Kamis, 27 Juni 2019


Usulan Gapuspindo, Dekatkan Sentra Peternakan Sapi dengan Daerah Penyangga

10 Jun 2019, 14:18 WIBEditor : Yulianto

Sentra sapi potong umumnya jauh dari pusat konsumsi, sehingga membuat harga daging cukup tinggi | Sumber Foto:Julian

Pemenuhan kebutuhan daging sapi dengan metode impor hanya jangka pendek. Tak hanya itu, pemerintah juga harus memperhitungkan antara biaya produksi peternak lokal dan biaya produksi daging sapi impor.

TABLOIDSINARTANI.COM, JAKARTA--Setiap menjelang Lebaran dan hari raya besar nasional, sumber protein terbesar di Indonesia, daging sapi selalu bergejolak. Padahal, jika sentra peternakan dibangun di sekitar daerah kota besar, permasalahan harga yang melonjak tidak perlu terjadi.

Direktur Eksekutif Gabungan Pelaku Usaha Peternakan Sapi Potong Indonesia (Gapuspindo) Joni P. Liano mengatakan, melihat tingkat konsumsi yang tinggi di kota besar, Gapuspindo mengusulkan agar sentra peternakan sapi potong justru didekatkan pada daerah penyangga.  Saat ini yang sudah berjalan pasokan daging sapi dari Bogor seperti Rumpin untuk wilayah Jabodetabek.

Tapi itu pun masih belum bisa memenuhi kebutuhan seluruhnya. Paling hanya 40 persennya,” kata Joni. Badan Pusat Statistik mencatat kebutuhan daging sapi per tahunnya di Jabodetabek sekitar 40 ribu ton. Jumlah tersebut khusus hanya untuk memenuhi kebutuhan Lebaran.

Joni mengaku, sebenarnya Program Sapi Indukan Wajib Bunting (SIWAB) sangat baik mendorong sentra peternakan di daerah penyangga. Untuk diketahui, selama dua tahun Upsus Siwab berjalan sudah melahirkan 2,74 juta ekor. Dari jumlah tersebut 500.000 diantaranya adalah sapi perah sementara 2,2 juta ekor sisanya adalah sapi potong.

Berdasarkan data Kementerian Pertanian, pertumbuhan populasi Upsus Siwab (2014-2017) mengalami kenaikan sebesar 3,86 persen per tahun, dibanding dengan sebelum program GBIB (Geretak Birahi dan Inseminasi Buatan) dan Upsus Siwab (2012 – 2014) dengan rata-rata pertumbuhan per tahunnya sebesar 1,03 persen.

Selain percepatan peningkatan populasi sapi dan mengubah pola pikir peternak, dampak Upsus Siwab juga mampu menurunkan pemotongan betina produktif. Pemotongan sapi dan kerbau betina produktif secara nasional pada periode Januari  sampai November 2018 sebanyak 8.514 ekor.

Jumlah pemotongan tersebut menurun 57,12 persen dibandingkan pemotongan sapi dan kerbau betina produktif pada periode yang sama tahun 2017.Melihat hitung-hitungan produksi sapi dari hasil SIWAB, di tahun 2020 nanti baru bisa panen. Tapi itu juga bergantung pada lonjakan konsumsi," katanya.

Jangan Terjebak Impor

Joni juga menilai, pemenuhan kebutuhan daging sapi dengan metode impor hanya jangka pendek. Tak hanya itu, pemerintah juga harus memperhitungkan antara biaya produksi peternak lokal dan biaya produksi daging sapi impor. Pasalnya, bila ada kesenjangan yang jauh, Liano mengkhawatirkan Indonesia akan terjebak pusaran impor daging sapi.

Di kalangan importir sendiri, diakui Liano tengah mencari negara lain sebagai sumber impor daging selain dari Australia. “Dari tahun kemarin, Australia  mengurangi jumlah ekspor sapi hidup dalam satu sesi pengapalan. Kita sudah hitung-hitung. Ada negara produsen yang potensial seperti Meksiko, Brasil, dan Afrika Selatan, tuturnya.

Tahun lalu, total impor sapi hidup setara daging sapi Indonesia mencapai 119.620 ton. Untuk kebutuhan satu tahun di 2019, pemerintah telah mengeluarkan izin atas impor 500.000 ekor sapi bakalan yang berlaku selama 1 tahun. Sepanjang Januari-April 2019, realisasi impor mencapai 120.000 ekor.

 

Reporter : Gesha
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018