
Pasokan daging dan produk ternak lainnya dipastikan surplus
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Meski permintaan bahan pangan asal hewan terus naik seiring kian dekatnya hari raya Idul Fitri, namun pemerintah memastikan ketersediaan daging sapi, daging ayam dan telur cukup bahkan melebihi kebutuhan sehingga diperkirakan harganya di pasaran relatif stabil.
"Stoknya surplus, kondisinya sangat aman menjelang hari raya Idul Fitri 1440 H," tegas Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementan, I Ketut Diarmita pada acara Bincang Asik Pertanian Indonesia (Bakpia), di Jakarta, Jumat (31/5).
Di acara yang dipandu oleh Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Informasi Publik Kementan, Kuntoro Boga Andri tersebut dipaparkan perhitungan tingkat kebutuhan di masyarakat serta posisi stok yang ada.
Maka di periode Mei-Juni 2019 yang bertepatan dengan akan datangnya hari lebaran didapat angka surplus daging sapi sebanyak 2.450 ton, daging ayam ras dan telur ayam ras masing-masing sekitar 30 ribu ton dan 153 ribu ton.
Ketersediaannya yang cukup membuat ketiga jenis bahan pangan sumber protein hewani tersebut harganya di tingkat eceran relatif stabil.
Dilaporkan pada posisi minggu ke 4 Mei di pasaran (tingkat konsumen) harga daging sapi di kisaran Rp 100 ribu - Rp 120 ribu per kg, daging ayam ras Rp 20 ribu - Rp 23 ribu per kg dan telur sekitar Rp 23 ribu per kg.
"Meski harga tiga produk itu berfluktuasi setiap hari tapi kenaikan harganya tak terlalu tinggi. Karena itu pemerintah menilai belum perlu dilakukan operasi pasar," kata Dirjen PKH yang pada kesempatan itu didampingi seluruh direktur lingkup Ditjen PKH.

I Ketut Diarmita menjelaskan bahwa data terkait harga di tingkat konsumen diperoleh melalui koordinasi dengan Badan Ketahanan Pangan Kementan dan pihak Kementerian Perdagangan.
Sedangkan Ditjen PKH melalui petugas pelayanan informasi pasar (PIP) melakukan pemantauan harga di tingkat peternak.
Yang juga membuat tenang, menjelang Idul Fitri kali ini secara rata-rata harga di tingkat peternak kenaikannya tak berlebihan sehingga tak mendorong terjadinya lonjakan harga yang tinggi di tingkat konsumen.
Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan (PPHNak) Kementan, Fini Murfiani mengatakan, hasil pemantauan di periode April - Mei harga telur ayam di tingkat peternak rata-rata tak lebih dari Rp 20 ribu per kg. Hanya di wilayah Kepulauan Riau (Kepri) yang agak tinggi peningkatannya.
"Jadi kalau di tingkat konsumen daerah lain harga telur jauh dari itu mungkin ada faktor lain yang mempengaruhi, seperti masalah biaya transportasi," jelasnya.
Seperti halnya telur ayam ras, kenaikan harga daging sapi di tingkat peternak tertinggi juga di wilayah Kepri. Sedangkan terendah di wilayah NTT sebagai sentra ternak sapi potong.