Kamis, 27 Juni 2019


Tenang, Stok Daging dan Telur Jelang Lebaran Surplus

02 Jun 2019, 13:14 WIBEditor : Gesha

Pasokan daging dan produk ternak lainnya dipastikan surplus | Sumber Foto:ISTIMEWA

Di periode Mei-Juni 2019 yang bertepatan dengan akan datangnya hari lebaran didapat angka surplus daging sapi sebanyak 2.450 ton, daging ayam ras dan telur ayam ras masing-masing sekitar 30 ribu ton dan 153 ribu ton.

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Meski permintaan bahan  pangan asal hewan terus naik seiring kian dekatnya  hari raya  Idul Fitri, namun pemerintah memastikan ketersediaan daging sapi, daging ayam dan telur cukup bahkan melebihi kebutuhan sehingga diperkirakan harganya di pasaran relatif stabil. 

"Stoknya surplus, kondisinya sangat aman menjelang hari raya Idul Fitri 1440 H," tegas Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementan, I Ketut Diarmita pada acara Bincang Asik Pertanian Indonesia (Bakpia), di Jakarta, Jumat (31/5).

Di acara yang dipandu oleh Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Informasi Publik Kementan, Kuntoro Boga Andri tersebut dipaparkan perhitungan tingkat kebutuhan di masyarakat serta posisi stok yang ada.

Maka di periode Mei-Juni 2019 yang bertepatan dengan akan datangnya hari lebaran didapat angka surplus daging sapi sebanyak 2.450 ton, daging ayam ras  dan telur ayam ras masing-masing sekitar 30 ribu ton dan 153 ribu ton.

Ketersediaannya yang cukup membuat ketiga jenis bahan pangan sumber protein hewani tersebut harganya di tingkat eceran relatif stabil.

Dilaporkan pada posisi minggu ke 4 Mei di pasaran (tingkat konsumen) harga daging sapi di kisaran Rp 100 ribu - Rp 120 ribu per kg, daging ayam ras Rp 20 ribu - Rp 23 ribu per kg  dan telur sekitar Rp 23 ribu per kg.

"Meski harga tiga produk itu berfluktuasi setiap  hari tapi kenaikan harganya tak terlalu tinggi. Karena itu pemerintah  menilai belum perlu dilakukan operasi pasar," kata Dirjen PKH yang pada kesempatan itu didampingi seluruh direktur lingkup Ditjen PKH.

I Ketut Diarmita menjelaskan bahwa data terkait harga di tingkat konsumen diperoleh melalui koordinasi dengan Badan Ketahanan Pangan Kementan dan pihak Kementerian Perdagangan.

Sedangkan Ditjen PKH melalui petugas pelayanan informasi pasar (PIP)  melakukan pemantauan harga di tingkat peternak.

Yang juga membuat tenang, menjelang Idul Fitri kali ini secara rata-rata harga di tingkat peternak kenaikannya tak berlebihan sehingga tak mendorong terjadinya  lonjakan harga yang tinggi di tingkat konsumen.

Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan (PPHNak) Kementan, Fini Murfiani mengatakan, hasil pemantauan di periode April - Mei harga telur ayam di tingkat peternak rata-rata  tak  lebih dari Rp 20 ribu per kg. Hanya di wilayah Kepulauan Riau (Kepri) yang agak tinggi peningkatannya.

"Jadi kalau di tingkat konsumen daerah lain  harga telur  jauh dari itu mungkin ada faktor lain yang mempengaruhi, seperti masalah biaya  transportasi,"  jelasnya.

Seperti halnya telur ayam ras, kenaikan harga daging sapi di tingkat peternak tertinggi juga di wilayah Kepri. Sedangkan terendah di wilayah  NTT sebagai sentra ternak sapi potong. 

Reporter : Ika Rahayu
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018