
Mentan Andi Amran Sulaiman saat memantau harga pangan
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Kenaikkan harga pangan saat Ramadhan dan menjelang Hari Raya Idul Fitri menjadi sbuah rutinitas tahunan. Saat itulah para pedagang berharap mendapatkan THR (Tunjangan Hari Raya) dari konsumen. Namun kadang kenaikannya di luar kewajaran. Karena itu, pemerintah berupaya meredam gejolak harga.
Operasi pasar dan Gerakan Pangan Murah menjadi opsi pemerintah dalam hal ini Badan Pangan Nasional untuk menjaga harga pangan tetap stabil selama Ramadan hingga jelang Idul Fitri. Langkah ini menjadi respons atas dinamika harga musiman yang lazim terjadi menjelang dan selama Puasa.
Kenaikan harga pangan memang kadang membuat gerah pemerintah karena akan berefek pada kondisi perekonimian, khusus kenaikan inflasi. Badan Pusat Statistik (BPS) periode Februari 2026 menunjukkan andil kenaikan komoditas pertanian relatif kecil dan seluruhnya berada di bawah 1 persen.
Beberapa komoditas yang tercatat memberikan andil antara lain daging ayam ras (0,09%), cabai rawit (0,08%), ikan segar (0,05%), cabai merah (0,04%), dan tomat (0,02%). Tidak ada komoditas pertanian dengan lonjakan ekstrem yang memicu tekanan inflasi tinggi.
Tiga Komoditas Strategis
Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional, Andi Amran Sulaiman menyoroti kenaikan harga tiga komoditas pangan strategis yang menjadi penyumbang inflasi. Ketiga komoditas tersebut yakni daging sapi, minyak goreng, dan ayam ras. “Ini tiga yang menonjol di inflasi berdasarkan data BPS, yakni ayam ras, minyak goreng, dan daging,” ujar Amran usai Rapat Koordinasi SPHP Daging, Ayam Ras dan Minyak di Jakarta, Rabu (4/3).
Untuk daging sapi, Amran menegaskan, pemerintah telah menerbitkan izin impor sejak Desember 2025. Sebanyak 600.000 ekor sapi hidup dan 280.000 ton daging sapi telah mendapat rekomendasi impor guna menjaga pasokan dalam negeri. Dengan izin yang sudah diterbitkan, ia menilai tidak ada alasan bagi harga daging sapi untuk melonjak.
Namun, hasil pengecekan di lapangan menunjukkan kenaikan harga justru terjadi di tingkat distributor besar atau middle man. Di Bandung, misalnya, harga dilaporkan naik hingga Rp 23.000/kg di level distributor. “Itu kenaikan harga ada di distributor besar, middle man. Jadi ini yang tidak benar,” tegasnya.
Karena itu, Amran meminta Satgas Pangan dan aparat penegak hukum, termasuk Ditkrimsus di seluruh Indonesia, untuk bertindak tegas terhadap pelaku yang memainkan harga. “Bila perlu langsung segel saja. Tidak boleh beri ampun. Ini menyusahkan masyarakat di bulan suci Ramadhan,” ujarnya.
Selain daging sapi, minyak goreng juga menjadi perhatian serius pemerintah. Sebagai produsen minyak sawit terbesar dunia, Indonesia dinilai tidak memiliki alasan kekurangan pasokan. Amran melihat, produksi minyak goreng saat ini dalam kondisi melimpah. Bahkan stok yang pemerintah pegang sebanyak 700.000 ton. Karena itu, kenaikan harga dinilai tidak wajar.
Ia pun mengingatkan produsen dan distributor besar agar tidak bermain-main dengan harga. Pemerintah siap menempuh langkah hukum, baik pidana maupun perdata, bagi pihak yang menjual di atas Harga Eceran Tertinggi (HET).
“Kami sampaikan kepada seluruh pengusaha seluruh Indonesia, aku memohon atas nama pemerintah tidak menaikkan harga di atas harga eceran tertinggi yang ditentukan oleh pemerintah. Sekali lagi jangan ada menaikkan harga,” tegasnya.
Faktor Cuaca
Sementara itu, Direktur Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Bapanas, Maino Dwi Hartono, menjelaskan, kenaikan harga pada sejumlah komoditas banyak dipengaruhi faktor cuaca serta kelancaran distribusi dari daerah produsen, bukan karena keterbatasan stok atau produksi nasional.
Menurutnya, peningkatan kebutuhan masyarakat menjelang Ramadan memang selalu diikuti tekanan harga pada komoditas tertentu. Meski begitu, pemerintah memastikan ketersediaan pangan tetap terjaga dan jalur distribusi berjalan lancar.
“Memasuki Ramadan, kebutuhan masyarakat meningkat dan biasanya diikuti tekanan harga pada komoditas tertentu. Namun hasil pemantauan kami menunjukkan pasokan tersedia, distribusi terus berjalan, dan harga mulai kembali menyesuaikan,” ujarnya dalam keterangan resminya.
Pantauan lapangan yang dilakukan bersama Satgas Sapu Bersih (Saber) Pelanggaran Harga, Keamanan, dan Mutu Pangan menunjukkan mayoritas komoditas berada pada level stabil. Selain pemantauan langsung, pemerintah juga memperkuat distribusi bahan pangan strategis melalui jaringan resmi, terutama minyak goreng rakyat, agar menjangkau masyarakat hingga wilayah dengan akses terbatas.
Upaya ini menjadi bagian dari strategi menjaga keseimbangan antara pasokan dan kebutuhan yang terus bergerak dinamis. Tak hanya memastikan stok tersedia, Maino mengatakan, pemerintah juga aktif melakukan intervensi pasar. Bersama pemerintah daerah, Bapanas menggencarkan Operasi Pasar dan Gerakan Pangan Murah (GPM) di berbagai wilayah, khususnya daerah yang berpotensi mengalami lonjakan harga.
Program ini diharapkan mampu menekan spekulasi harga sekaligus memperpendek rantai distribusi yang kerap menjadi pemicu kenaikan. Operasi pasar juga menjadi instrumen penting menjaga stabilitas harga sekaligus memastikan masyarakat memperoleh bahan pangan dengan harga wajar sepanjang Ramadan hingga Idul fitri.
“Yang kita jaga bukan hanya ketersediaan, tetapi juga kelancaran distribusi supaya masyarakat bisa mendapatkan pangan dengan mudah dan harga tetap wajar,” kata Maino.
Sementara itu Pakar Ekonomi Universitas Indonesia, Ninasapti Triaswati mengaku bersyukur atas terkendalinya inflasi pangan selama Februari atau bertepatan dengan Ramadan 2026 yang berada di angka 0,68 persen. Angka ini mencerminkan kenaikan harga yang relatif terkendali, ditopang oleh pasokan pangan yang memadai dan distribusi yang berjalan lancar selama Ramadan.
Menurutnya, derdasarkan data historis lima tahun terakhir, inflasi hampir selalu terjadi pada momen Ramadan. Namun, inflasi Februari 2026 lebih rendah dibanding Ramadan April 2022 yang mencapai 0,95 persen dan jauh di bawah lonjakan Maret 2025 yang sempat menembus 1,65 persen.
Ninasapti, menilai capaian tersebut menunjukkan bahwa sektor pangan tidak menjadi sumber tekanan inflasi utama pada Ramadhan tahun ini, bahkan berperan sebagai kekuatan penyangga di tengah gejolak global, termasuk konflik antarnegara yang terjadi di Iran.
“Kalau melihat harga pangan dari bulan ke bulan juga sangat terkendali di dalam negeri. Tapi yang dikhawatirkan adalah faktor luar negeri, perang yang terjadi telah menyebabkan Selat Hormuz ditutup,” ujarnya.