
Sekretaris Jenderal Perkumpulan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (PERPADI), Burhanuddin (kiri) bersama Ketua Perpadi kepri, Syamsul
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Salah satu tantangan besar yang sedang dihadapi industri penggilingan padi Indonesia saat ini adalah ketimpangan antara jumlah unit usaha yang beroperasi dengan ketersediaan bahan baku (padi).
Sekretaris Jenderal Perkumpulan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (PERPADI), Burhanuddin menganggap, berdasarkan data yang dihimpun PERPADI, saat ini terdapat sekitar 150 ribu unit penggilingan padi yang tersebar di seluruh provinsi di Tanah Air. Angka ini dinilai sudah jauh melampaui kapasitas pasokan gabah hasil panen nasional.
Kondisi tersebut memicu persaingan perebutan bahan baku yang semakin ketat di lapangan. Akibatnya, harga gabah di tingkat petani sering melonjak tidak wajar. Di sisi lain, banyak unit penggilingan padi yang terpaksa beroperasi tidak maksimal, bahkan berhenti berproduksi karena tidak mendapatkan pasokan gabah yang cukup.
“Ketimpangan ini pada akhirnya juga berdampak pada ketidakstabilan harga beras di pasaran. Bahkan kadang merugikan petani karena tidak memiliki tempat menjual hasil panen, maupun merugikan konsumen karena harga beras yang berfluktuasi tajam,” kata Burhanuddin di sela-sela pameran INAGRITECH 2026 di Jakarta, Selasa (28/7).
Revitalisasi Penggilingan Padi
Untuk menjawab tantangan tersebut, PERPADI tengah menjalankan program Revitalisasi Penggilingan Padi secara menyeluruh di seluruh wilayah Indonesia. Program ini tidak hanya menyasar pada penggantian mesin produksi, melainkan mencakup penyesuaian kapasitas usaha agar seimbang dengan ketersediaan bahan baku, hingga peningkatan kemampuan sumber daya manusia pelaku usaha.
Salah satu langkah utama yang menjadi prioritas saat ini adalah migrasi penggunaan sumber energi. Selama ini, sebagian besar mesin penggilingan padi masih mengandalkan bahan bakar minyak jenis solar yang harganya terus berfluktuasi dan memberikan beban besar pada biaya operasional. ”Kami mendorong seluruh anggotanya dan pelaku usaha lain untuk beralih menggunakan tenaga listrik sebagai penggerak mesin utama,” katanya.
Berdasarkan perhitungan dan pengalaman nyata dari unit usaha yang sudah melaksanakannya, peralihan dari solar ke tenaga listrik mampu menekan biaya operasional penggilingan hingga sekitar 50 persen. Penghematan yang sangat besar ini tentu akan meningkatkan daya tahan dan daya saing usaha.
Dengan demikian menurut Burhanuddin, sehingga pelaku usaha tetap bisa membeli gabah dengan harga layak bagi petani sekaligus menjaga harga jual beras tetap stabil dan terjangkau masyarakat.
”Kami terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah, PLN, serta pihak terkait lainnya untuk mempermudah proses pemasangan sambungan listrik industri maupun penyesuaian daya bagi para pengusaha penggilingan padi,” ujarnya.
Selain aspek energi, revitalisasi juga mencakup modernisasi peralatan produksi agar proses pengolahan gabah menjadi beras berjalan lebih efisien, tingkat kerusakan beras menurun, rendemen hasil giling meningkat, serta kualitas beras yang dihasilkan lebih seragam dan sesuai standar mutu yang ditetapkan.
PERPADI juga sangat memperhatikan aspek tata kelola manajemen usaha yang baik dan benar. Banyak unit usaha yang selama ini berjalan secara sederhana, sehingga sulit untuk mendapatkan dukungan pembiayaan dari lembaga keuangan, mengikuti program pemerintah, maupun menjangkau pasar yang lebih luas.
Karena itu, program pembinaan juga difokuskan pada penyusunan sistem pencatatan administrasi yang rapi, penyusunan laporan keuangan yang dapat dipertanggungjawabkan, hingga pemenuhan kewajiban kepatuhan terhadap regulasi perpajakan dan perizinan usaha.
Dalam menjalankan transformasi ini, PERPADI juga tidak melupakan aspek pelestarian lingkungan hidup yang kini menjadi perhatian dunia maupun kebijakan utama pemerintah. Setiap ton gabah yang digiling akan menghasilkan jumlah limbah sekam padi yang cukup besar. Selama ini sekam padi seringkali hanya ditumpuk atau dibakar begitu saja, yang selain merusak lingkungan juga membuang potensi nilai ekonomi yang besar.
PERPADI kini mendorong pengembangan inovasi pemanfaatan sekam padi menjadi bahan bakar alternatif, bahan baku pupuk organik, bahan pembuatan karbon aktif, hingga bahan kerajinan. Langkah ini selaras dengan target penurunan emisi karbon nasional, sekaligus memberikan pendapatan tambahan bagi pelaku usaha penggilingan padi.
Prinsip dasar yang PERPADI pegang adalah tidak ada satu pun unit usaha yang ditinggalkan. Baik yang sudah terdaftar secara resmi menjadi anggota PERPADI maupun yang belum, semuanya masuk dalam jangkauan pembinaan, pendampingan, serta pemberian akses informasi dan teknologi.
”Kami ingin seluruh ekosistem tumbuh sehat dan kuat, bukan hanya sebagian pihak saja. Semakin sehat industri penggilingan padi, semakin terjamin kesejahteraan petani, semakin lancar rantai pasokan, dan semakin kuat ketahanan pangan negara kita,” tegas Burhanuddin.