Sabtu, 01 Oktober 2022


Mengurai Kelayakan Debitur KUR Sektor Pertanian

16 Sep 2022, 15:08 WIBEditor : Herman

Lahan Pertanian | Sumber Foto:Ist

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Untuk meningkatkan daya tarik petani dalam memanfaatkan KUR, Kementerian Pertanian mengembangkan model generic penyerapan KUR pertanian yaitu pola kemitraan berbasis klasterisasi bekerjasama dengan offtaker/standy buyers/penjamin pasar.

Model ini diamini Direktur Pembiayaan, Ditjen PSP, Indah Megahwati, menurutnya dengan target penyaluran KUR sektor pertanian tahun 2022 sebesar 90 trilliun, tentunya diperlukan satu model/skema yang dapat mengakselerasi penyerapan KUR sektor pertanian, skema ini sangat baik.

Dukungan serupa juga disampaikan oleh Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso, bahwa Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Industri Jasa Keuangan (IJK) berkomitmen untuk terus mendukung dan memperluas akses keuangan bagi petani melalui pembentukan ekosistem pembiayaan Kredit Usaha Rakyat (KUR) klaster sektor pertanian dan peternakan.

Namun demikian, untuk menciptakan ekosistim secara lengkap dari hulu ke hilir, yang adaptif mendukung model kemitraan berbasis klasterisasi ini, tidaklah semudah membalikan telapak tangan.

“Pemerintah perlu meninjau ulang skema pembiayaan yang lebih ramah terhadap petani. Tidak jarang petani kesulitan mendapatkan modal dari Bank disebabkan petani tidak memenuhi creditworthiness (kelayakan kredit) yang dipersyaratkan oleh perbankan,” ungkap Peneliti CIPS, 2011, Aditya Alta.

KUR memang sangat diperlukan bagi petani tetapi petani masih dipandang sebelah mata oleh perbankan dalam penyaluran kreditnya.

Terkait dengan kelayakan petani untuk mendapatkan KUR, artikel ini akan mengulas tentang kelayakan debitur KUR di sektor pertanian dengan menggunakan pendekatan analisis/prinsip 6C (Character, Capacity/Cashflow, Capital, Condition, Collateral dan Constraint) yang selama ini dipegang teguh oleh perbankan dalam setiap kegiatan analisis penyaluran kredit.

 

Analisis Character (Karaketer)

Secara umum, petani Indonesia rata-rata berpendidikan antara SD tidak lulus–SMA. Pendidikan yang rendah ini membuat kurangnya wawasan dan pengetahuan sehingga mudah dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu.

Hal ini ditegaskan oleh Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Suhariyanto hal tersebut perlu menjadi perhatian bahwa saat ini sektor pertanian didominasi oleh mereka yang kurang berpendidikan dan mereka yang sudah lanjut usia.

Efek kurangnya pendidikan juga mempengaruhi mindset petani terhadap bank. petani beranggapan bahwa bank adalah sesuatu yang eksklusif, tempat pengusaha dan konglomerat, sehingga mereka merasa enggan atau tidak layak berhubungan dengan bank.

Petani pada umumnya menyukai hal-hal yang sederhana (tidak ruwet). Petani lebih memilih meminjam uang dari rentenir mengingat berbagai kemudahan akses yang diberikan. Petani tidak perlu meninggalkan pekerjaan untuk mendapatkan utang karena rentenir langsung datang ke rumah. Pencairan uang juga tidak membutuhkan waktu yang lama dan juga rentenir tidak mensyaratkan agunan.

Reporter : Santosa Raharjo, SP, M.Si, Analis PSP Muda
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018