianto optimistis industri perunggasan tetap bisa tumbuh jika manajemen produksi dan distribusi pakan dijalankan tepat.

“Tahun 2026 bisa jadi era baru unggas kalau semua pihak main cerdas. Mati hidupnya industri pakan dan ayam itu nyambung banget,” pungkasnya.

Reporter : Nattasya
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018