Saturday, 29 January 2022


Praktek Pertanian Konvensional Wajib Dikurangi

03 Nov 2021, 14:45 WIBEditor : Yulianto

Mentan SYL saat Seminar Nasional Peragi | Sumber Foto:Julian

TABLOIDSINARTANI.COM, Bandung---Makin besarnya tantangan pembangunan pertanian mengharusnya sistem pertanian Indonesia beralih dari konvesional ke pertanian berkelanjutan yang ramah lingkungan. Untuk itu, perlu mendorong peningkatan pemahaman pelaku usaha dan dukungan kebijakan pemerintah, serta jaminan harga.

Dekan Fakulitas Pertanian Universitas Padjajaran, Medy Rachmadi menilai, pertanian konvesional harus mulai dikurangi. Praktek konvensional masih dilakukan petani karena pemahaman terhadap ramah lingkungan masih kurang. Dukungan kebijakan dan jaminan harga juga diperlukan untuk untuk menumbuhkan pertanian berkelanjutan.

“Pertanian konvensional berpotensi penurunkan keanekaragaman hayati dan berkotribusi pada perubahan iklim, bukan hanya hanya Indonesia tapi dunia. Usaha tani tersebut juga membuat pertanian tidak lestasi dan berkelanjutan,” tuturnya saat Seminar Nasional Pertanian Berkelanjutan yang diselenggarakan Himpunan Agronomi Indonesia (Peragi) Komda Jawa Barat, Rabu (3/11).

Pertanian berkelanjutan menurut Medy, bertujuan untuk perbaikan kualitas lingkungan, memperpanjang nilai guna lahan, mengembalikan kesuburuan lahan dan mengurangi polusi. “Usaha tersebut dibangun dalam prespekif berkelanjutan dengan melibatkan disiplin keilmuan untuk mendukung produktivitas,” katanya.

Sementara itu Rektor Universitas Padjajaran, Prof. Rina Indiastuti mengatakan, pertanian berkelanjutan dilakukan dengan pengusahaan lahan dan sumberdaya alam berbasis kesejahteraan petani. Universitas Padjajaran mendukung pertanian berkelanjutan yang merupakan agenda global SDG’s. “Kami memiliki SDG’s centre. Pilar SDG’s  telah diadopsi 272 universitas di berbagai negara,” ujarnya.

Karena itu Rina menilai, pentingnya pertanian berkelanjutan untuk menjawab tantangan pemenuhan pangan masa depan. Universitas Padjajaran menjalin kemitraan, termasuk Peragi melahirkan pemikiran baru dan prototipe pembangunan pertanian berkelanjutan, terutama untuk mendukung swasembada pangan.

Pertanian di tengah Covid-19

Ketua Umum Perhimpunan Agronomi Indonesia (Peragi), Andi M. Syakir mengatakan, di tengah kontraksi ekonomi yang menyebabkan pertumbuhan PDB Indonesia negatif, justru PDB pertanian positif. Pertanian adalah bantalan dan sekoci yang mengangkat pembangunan pertanian.

“Indonesia tertolong dengan sumberdaya alam pertanian. Saat pandemi banyak terjadi pemutusan tenagar kerja, pertanian justru menjadi penampung tenaga kerja terbesar,” katanya.

Syakir berharap, anggota Peragi sebagai inventor yang merupakan media untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan kemandirian pangan. Invesi bukan hanya energi potensial, tapi harus ditransformasikan untuk bisa memberikan kemaslahatan.

“Saya optimistis, tapi PR memang masih banyak. Misalnya ekspor produk pertanian sebagian besar masih raw  meterial. Jadi ke depan perlu hilirisasi untu mewujudkan daya saing. Jadi teknologi itu penting,” tegasnya.

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL) saat memberikan sambutan mengatakan, pertanian tidak hanya untuk memenuhi pangan rakyat Indonesia 273 juta orang, tapi juga menjadi lapangan kerja dan basic ekonomi. Saat pandemi ini, ekspor pertanian tahun 2021 tembus di atas 49 persen.

“Ini tanda pertanian cukup memberikan kekuatan dan keyakinan, jika dikelola dengan lebih baik akan menjadi sumber kekuatan negara,” tegasnya. Karena itu SYL berharap Peragi bisa memberikan sumbangan pemikiran dalam pembangunan pertanian. Bukan hanya sebagai konsep, tapi  bermuara pada tahap  untuk memberikan sumbangan terhadap pembangunan pertanian.

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018