Jumat, 14 Juni 2024


Rektor IPB: Data BPS Jadi Patokan Sebelum Memutuskan Impor

08 Mar 2021, 16:52 WIBEditor : Yulianto

Arif Satria Rektor IPB | Sumber Foto:Dok Sinar Tani

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor----Rektor IPB University, Prof. Arif Satria meminta pemerintah menjadikan laporan angka produksi pangan Badan Pusat Statistik (BPS) sebagai patokan pemerintah, termasuk dalam memberikan keputusan perlu tidaknya impor beras tahun ini.

Seperti diketahui, BPS baru saja merilis data potensi-potensi produksi pada Januari sampai April 2021 kurang lebih sekitar 14 juta ton atau naik 26 persen dibandingkan tahun 2020. BPS juga menyebutkan potensi surplus pada Januari-April sekitar 4,8 juta ton.

Artinya berdasarkan indikator produksi dankonsumsi, apalagi melihat harga yang ada di lapangan  cenderung menurun, maka  tidak ada alasan untuk kita impor beras.  Arif menyebut, data BPS stok beras cukup karena otoritas mengeluarkan data itu adalah BPS.

“Kenapa tidak ada alasannya impor, saya kira tadi sudah jelas bahwa diprediksi stok cukup dan panen raya ini bisa memberikan surplus. Nah yang penting bagi kita adalah bagaimana kita mampu untuk melakukan penyerapan gabah dari petani. Saya kira ini langkah yang harus dilakukan dan sinergi antara Kementan, Bulog dan Kemendag dan berbagai instansi,” ujar Arif Satria di sela-sela rakor produksi beras di Bogor , Minggu (8/3).

Menurut Arif, harus dilakukan transparansi dalam berbagai pengambilan keputusan berkaitan soal perdagangan produk pangan pokok. Hal ini penting karena begitu impor, dampaknya akan serius terhadap harga dan akan berpengaruh ke petani.

“Kita harus menghargai petani yang sudah susah paya berjerih payah dan bekerja keras memberikan kepada kita supply pangan. Saya berharap berdasarkan data-data BPS itu memang sudah cukup stok kita. Nah justru yang menurut saya kita penting dorong tadi bagaimana kita harus meningkatkan serapan gabah dari para petani itu ini kita harus lakukan dengan masif sehingga stok pangan kita di lapangan benar-benar cukup,” tuturnya.

BPS  mengatakan, terjadi surplus  beras 4,8 juta ton. Karena itu, soal stok itu yang harus dipecahkan persoalannya. Sebagian ada di Bulog, sebagian ada di penggilingan, sebagian ada di masyarakat, sebagian juga ada di horeka.

Karena itu Arif menilai, soal data menjadi sesuatu yang sangat penting untuk dipegang. Apalagi pemeirntah memiliki agenda untuk terus meningkatkan kesempurnaan akurasi data, sehingga instansi yang ada di negara ini mengacu pada satu data.

“Karena itu kalo ada isu-isu berkaitan dengan impor terus terang saya juga ingin menanyakan kira-kira dasarnya apa? Kalau dasar dari BPS yang memiliki otoritas untuk mengeluarkan data sudah jelas tentang tidak perlunya impor,” kata Arif.

 Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANIAtau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klikmyedisi.com/sinartani/

Reporter : Humas Ditjen Tanaman Pangan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018