OLEH : ENTANG SASTRAATMADJA
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta - Sekitar 30 tahun lalu, saya sempat menulis artikel di salah satu koran nasional tentang benarkah anak muda sekarang enggan menjadi petani ? Apa yang dituliskan saat itu, ternyata masih relevan dengan apa yang terjadi sekarang.
Persoalan ketidak-tertarikan anak muda untuk berkiprah menjadi petani, memang telah mengemuka sejak lama. Anak muda di pedesaan tampak lebih memilih untuk menjadi buruh kasar di perkotaan ketimbang harus bekerja di sawah ladang.
Bahkan tidak sedikit yang memilih menjadi tukang ojek. Profesi petani betul-betul sangat tidak menarik. Pertanyaan nya adalah mengapa profesi petani menjadi tidak menarik bagi anak muda ?
Jawaban atas pertanyaan ini, tentu bisa macan-macam, tergantung dari sisi mana memandang nya. Orang boleh saja menjawab bahwa menjadi petani saat ini, bukanlah pilihan yang tepat.
Tidak ada satu jaminan pun yang menyatakan menjadi petani bakalan mampu hidup sejahtera. Apalagi kalau lahan sawah yang digarap nya hanya 0,25 hektar. Tapi ada juga yang menjawab menjadi petani tanpa memiliki lahan sawah sama saja dengan bohong.
Seorang petani pantas disebut berdaulat sekira nya mereka memiliki lahan sawah untuk digarap nya. Arti nya kedaulatan petani terletak pada lahan sawah yang dimiliki nya.
Ada nya fenomena keengganan anak muda untuk jadi petani, seperti nya penting disikapi secara serius. Sebagai profesi, petani memang tidak menjanjikan. Beda sekali dengan profesi Pegawai Negeri. Tidak sama dengan pekerja swasta yang bekerja di kantoran.
Jadi petani pasti tidak akan memperoleh gaji tetap. Apalagi mendapat penghadilan ratusan juta rupiah per bulan nya. Tidak ada juga tunjangan kinerja. Apalagi yang nama nya mobil atau motor dinas. Petani pasti tidak memiliki kantor megah lengkap dengan AC.
Petani pasti tidak akan mengikuti pertemuan dengan berpakaian jas dan dasi. Petani sangat susah untuk bisa tampil menjadi nara sumber dalam berbagai seminar atau lokakarya. Petani hanya faham bercocok-tanam. Petani cukup cerdas untuk melakukan pemupukan.
Sayang, petani kita tidak tahu dengan persis mengapa dana bantuan sosial di korupsi. Bukankah kalau menyunat hak orang miskin merupakan dosa besar ? Petani juga sering bertanya mengapa di saat musim tanam tiba, kok pupuk bersubsidi menjadi hilang di pasaran ?
Itulah potret diri petani. Sebuah gambaran anak bangsa yang kehidupan nya sering dirundung malang. Mereka pantas diberdayakan bahkan dimartabatkan kehidupan nya. Mereka perlu dibela dan dilindungi. Lebih jauh nya lagi, mereka perlu disiapkan untuk tampil menjadi warga bangsa yang layak hidup di atas tanah merdeka ini.
Atas ketidak-jelasan jaminan kehidupan inilah yang membuat anak muda di pedesaan malas untuk berkiprah menjadi petani. Terlebih-lebih diamanatkan oleh orang tua mereka yang sekarang berprofesi sebagai petani agar anak-anak nya tidak boleh lagi menjadi petani. Para orang tua mereka menginginkan agar anak-anak mereka menjadi pegawai negeri atau bekerja di perusahaan swasta.
Memudar nya kharisma petani dalam kehidupan nyata di lapangan, membuat anak muda berpikir berkali-kali jika diri nya harus berprofesikan seorang petani. Dihadapkan pada hal yang demikian, sebaik nya Pemerintah segera membuat langkah yang sifat nya terobosan cerdas.
Kita ingin agar dibangun persepsi baru di kalangan anak muda bahwa berprofesi sebagai petani tidaklah akan membuat kehidupan nya jadi sengsara. Jaminan bahwa profesi petani akan dapat membawa suasana hidup yang sejahtera, sudah saat nya dirancang oleh Pemerintah.
Berikan bukti kepada anak muda bahwa profesi petani pun membawa anak muda menjadi seorang konglomerat. Petani bisa juga menghantarkan diri nya untuk menjadi pejabat publik sekelas Menteri. Bahkan kehadiran negara dalam kehidupan petani, betul-betul akan memberi kepastian terhadap hal-hal yang disampaikan diatas.
Kini inti masalah nya sudah mulai tergambarkan. Pertanyaan saya 30 tahun lalu, kini semakin jelas jawaban nya. Kita ingin agar Pemerintah segera menyiapkan "early warning" untuk menjawab nya dan tidak lagi hanya menjadi "pemadam kebakaran" atas masalah yang muncul di tengah-tengah kehidupan.
(PENULIS, KETUA HARIAN DPD HKTI JAWA BARAT).